
Cuplikan gambar ini diambil dari siaran televisi pemerintah Iran pada 28 Februari 2026 (Al Jazeera)
Angkatan Laut Iran pada Sabtu (28/2) menyatakan seluruh kapal dilarang melintas hingga pemberitahuan lebih lanjut. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan keputusan tersebut merupakan respons langsung atas apa yang mereka sebut sebagai 'serangan AS dan Israel' terhadap wilayah Iran dalam beberapa jam terakhir.
Media setempat mengutip pejabat senior IRGC yang menyatakan bahwa penutupan selat telah resmi berlaku. Keputusan ini dinilai memiliki implikasi ekonomi dan keamanan yang luas, tidak hanya bagi kawasan, tetapi juga bagi pasar global.
Laporan Reuters menyebut kapal-kapal yang melintas di sekitar perairan tersebut menerima pesan radio berulang dari pihak Iran melalui kanal frekuensi tinggi. Pesan itu memperingatkan bahwa tidak ada kapal tanker yang diizinkan melintasi selat tersebut.
Jalur Vital 20 Persen Minyak Dunia
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati perairan sempit ini setiap hari.
Selat yang terletak di Samudra Hindia tersebut menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman ke Laut Arab, dengan Iran berada di satu sisi dan Oman di sisi lainnya.
Jalur ini menjadi nadi utama pengiriman minyak mentah dari Irak, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, dan Qatar. Diperkirakan 15–20 persen minyak dunia, kondensat, dan produk petroleum, serta lebih dari 30 persen gas alam cair (LNG), melintasi selat tersebut.
Sebanyak 82 persen volume minyak yang dikirim melalui jalur ini menuju Asia, sementara sisanya dikapalkan ke Eropa. Sekitar 24 persen impor LNG China juga melewati Selat Hormuz.
Dalam kondisi normal, 200 hingga 300 kapal melintas setiap hari, bahkan pada jam sibuk, kapal bisa lewat setiap enam menit.
Dengan volume sebesar itu, penutupan total akan memicu guncangan besar di pasar energi. Para analis memperingatkan harga minyak dapat melonjak tajam jika gangguan berlangsung lama.
Harga Minyak Bisa Melonjak Drastis
Setelah serangan Israel terhadap Iran, harga minyak mentah Brent sudah melonjak 13 persen menjadi sekitar USD 78,5 per barel. Saat ini harga masih berada di kisaran USD 80 per barel.
Namun, Iran memperkirakan penutupan penuh Selat Hormuz dapat mendorong harga hingga USD 250 per barel. Proyeksi lebih konservatif dari JPMorgan memperingatkan potensi kenaikan ke level USD 130 per barel, meski tidak menutup kemungkinan harga bergerak lebih tinggi tergantung durasi dan eskalasi konflik.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027, Tuan Rumah Dilarang Kalah!
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
Prediksi Skor Pisa vs Empoli di Coppa Italia: Azzurri Bisa Menang Lewat Adu Penalti!
Prediksi Skor Palermo vs Lecce di Coppa Italia, Inzaghi Siap Bikin Kejutan
Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Liga Champions: Skuad Modri Datang dengan Modal Bagus!
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Prediksi Skor Cremonese vs Sampdoria di Coppa Italia, Optimisme Marco Giampaolo
Prediksi Levski Sofia vs AEK Athens: Misi Besar Tuan Rumah Kembali ke UCL Usai Absen 2 Dekade
Rela Kesampingkan Urusan Pribadi, Perjuangan Ibu Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia
Prediksi Skor Thailand vs Singapura di Semifinal Piala AFF 2026, Gajah Perang Unggul Agregat 3-1
