Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 19 Mei 2026 | 18.23 WIB

Ebola dan Hantavirus Makin Sering Muncul, Pakar Peringatkan Krisis Kesiapsiagaan Dunia Kian Nyata

Pos pemeriksaan cuci tangan dan skrining suhu bagi seluruh pengunjung serta pasien di Rumah Sakit Kyeshero sebagai bagian dari langkah pencegahan Ebola di Goma, Republik Demokratik Kongo, 18 Mei 2026. (The Guardian) - Image

Pos pemeriksaan cuci tangan dan skrining suhu bagi seluruh pengunjung serta pasien di Rumah Sakit Kyeshero sebagai bagian dari langkah pencegahan Ebola di Goma, Republik Demokratik Kongo, 18 Mei 2026. (The Guardian)

JawaPos.com — Penyakit infeksi seperti Ebola dan hantavirus dilaporkan semakin sering muncul dan menimbulkan dampak yang lebih luas di berbagai wilayah dunia. Para pakar kesehatan global memperingatkan bahwa dunia kini menghadapi peningkatan risiko wabah yang tidak hanya lebih sering terjadi, tetapi juga lebih sulit dikendalikan. 

Situasi ini memperlihatkan bahwa sistem kesehatan global belum cukup siap menghadapi ancaman penyakit menular yang terus berkembang. Laporan terbaru dari Global Preparedness Monitoring Board (GPMB) menegaskan bahwa dunia berada dalam kondisi yang semakin rentan terhadap wabah penyakit infeksi. 

Lembaga tersebut menyebut bahwa risiko pandemi saat ini bergerak lebih cepat dibandingkan investasi kesiapsiagaan yang dilakukan negara-negara di dunia. Dalam laporan itu ditegaskan bahwa “dunia belum benar-benar menjadi lebih aman secara signifikan”, meskipun berbagai upaya telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir.

Dilansir dari The Guardian, Selasa (19/5/2026), laporan tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian global terhadap dua wabah sekaligus, yakni Ebola di Afrika dan kasus hantavirus yang dikaitkan dengan sebuah kapal pesiar. Pada saat yang sama, sedikitnya 87 kematian akibat Ebola di Republik Demokratik Kongo telah mendorong deklarasi darurat kesehatan masyarakat internasional.

GPMB menjelaskan bahwa meningkatnya frekuensi dan dampak wabah dipengaruhi oleh berbagai faktor struktural, termasuk krisis iklim yang memperluas wilayah penyebaran penyakit, serta konflik bersenjata yang melemahkan sistem kesehatan lokal. Selain itu, fragmentasi geopolitik dan kepentingan ekonomi juga disebut menghambat kerja sama global yang dibutuhkan untuk merespons wabah secara cepat dan terkoordinasi.

Di Afrika, upaya penanganan wabah Ebola terus dilakukan secara intensif oleh otoritas kesehatan di Republik Demokratik Kongo dan Uganda. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa status darurat internasional telah ditetapkan menyusul meningkatnya jumlah korban jiwa. Situasi ini menunjukkan kembali bagaimana Ebola tetap menjadi ancaman serius meskipun dunia telah memiliki pengalaman panjang dalam menangani wabah tersebut.

Di sisi lain, perhatian global juga tertuju pada kasus hantavirus yang terdeteksi pada kapal pesiar. Dalam pembukaan Majelis Kesehatan Dunia di Jenewa, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut bahwa kedua wabah tersebut merupakan bagian dari krisis kesehatan yang lebih luas. Ia menegaskan bahwa dunia sedang menghadapi pola ancaman yang berulang dan semakin kompleks.

Sementara itu, WHO melalui perwakilannya di Republik Demokratik Kongo, Anne Ancia, melaporkan bahwa stok alat pelindung diri di ibu kota Kinshasa telah habis digunakan untuk merespons lonjakan kasus. Organisasi tersebut kini menyiapkan pengiriman tambahan dari gudang logistik di Kenya guna memperkuat respons lapangan. Sejumlah lembaga kemanusiaan seperti International Rescue Committee dan Médecins Sans Frontières juga telah dikerahkan untuk membantu penanganan darurat.

Profesor Matthew Kavanagh dari Georgetown University Center for Global Health Policy & Politics menyoroti bahwa pemangkasan bantuan kesehatan global memperburuk respons terhadap wabah. Ia menyatakan, “Karena pengujian awal menargetkan jenis Ebola yang salah, kami mendapatkan hasil negatif palsu dan kehilangan waktu respons berharga. Ketika alarm akhirnya dibunyikan, virus sudah menyebar melalui jalur transportasi utama dan melintasi batas negara.”

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore