
Sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) dari Iran tiba di Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa (10/03/2026). (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com - Pemerintah Indonesia diminta untuk menyikapi ketegangan geopolitik Timur Tengah di sektor ekonomi. Pasalnya, perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran berpotensi berubah menjadi konflik terbuka yang berkepanjangan.
“Salah satu skenario yang paling ditakuti pasar global dan sudah dilakukan Iran adalah penutupan Selat Hormuz, sebuah jalur pelayaran sempit di Teluk Persia yang selama ini menjadi urat nadi distribusi energi dunia,” kata Pemerhati hubungan internasional (HI) dan investasi Zenzia Sianica Ihza dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (14/3).
Sejalan dengan itu, Zenzia Sianica Ihza juga menyoroti diksi “Siaga Satu” dalam pekan-pekan terakhir ramai diperbincangkan publik setelah Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengumumkan Indonesia dalam status Siaga Satu.
Dia menilai status Siaga Satu itu akan lebih tepat disematkan ke kondisi ekonomi Indonesia menyusul ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran berpotensi berubah menjadi konflik terbuka yang berkepanjangan.
Zenzia berpendapat, setiap hari sekitar 20 persen suplai minyak global melewati Selat Hormuz. Jika jalur itu terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di kawasan Timur Tengah, tetapi juga mengguncang stabilitas ekonomi dunia. Pasar energi global langsung merespons dengan lonjakan harga minyak mentah yang sempat menyentuh 115 AS per barel, tertinggi sejak 2020.
Maka dari itu, bagi Indonesia situasi ini bukan sekadar isu geopolitik jauh di seberang dunia. Ini adalah sinyal siaga satu bagi stabilitas ekonomi nasional. Apalagi lonjakan harga minyak dunia langsung menekan ruang fiskal Indonesia.
Dalam asumsi makro APBN 2026, harga minyak Indonesia (ICP) dipatok sekitar 70 dolar AS per barel. Selisih lebih dari 20 dolar dari asumsi ini menciptakan tekanan besar terhadap anggaran negara.
“Banyak pihak menghitung, setiap kenaikan USD 1 per barel minyak diperkirakan menambah defisit APBN Rp 6,8 triliun. Jika harga minyak mendekati atau bahkan menembus USD 100 per barel, potensi tambahan beban fiskal bisa mencapai ratusan triliun rupiah,” jelasnya.
Situasi ini menempatkan pemerintah pada dilema besar. Antara menjaga stabilitas fiskal atau mempertahankan subsidi energi untuk melindungi daya beli masyarakat. Dalam situasi seperti ini kebijakan ekonomi Indonesia tidak bisa lagi berjalan dalam mode normal. Diperlukan langkah-langkah berani untuk menjaga stabilitas fiskal, menekan inflasi, sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat.
Lonjakan harga minyak hampir selalu diikuti oleh kenaikan harga barang dan jasa. Energi merupakan komponen biaya utama dalam produksi dan distribusi. Ketika harga minyak naik, biaya transportasi meningkat, harga logistik melonjak, dan akhirnya harga kebutuhan pokok ikut terdorong naik. Inflasi energi dapat dengan cepat merembet menjadi inflasi pangan dan inflasi inti.

Prediksi Skor Amerika Serikat vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: The Stars and Stripes Tak Ingin Malu!
Prediksi Skor Swiss vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Granit Xhaka Cs Siap Libas El Khadra Demi Tiket 16 Besar
Prediksi Skor Spanyol vs Austria di Piala Dunia 2026: Lamine Yamal Jadi Pembeda
Prediksi Skor Belgia vs Senegal di Piala Dunia 2026: Setan Merah Emoh Angkat Koper Lebih Dulu!
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di 32 Besar Piala Dunia 2026: Joao Felix Pede Singkirkan Skuad Vatreni!
Prediksi Skor Inggris vs RD Kongo: Bursa Jagokan Three Lions, Opta Beri Peluang Menang 73,9 Persen
Silaturahmi dengan Suporter PSIS, Malut United Pastikan Tak Pakai Nama Semarang dan Siap Mengalah soal Stadion
Ditunggu Saja! Persebaya Surabaya Siapkan 7 Pemain Asing Baru Usai Rombak Skuad Musim Lalu
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Misi Berat Cristiano Ronaldo Cs Lolos ke 16 Besar
