Kasus Covid-19 Tembus 31 Ribu, Tiongkok Lockdown, Ricuh Panic Buying

26 November 2022, 23:41:00 WIB

JawaPos.com – Kepanikan terjadi di Tiongkok saat kembali memberlakukan penguncian atau lockdown karena kasus Covid-19 melonjak tajam. Rakyat memprotes dengan melakukan pembelian besar-besaran atau panic buying. Kebijakan nol Covid-19 Presiden Xi Jinping selama ini dinilai belum mampu membendung penyebaran virus.

Tiongkok mencatat rekor kasus sebanyak 31.444 kasus pada 24 November. Sejumlah wilayah, termasuk Beijing, telah melakukan penguncian untuk membendung penyebaran virus. Hal ini memicu protes terhadap kebijakan Xi Jinping.

Pejabat telah memberlakukan pembatasan ketat di beberapa distrik dengan menutup toko, sekolah, dan restoran. Hal ini menyebabkan pembelian skala besar di banyak kota, termasuk Beijing. Orang-orang khawatir bahwa pemerintah akan memulai penguncian di seluruh kota di seluruh Tiongkok seperti yang terjadi pada awal pandemi.

Aplikasi pengiriman seperti Freshippo milik Alibaba Group Holding Ltd dan Sam’s Club milik Walmart Inc kehabisan kapasitas dan gerai grosir lainnya di Chaoyang, distrik terbesar Beijing, tidak lagi menerima pesanan. Pusat karantina dan rumah sakit lapangan segera dibangun. Ruangan besar lain juga dipersiapkan untuk menampung pasien yang terinfeksi.

Jumlah kasus terbaru melampaui 29.317 kasus pada 13 April 2022 lalu selama puncak penguncian di Shanghai. Saat itu lebih dari 25 juta orang dikurung di rumah mereka selama berbulan-bulan dan memicu protes publik.

Sejumlah harus kembali ke pedoman lama karena kasus menyebar di masyarakat. Zhengzhou, rumah bagi pabrik iPhone terbesar di dunia, di-lockdown mulai Jumat (25/11) selama lima hari.

Pihak berwenang telah memerintahkan penduduk dari delapan distrik di Zhengzhou, di provinsi tengah Henan, untuk tidak meninggalkan daerah itu selama lima hari ke depan meski anya ada beberapa kasus virus corona di kota itu.

Pabrik iPhone Foxconn di Zhengzhou telah bergulat dengan pembatasan Covid-19 yang ketat yang telah memicu ketidakpuasan para pekerja dan mengganggu produksi menjelang liburan Natal dan Tahun Baru. Banyak pekerja yang diisolasi dan melarikan diri dari pabrik tersebut.

Warga Kota Shijiazhuang dekat dengan Beijing diminta untuk tinggal di rumah dalam beberapa hari. Sementara pejabat kesehatan dan media pemerintah terus menekankan perlunya mematuhi kebijakan nol Covid-19. Mereka meminta rakyat percaya bahwa pihak berwenang telah berjuang untuk mengendalikan wabah.

Sebuah analisis dari Freedom House menemukan bahwa dari Juli hingga September 2022, terjadi 37 kasus protes terhadap pembatasan Covid-19, termasuk demonstrasi besar-besaran dan gerakan tagar online dengan ratusan ribu posting-an. Kasus perbedaan pendapat terhadap pandemi Covid-19 di Tiongkok dipicu kepanikan warga.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads