Kantor Google di New York (Freepik/Rawpixel.com)
JawaPos.com - Lanskap kecerdasan buatan global memasuki fase baru yang lebih agresif. Jika selama satu dekade terakhir AI dikenal sebagai alat bantu berbasis percakapan, kini teknologi tersebut bergerak menuju peran yang jauh lebih menentukan: mengambil tindakan secara mandiri dalam sistem ekonomi digital.
Perubahan ini menjadi perhatian utama para pemimpin teknologi dunia seperti Elon Musk, Jeff Bezos, hingga Mark Zuckerberg, yang tengah mempercepat investasi pada AI generatif dan otomatisasi. Namun, arah baru ini menunjukkan bahwa persaingan tidak lagi hanya soal model, melainkan kemampuan eksekusi di dunia nyata.
Mengutip Financial Times, Kamis (19/3/2026), "sebagian besar dari kita telah mengenal kecerdasan buatan dalam bentuk chatbot. Anda mengajukan pertanyaan dan AI memberikan jawaban." Model ini dinilai berisiko rendah karena kesalahan AI umumnya tidak berdampak besar dalam kehidupan nyata.
Baca Juga:Di Tengah Ketegangan AS-Tiongkok, Tim Cook Tegaskan Ketergantungan Apple pada Rantai Pasok Tiongkok
Sebaliknya, paradigma tersebut kini berubah secara fundamental. Laporan itu menegaskan, "agentic AI memecahkan model lama karena sistem ini dapat bertindak secara mandiri. Ketika diberi tugas, teknologi tersebut mampu mencari, membandingkan, mengambil keputusan, hingga mengeksekusi di berbagai sistem digital atas nama pengguna."
Dengan kata lain, jika chatbot hanya merekomendasikan penerbangan, maka AI agen dapat langsung memesan tiket sekaligus menyelesaikan pembayaran dan mengirimkan konfirmasi kepada pengguna.
Lebih jauh, percepatan adopsi teknologi ini justru paling nyata terjadi di Tiongkok. "Kecepatan penerapan di Tiongkok mempercepat garis waktu tersebut jauh lebih cepat," tulis laporan itu, menandai pergeseran pusat inovasi dari Barat ke Asia dalam konteks implementasi.
Raksasa teknologi seperti Alibaba, Tencent, dan Baidu memimpin gelombang ini dengan membangun sistem AI agen yang terintegrasi langsung ke kehidupan sehari-hari. Platform open-source OpenClaw yang dikembangkan oleh Peter Steinberger bahkan memicu eksperimen luas di kalangan pengguna yang mulai mendelegasikan tugas digital rutin kepada AI.
Dalam praktiknya, keunggulan Tiongkok terletak pada integrasi ekosistem digital. "Keunggulan Tiongkok dalam mengembangkan agentic AI adalah bahwa agen ini paling bernilai ketika mereka dapat bertindak," termasuk dalam menyelesaikan transaksi, mentransfer dana, hingga mengoordinasikan layanan dalam satu platform terpadu.
Hal ini diperkuat oleh dominasi super-app seperti WeChat yang memiliki sekitar 1,4 miliar pengguna aktif bulanan. Integrasi pembayaran, logistik, pesan, dan e-commerce menciptakan fondasi ideal bagi AI agen untuk beroperasi tanpa hambatan lintas sistem.
Namun, di balik akselerasi tersebut, risiko juga meningkat. Sistem AI agen masih rentan terhadap kesalahan interpretasi dan celah keamanan. Akses langsung ke pembayaran dan data pengguna membuka potensi konsekuensi nyata, mulai dari transaksi tidak sah hingga kebocoran informasi sensitif.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaysia vs Vietnam: Superkomputer Jagokan The Golden Star Warriors
Prediksi Skor Pisa vs Empoli di Coppa Italia: Azzurri Bisa Menang Lewat Adu Penalti!
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
Prediksi Skor Palermo vs Lecce di Coppa Italia, Inzaghi Siap Bikin Kejutan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Persebaya Surabaya Siapkan Penyerang Pengganti Alex Martins di Super League
Rela Kesampingkan Urusan Pribadi, Perjuangan Ibu Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia
Prediksi Skor Cremonese vs Sampdoria di Coppa Italia, Optimisme Marco Giampaolo
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Prediksi Skor Sassuolo vs Cesena di Coppa Italia: Jay Idzes Berpeluang Starter!
