
Bill Gates, pendiri Gates Foundation yang tengah menata ulang strategi filantropinya menjelang penutupan yayasan pada 2045 (Fortune)
JawaPos.com - Setahun setelah mengumumkan rencana penutupan Gates Foundation pada 2045, Bill Gates mulai merealisasikan perubahan besar dalam pengelolaan yayasannya. Yayasan filantropi terbesar di dunia itu kini memutuskan untuk mempercepat belanja sosial berskala global, sembari memangkas jumlah staf dan menekan biaya operasional agar alokasi dana lebih terkonsentrasi pada program inti.
Kebijakan itu mencerminkan arah baru strategi spending down Gates Foundation, yakni menghabiskan kekayaan yayasan secara terukur dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. Dalam kerangka ini, Gates memilih memprioritaskan dampak program dibandingkan keberlangsungan organisasi, terutama di tengah meningkatnya tekanan global pada sektor kesehatan, pengentasan kemiskinan, dan ketahanan sosial.
Dilansir dari Fortune, Jumat (16/1/2026), Gates Foundation mengumumkan anggaran sebesar 9 miliar dolar AS pada 2026 sekitar Rp 151,9 triliun dengan kurs Rp 16.880 per dolar AS terbesar sepanjang sejarah yayasan. Pada saat yang sama, manajemen menyatakan akan memangkas hingga 500 posisi staf secara bertahap hingga 2030 dari total sekitar 2.375 pegawai.
Sebelumnya, Bill Gates menyampaikan bahwa yayasannya akan membelanjakan sekitar 200 miliar dolar AS dalam 20 tahun sebelum resmi ditutup pada 2045. Pekan ini, dewan pengurus menyetujui anggaran baru yang melampaui rekor tahun lalu sebesar 8,74 miliar dolar AS. Dana tersebut akan memperkuat program kesehatan perempuan, pengembangan vaksin, pemberantasan polio, kecerdasan buatan, serta pendidikan di Amerika Serikat.
Sebagai bagian dari pengetatan, dewan juga membatasi biaya operasional meliputi gaji, infrastruktur, fasilitas, dan perjalanan maksimal 1,25 miliar dolar AS atau sekitar 14 persen dari total anggaran.
CEO Gates Foundation Mark Suzman menegaskan, "Kami akan melakukan ini secara bijaksana, hati-hati, dan sistematis. Kami akan menyesuaikannya setiap tahun. Target 500 orang itu adalah batas maksimum, dan saya sangat berharap kami tidak harus memangkas sebanyak itu."
Menurut Suzman, pembatasan ini penting agar biaya operasional tidak melonjak mendekati 18 persen pada akhir dekade.
"Dewan ingin memastikan yayasan membelanjakan dana secara cermat dan bertanggung jawab, serta memaksimalkan setiap dolar dan sumber daya yang benar-benar sampai kepada mereka yang kami layani," ujarnya.
Di kalangan filantropi global, keputusan Gates Foundation dipandang belum pernah terjadi sebelumnya, mengingat skala aset dan pengaruh yayasan tersebut. Elizabeth Dale, penjabat direktur eksekutif Frey Foundation Chair for Family Philanthropy di Grand Valley State University, menilai penutupan yayasan sebesar Gates menuntut perencanaan strategis yang sangat matang.
"Kesan saya, mereka menghabiskan setahun terakhir untuk benar-benar memfokuskan prioritas dan strategi," ujarnya.
Penajaman prioritas itu tidak terjadi dalam ruang hampa. Perubahan lanskap bantuan global dalam beberapa tahun terakhir turut mendorong yayasan mempercepat langkahnya. Pemangkasan bantuan kemanusiaan oleh pemerintah Amerika Serikat dan sejumlah negara lain membuat peran filantropi swasta semakin krusial dalam menutup celah pendanaan, terutama di sektor kesehatan dan perlindungan anak.
Dalam konteks tersebut, Bill Gates menyoroti adanya kemunduran indikator kemanusiaan global. Dalam blog terbarunya, dia menulis bahwa "dunia bergerak mundur" ketika angka kematian anak meningkat dari 4,6 juta pada 2024 menjadi 4,8 juta pada 2025, kenaikan pertama dalam abad ini.
"Lima tahun ke depan akan sulit saat kami berupaya kembali ke jalur yang benar dan meningkatkan skala intervensi kesehatan yang menyelamatkan nyawa. Namun, saya tetap optimistis terhadap masa depan jangka panjang," tulis Gates.
Sebagai respons, yayasan akan memprioritaskan kesehatan ibu dan anak, pencegahan penyakit menular, serta pengentasan kemiskinan, sekaligus memperluas operasi di India dan Afrika.
Meski telah menetapkan tanggal penutupan, Suzman menegaskan dua dekade ke depan justru menjadi periode paling menentukan.

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
