Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 20 November 2025 | 20.48 WIB

Kimono: Pakaian Tradisional Jepang yang Tetap Bertahan di Era Modern

Kimono, pakaian tradisional Jepang dengan bentuk, warna, serta motifnya yang penuh makna (Dok. Japan Guide)

JawaPos.com - Kimono bukan sekadar pakaian tradisional Jepang, tetapi sebuah warisan budaya yang mencerminkan sejarah, nilai, dan identitas masyarakatnya. Dari fungsi awal sebagai pakaian sehari-hari hingga kini menjadi busana khusus untuk acara formal dan upacara penting, kimono terus mempertahankan keindahannya. 

Melansir dari Japan Guide, kimono merupakan pakaian tradisional Jepang yang kini digunakan secara khusus, biasanya untuk acara-acara seperti pernikahan, upacara minum teh, hingga pemakaman. Pemilihan gaya dan warna kimono pun harus menyesuaikan jenis acara, usia, serta status pernikahan pemakainya. Contohnya, kimono pria yang cenderung menggunakan warna-warna lembut dan bahan bertekstur matte, sementara kimono wanita dengan desainnya yang lebih kompleks dan menarik. 

Sejarah Perkembangan Kimono

Menurut Web Japan, istilah "kimono" pada awalnya merujuk pada seluruh jenis pakaian, namun dalam perkembangannya kini mengacu pada busana tradisional Jepang. Bentuk kimono modern mulai muncul pada periode Heian (794-185) ketika teknik straight-line-cut diperkenalkan. Pada periode Kamakura (1185-1333) hingga Muromachi (1336-1573), kimono berwarna cerah dikenakan oleh pria maupun wanita, para prajurit bahkan memilih warna mencolok untuk menunjukkan identitas pemimpin mereka di medan perang. 

Baca Juga: Mengenal Sky Burial: Tradisi Pemakaman Langit di Tibet, Jenazah yang Diberikan kepada Burung Pemangsa

Pada periode Meiji (1868-1912), pengaruh budaya Barat meningkat pesat. Pemerintah mendorong masyarakat untuk mengadopsi pakaian Barat, bahkan mewajibkan pejabat dan militer mengenakannya untuk acara resmi. Sementara itu, masyarakat umum tetap diminta memakai kimono berhias lambang keluarga (kamon) pada acara formal, yang kemudian dikenal sebagai montsuki. Meski kini kimono jarang dipakai untuk kegiatan sehari-hari, busana ini masih digunakan sebagai haregi atau pakaian resmi untuk pernikahan, pemakaman, wisuda, upacara minum teh, festival musim panas, hingga perayaan Tanabata.

Simbolisme dan Makna Motif Kimono

Mengutip dari Victoria and Albert Museum, motif dan warna pada kimono memiliki makna simbolis yang kuat. Salah satu motif burung yang paling populer adalah bangau, yang diyakini memiliki sejarah panjang dan melambangkan keberuntungan. Motif tertentu dipilih untuk mencerminkan sifat pemakainya, musim, atau acara tertentu seperti pernikahan yang membawa harapan akan keberuntungan dan kesejahteraan. Warna juga memiliki arti yang mendalam dan pewarna tradisional dianggap membawa sifat tanaman asalnya. Misalnya, warna biru dari indigo dipercaya dapat mengusir serangga karena tanaman indigo biasa digunakan untuk mengobati gigitan.

Pengaruh konsep lima elemen dari Tiongkok juga turut memperkaya makna warna dalam budaya Jepang. Warna hitam, misalnya, melambangkan air, musim dingin, arah utara, dan kebijaksanaan. Warna ungu yang berasal dari tanaman gromwell melambangkan cinta abadi. Sedangkan merah menjadi salah satu warna yang menandakan pesona dan energi muda sehingga cocok untuk wanita muda.

Motif kimono pun sebagian besar terinspirasi dari alam. Bunga-bunga seperti peoni, wisteria, dan hollyhock sering digunakan. Tiga motif klasik yaitu, pinus, bambu, dan plum dikenal sebagai Three Friends of Winter yang melambangkan ketahanan dan pembaruan. Selain flora, kimono juga memiliki motif lain seperti, burung, kupu-kupu, capung, ombak, salju, awan, hingga lanskap alam seperti gunung dan sungai.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore