Sketsa ruang sidang Presiden Venezuela Nicolas Maduro, dan istrinya, Cilia Flores, di Pengadilan Amerika Serikat Daniel Patrick Moynihan di Manhattan, New York City, Senin (5/1)
JawaPos.com - Dengan kaki yang diborgol dan mengenakan pakaian penjara, mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro berdiri di hadapan hakim Amerika Serikat pada hari Senin (5/1).
Nicolas Maduro menyatakan, bahwa ia masih jadi pemimpin sah Venezuela saat menghadapi tuduhan yang dapat membuatnya dipenjara seumur hidup.
"Saya tidak bersalah. Saya tidak berdosa. Saya orang baik. Saya masih presiden negara saya," kata Maduro melalui seorang penerjemah, suaranya meninggi sebelum Hakim Alvin Hellerstein memotong ucapannya.
Maduro yang pria berusia 63 tahun ditangkap beberapa hari sebelumnya dalam penggerebekan militer Amerika Serikat secara dramatis. Ia mengenakan sandal oranye, celana krem, dan kemeja hitam dan oranye berlapis.
Maduro mencatat hal-hal penting di atas kertas catatan, sementara para pengacara membahas isu yang tampaknya akan menjadi perselisihan hukum yang sengit.
Dia dihadapkan pada empat dakwaan pidana federal Amerika Serikat yang meliputi konspirasi terorisme narkoba, konspirasi impor kokain, dan kepemilikan mesin senjata serta alat peledak.
Seperti yang dilaporkan Korea Times, setiap dakwaan membawa hukuman maksimal penjara seumur hidup.
Pengacaranya, Barry Pollack, mengatakan kepada Hellerstein bahwa ia memperkirakan akan terjadi persidangan yang panjang terkait legalitas penculikan militer yang dilakukan oleh Maduro.
Sementara itu, istri Maduro, Cilia Flores, juga menyatakan tidak bersalah. Ia menghadapi tuduhan yang sama, kecuali terkait terorisme narkoba. Sidang selanjutnya dijadwalkan pada tanggal 17 Maret.
Amerika Serikat telah menganggap Maduro sebagai diktator yang tidak sah sejak ia menyatakan kemenangan dalam pemilihan tahun 2018 yang diwarnai tuduhan penyimpangan besar-besaran.
Penangkapannya menandai intervensi Washington yang paling kontroversial di Amerika Latin sejak invasi Panama 37 tahun lalu.
Saat sidang sedang berlangsung, demonstran yang terbelah menjadi dua yaitu pendukung Maduro dan satu lagi kelompok yang mendukung penggulingannya berdebat di luar gedung pengadilan.
"Kami sangat marah atas apa yang telah dilakukan Amerika Serikat terhadap kepala negara, kepala negara Venezuela yang terpilih secara sah," kata Sherry Finkelman yang merupakan seorang pensiunan guru.
Alejandro Rojas, seorang ilmuwan data berusia 51 tahun yang pindah ke Amerika Serikat dari Venezuela pada tahun 2017, mengatakan dia berharap dapat segera kembali ke negaranya setelah Maduro lengser.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kejam, Sopir Truk Dibakar Oleh Atasan dan Alami Luka Bakar Sampai 68 Persen
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri
MK Diminta Batalkan Jabatan Wapres Gibran, Syarat Pendidikan Dipersoalkan
Mahfud MD Balas Sindiran Prabowo: Banyak juga Presiden yang Goblok

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022