
Baterai di fasilitas ladang surya di Antofagasta, Chili / Foto: (The New York Times)
JawaPos.com — Gangguan pada rantai pasok minyak global akibat ketegangan geopolitik mempercepat pergeseran menuju energi terbarukan. Di tengah tekanan tersebut, sektor energi angin dan surya menunjukkan penguatan signifikan, baik dari sisi biaya maupun skala adopsi.
Dilansir dari The New York Times, Selasa (12/5/2026), kondisi ini terjadi ketika jalur distribusi minyak strategis global berada dalam tekanan serius. Situasi tersebut mempercepat transformasi energi yang sebelumnya berlangsung bertahap menjadi lebih agresif.
Utusan Iklim PBB Simon Stiell menyoroti adanya paradoks dalam dinamika energi global. Dia menyebut, “terdapat ironi besar ketika para pemimpin yang berupaya mempertahankan ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil justru tanpa sengaja mempercepat ledakan energi terbarukan global.”
Dalam konteks geopolitik, Amerika Serikat masih mendorong ekspansi minyak dan gas alam. Sementara itu, konflik di Timur Tengah turut mengganggu jalur strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi rute sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Di sisi lain, Laporan terbaru dari International Renewable Energy Agency (IRENA) yang dirilis pada Rabu menegaskan bahwa di tengah tekanan pasokan energi fosil, biaya energi angin dan surya terus menurun. Ketika dikombinasikan dengan sistem penyimpanan baterai, energi terbarukan kini mampu menyediakan listrik yang lebih stabil dengan biaya yang semakin kompetitif dibanding bahan bakar fosil.
Lembaga yang berbasis di Abu Dhabi tersebut juga mencatat bahwa kelemahan utama energi surya dan angin, yakni sifat intermiten, mulai teratasi melalui kemajuan teknologi penyimpanan energi. Direktur Jenderal IRENA Francesco La Camera menegaskan, “energi terbarukan sedang memasuki fase baru. Dengan penyimpanan, energi ini akan menjadi dominan dalam sistem energi. Tidak ada keraguan.”
Secara global, data menunjukkan lonjakan ekspor panel surya Tiongkok yang mencapai rekor pada Maret, dua kali lipat dibanding bulan sebelumnya. India, Nigeria, dan Australia menjadi pembeli utama, meski sebagian lonjakan tersebut dipengaruhi antisipasi perubahan kebijakan harga di Tiongkok.
Perubahan juga terlihat pada sisi konsumsi, dengan meningkatnya penjualan kendaraan listrik di Eropa dan Asia serta pertumbuhan pasar pompa panas di Eropa. Hal ini menandakan pergeseran penggunaan energi yang meluas di luar sektor listrik konvensional.
Namun, para analis menilai transisi ini belum merata. Nat Bullard, analis energi di Singapura, menyebut bahwa meskipun arah jangka panjang sudah jelas, “tidak semua negara memiliki kapasitas finansial untuk melakukan peralihan penuh pada sistem listrik mereka.”
Laporan IRENA turut mencatat penurunan biaya baterai hingga 93 persen sejak 2010. Di beberapa proyek di Tiongkok, listrik kini dapat diproduksi dengan biaya hingga separuh dari gas alam. Bahkan di negara produsen minyak besar seperti Arab Saudi, energi surya mulai mencapai tingkat kompetitivitas yang signifikan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Rapid Vienna vs Hearts: Tuan Rumah Terancam Tumbang di Liga Konferensi Eropa
Prediksi Skor Viking FK vs Dinamo Zagreb: Purgeri Diprediksi Menang Tipis di Norwegia!
Desta Resmi Hengkang dari Vindes, Perusahaan Berjalan Bersama Vincent Rompies
Robot Humanoid Tiongkok Kalahkan Rekor Lari Usain Bolt, Lalu Terbakar
Prediksi Skor AEK Athens vs Levski Sofia di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Tuan Rumah Menang!
Prediksi Skor Celta Vigo vs Osasuna di Liga Spanyol 2026/2027: Los Celestes Bakal Raih 3 Poin!
Prediksi Skor Celje vs Slovan Bratislava di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Berujung Penalti?
Prediksi Skor Lyon vs Fenerbahce di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Kans Les Gones Menang!
Kiai Ta’in Tebuireng Dipolisikan Jelang Muktamar NU, TAAT Pasang Badan
Prediksi Skor Rapid Wien vs Hearts di Play-off Liga Konferensi Eropa: Tim Tamu Dijagokan Lolos!
