Logo JawaPos
Author avatar - Image
19 Maret 2026, 21.25 WIB

Dari Hanya Menjawab ke Bertindak: AI Agen Kini Ubah Peta Persaingan Global, Tiongkok Melaju di Depan

Kantor Google di New York (Freepik/Rawpixel.com) - Image

Kantor Google di New York (Freepik/Rawpixel.com)

JawaPos.com - Lanskap kecerdasan buatan global memasuki fase baru yang lebih agresif. Jika selama satu dekade terakhir AI dikenal sebagai alat bantu berbasis percakapan, kini teknologi tersebut bergerak menuju peran yang jauh lebih menentukan: mengambil tindakan secara mandiri dalam sistem ekonomi digital.

Perubahan ini menjadi perhatian utama para pemimpin teknologi dunia seperti Elon Musk, Jeff Bezos, hingga Mark Zuckerberg, yang tengah mempercepat investasi pada AI generatif dan otomatisasi. Namun, arah baru ini menunjukkan bahwa persaingan tidak lagi hanya soal model, melainkan kemampuan eksekusi di dunia nyata.

Mengutip Financial Times, Kamis (19/3/2026), "sebagian besar dari kita telah mengenal kecerdasan buatan dalam bentuk chatbot. Anda mengajukan pertanyaan dan AI memberikan jawaban." Model ini dinilai berisiko rendah karena kesalahan AI umumnya tidak berdampak besar dalam kehidupan nyata.

Sebaliknya, paradigma tersebut kini berubah secara fundamental. Laporan itu menegaskan, "agentic AI memecahkan model lama karena sistem ini dapat bertindak secara mandiri. Ketika diberi tugas, teknologi tersebut mampu mencari, membandingkan, mengambil keputusan, hingga mengeksekusi di berbagai sistem digital atas nama pengguna."

Dengan kata lain, jika chatbot hanya merekomendasikan penerbangan, maka AI agen dapat langsung memesan tiket sekaligus menyelesaikan pembayaran dan mengirimkan konfirmasi kepada pengguna. 

Lebih jauh, percepatan adopsi teknologi ini justru paling nyata terjadi di Tiongkok. "Kecepatan penerapan di Tiongkok mempercepat garis waktu tersebut jauh lebih cepat," tulis laporan itu, menandai pergeseran pusat inovasi dari Barat ke Asia dalam konteks implementasi.

Raksasa teknologi seperti Alibaba, Tencent, dan Baidu memimpin gelombang ini dengan membangun sistem AI agen yang terintegrasi langsung ke kehidupan sehari-hari. Platform open-source OpenClaw yang dikembangkan oleh Peter Steinberger bahkan memicu eksperimen luas di kalangan pengguna yang mulai mendelegasikan tugas digital rutin kepada AI.

Dalam praktiknya, keunggulan Tiongkok terletak pada integrasi ekosistem digital. "Keunggulan Tiongkok dalam mengembangkan agentic AI adalah bahwa agen ini paling bernilai ketika mereka dapat bertindak," termasuk dalam menyelesaikan transaksi, mentransfer dana, hingga mengoordinasikan layanan dalam satu platform terpadu.

Hal ini diperkuat oleh dominasi super-app seperti WeChat yang memiliki sekitar 1,4 miliar pengguna aktif bulanan. Integrasi pembayaran, logistik, pesan, dan e-commerce menciptakan fondasi ideal bagi AI agen untuk beroperasi tanpa hambatan lintas sistem.

Namun, di balik akselerasi tersebut, risiko juga meningkat. Sistem AI agen masih rentan terhadap kesalahan interpretasi dan celah keamanan. Akses langsung ke pembayaran dan data pengguna membuka potensi konsekuensi nyata, mulai dari transaksi tidak sah hingga kebocoran informasi sensitif.

Analis dari MIT Technology Review mengingatkan bahwa perkembangan ini belum sepenuhnya diimbangi kesiapan sistem. "Agen AI memiliki potensi besar, tetapi tingkat kepercayaan publik belum sebanding dengan kemampuan teknologinya," tulis laporan tersebut, menyoroti kesenjangan antara inovasi dan keandalan.

Pada akhirnya, laporan tersebut menyimpulkan bahwa "Tiongkok kemungkinan akan menjadi tempat uji coba sekaligus indikator utama bagi perkembangan agentic AI." Meski Amerika Serikat masih unggul dalam pengembangan model, fragmentasi ekosistem membuat implementasi skala besar lebih rumit. Dalam fase ketika AI mulai bertindak, keunggulan ditentukan oleh eksekusi, dan Tiongkok sudah selangkah di depan.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore