Selat Hormuz adalah salah satu jalur perdagangan minyak utama dunia, yang ditutup buntut perang antara AS-Israel melawan Iran. Penutupan Selat Hormuz diperkirakan bakal mengerek harga minyak dunia. (Google Maps)
JawaPos.com-Ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran mulai berdampak ekonomi luas. Sejumlah negara Teluk mulai meninjau kembali komitmen investasi luar negeri sebagai langkah antisipasi terhadap potensi tekanan anggaran negara.
Laporan media bisnis internasional Financial Times pada Kamis (5/3) menyebut beberapa pemerintah kawasan Teluk sedang evaluasi internal berbagai komitmen investasi global. Langkah ini diambil khawatir konflik antara Iran, AS, Israel bisa berkembang jadi krisis regional panjang dan mahal.
Seorang pejabat negara Teluk mengatakan, eskalasi konflik bisa memengaruhi aktivitas ekonomi, mulai janji investasi negara lain, sponsor olahraga internasional, hingga kontrak bisnis dan kepemilikan aset.
’’Konflik yang melanda kawasan ini dapat berdampak pada berbagai hal, dari komitmen investasi kepada negara atau perusahaan asing, sponsor olahraga, kontrak bisnis dengan investor, hingga kemungkinan penjualan aset,” ujar pejabat tersebut.
Meski demikian, kantor berita Reuters menyebut laporan itu belum bisa diverifikasi secara independen. Financial Times tidak ungkap identitas maupun jabatan pejabat yang beri pernyataan tersebut.
Selama beberapa dekade terakhir, pertumbuhan cepat negara-negara Teluk bergantung pada dua faktor utama: stabilitas kawasan yang membuat kota-kota modern jadi tempat aman bisnis global, dan arus pendapatan besar dari ekspor energi yang relatif tidak terganggu. Namun perkembangan terbaru mengguncang kedua fondasi tersebut sekaligus.
Menurut pejabat sama, sejumlah negara Teluk kini memeriksa kemungkinan menggunakan klausul force majeure dalam kontrak berjalan. Klausul ini biasanya memungkinkan suatu pihak tunda atau batalkan kewajiban kontrak jika terjadi kondisi luar biasa seperti perang atau bencana besar.
’’Beberapa negara Teluk telah memulai peninjauan internal untuk tentukan apakah klausul force majeure dapat diterapkan pada kontrak yang ada, sekaligus evaluasi komitmen investasi saat ini dan masa depan guna kurangi tekanan ekonomi yang diperkirakan muncul akibat perang,” kata pejabat tersebut kepada Financial Times.
Baca Juga: Iran Murka Kapal Perangnya Ditenggelamkan AS: Ancam Konsekuensi Pahit, Selat Hormuz Mencekam
Jika konflik berlanjut dengan intensitas sama, langkah peninjauan ini bisa berdampak pada arus investasi global yang selama ini banyak didorong oleh dana kekayaan negara-negara Teluk. (*)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027, Tuan Rumah Dilarang Kalah!
Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Liga Champions: Skuad Modri Datang dengan Modal Bagus!
Prediksi Levski Sofia vs AEK Athens: Misi Besar Tuan Rumah Kembali ke UCL Usai Absen 2 Dekade
Prediksi Skor Vietnam vs Malaysia Leg 2 Semifinal AFF 2026: The Golden Star Warriors Menuju Final!
Profil Putri Juficha, Miss Earth Indonesia 2025 yang Meninggal di Usia Muda
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Ada Andik Vermansah Hingga Leo Lelis, 6 Mantan Pemain Persebaya Memperkuat Tim Promosi
Prediksi Skor Thailand vs Singapura: Gajah Perang Selangkah Lagi ke Final Piala AFF 2026!
Prediksi Skor Slovan Bratislava vs Celje di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027
