
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, menghadiri Sidang Pertama Majelis Rakyat Tertinggi ke-15 di Gedung Mansudae Assembly Hall, Pyongyang, Korea Utara (Parade)
JawaPos.com - Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, kembali terpilih sebagai Presiden Urusan Negara setelah meraih dukungan hampir mutlak dalam proses politik yang kembali menegaskan pola konsolidasi kekuasaan di negara tersebut. Hasil ini tidak hanya mencerminkan dominasi internal, tetapi juga memperlihatkan bagaimana legitimasi politik dibangun dan dipertontonkan ke publik global.
Penetapan kembali Kim sebagai kepala Komisi Urusan Negara, lembaga tertinggi dalam pengambilan kebijakan diumumkan melalui kantor berita resmi KCNA (Korean Central News Agency). Jabatan ini menempatkannya sebagai figur utama dalam pengendalian arah politik, militer, dan strategi nasional Korea Utara, sekaligus menegaskan kesinambungan kekuasaan dinasti Kim.
Melansir dari CNA, Senin (23/3/2026), Sidang Pertama Majelis Rakyat Tertinggi periode ke-15 pada 22 Maret secara resmi "memilih kembali Kamerad Kim Jong Un sebagai Presiden Urusan Negara Republik Rakyat Demokratik Korea." KCNA menyebut keputusan ini sebagai "aktivitas kenegaraan pertama" dalam periode parlemen terbaru.
Baca Juga:Kim Jong-Un Sebut Korea Utara Siap Bantu Iran: Satu Rudal Saja Cukup untuk Hancurkan Israel
Dalam laporan yang sama, KCNA menegaskan bahwa pemilihan ulang itu mencerminkan "kehendak dan keinginan bulat seluruh rakyat Korea." Formulasi ini konsisten dengan narasi resmi Pyongyang yang menampilkan kesatuan absolut antara kepemimpinan dan masyarakat, meskipun kerap dipandang skeptis oleh pengamat internasional.
Kritik terhadap proses tersebut sendiri datang dari kalangan analis yang menilai pemilu di Korea Utara tidak bersifat kompetitif. Peneliti dari Korea Institute for Defense Analyses, Lee Ho-ryung, menyebut proses itu sebagai "peristiwa yang sangat dikoreografikan dengan hasil yang telah ditentukan sebelumnya."
Ia menjelaskan, "Sepanjang pemerintahan generasi ketiga, Korea Utara terus menggelar acara semacam ini untuk menunjukkan prosedur formal dalam upaya memperoleh legitimasi politik." Namun, ia menambahkan, "tidak ada yang benar-benar mengharapkan hasil yang berbeda dari proses tersebut."
Secara struktural, sistem politik Korea Utara memang hanya mengajukan satu kandidat di setiap daerah pemilihan. Sebelum sidang berlangsung, sebanyak 687 deputi telah dipilih melalui mekanisme serupa, di mana warga berusia di atas 17 tahun hanya dapat menyetujui atau menolak kandidat tunggal yang diajukan partai berkuasa.
Hasilnya kembali menunjukkan angka nyaris sempurna: 99,93 persen suara mendukung dengan tingkat partisipasi mencapai 99,99 persen. Angka ini oleh pemerintah dianggap sebagai indikator kesadaran politik dan loyalitas rakyat, tetapi oleh pengamat luar dibaca sebagai cerminan kontrol politik yang sangat ketat.
Di sisi lain, visual yang dirilis KCNA memperlihatkan Kim duduk di pusat panggung dengan setelan formal, diapit pejabat tinggi negara, serta berlatar patung besar ayah dan kakeknya. Simbolisme ini memperkuat narasi kesinambungan kekuasaan dinasti yang telah berlangsung sejak negara tersebut didirikan pada 1948 oleh Kim Il Sung.
Kim sendiri mulai memimpin sejak 2011, menggantikan ayahnya, Kim Jong Il. Sejak itu, ia terus memperkuat kendali atas negara yang memiliki kemampuan nuklir, sekaligus membangun citra kepemimpinan yang tidak tergoyahkan di dalam negeri.

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
Prediksi Skor Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026: Team Melli Diterpa Gejolak Geopolitik Tapi Punya Kans Menang
Prediksi Skor Arab Saudi vs Uruguay di Piala Dunia 2026: La Celeste Dijagokan Menang!
