
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: (Gulf News)
JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diam-diam ingin segera mengakhiri konflik dengan Iran dalam beberapa pekan ke depan. Hal ini dikatakan Trump secara tertutup kepada para penasihatnya guna menghindari perang berkepanjangan.
Menurut The Wall Street Journal, dalam pemberitaannya pada Rabu (25/3), mengutip sejumlah sumber yang namanya dirahasiakan,Trump meyakini konflik tersebut dapat berakhir dalam hitungan pekan dan meminta para pembantunya tetap sejalan dengan kerangka waktu tersebut.
Pejabat pemerintahan juga berharap situasi dapat diselesaikan sebelum pertemuan yang diperkirakan berlangsung pada pertengahan Mei dengan Presiden China Xi Jinping, tulis laporan tersebut.
Serangan AS ke Iran menambah tekanan bagi Trump dalam menyeimbangkan kebijakan luar negeri dengan prioritas domestik, termasuk pemilu paruh waktu yang akan datang.
Sejumlah sekutu mendorong pendekatan yang lebih agresif, sementara lainnya mengedepankan diplomasi, tulis laporan itu.
Pada Rabu, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kepada wartawan bahwa Trump menginginkan penyelesaian damai dengan Iran, namun siap meningkatkan tekanan secara signifikan jika Teheran tidak menerima “realitas situasi saat ini,” setelah Washington menunda rencana serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran usai “pembicaraan produktif” dalam tiga hari terakhir.
Iran berulang kali membantah adanya pembicaraan tersebut.
Leavitt mengatakan jika Iran tidak mengakui bahwa mereka “telah dikalahkan secara militer,” Trump akan memastikan negara itu “menerima pukulan yang lebih keras dari sebelumnya.”
Ia menambahkan bahwa presiden “tidak menggertak dan siap mengambil langkah tegas.”
AS dilaporkan telah mengirimkan rencana 15 poin kepada Iran yang mencakup program nuklir dan rudal balistik Teheran serta keamanan maritim di Selat Hormuz.
Iran menolak proposal tersebut dengan menyatakan bahwa setiap gencatan senjata akan berlangsung sesuai syarat dan waktu yang ditetapkannya sendiri, serta mengajukan lima syarat untuk mengakhiri perang, termasuk penghentian penuh terhadap “agresi dan pembunuhan.”
Terkait kemungkinan pembicaraan tatap muka, termasuk laporan mengenai potensi pertemuan di Pakistan, Leavitt mengatakan bahwa tidak ada yang dapat dianggap resmi sebelum diumumkan oleh Gedung Putih, serta mengingatkan agar tidak berspekulasi mengenai rencana pembicaraan pada akhir pekan ini.
AS dan Israel telah melancarkan serangan terhadap Iran sejak 28 Februari, yang menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei, serta memicu serangan balasan Iran di kawasan dan gangguan besar terhadap arus minyak global.
