
Pengantin pria mengikuti prosesi Paebaek Ceremony, tradisi pernikahan Korea Selatan yang melambangkan penghormatan kepada orang tua dan penyatuan dua keluarga. (The Knot)
JawaPos.com - Pernikahan di Korea Selatan bukan sekadar pesta penyatuan dua insan, melainkan perayaan yang sarat makna dan simbolisme budaya. Tradisi yang diwariskan sejak masa Dinasti Joseon ini terus bertahan di tengah modernisasi, menghadirkan harmoni antara nilai keluarga, kesetiaan, dan keindahan ritual. Salah satu yang paling dikenal adalah Paebaek Ceremony, upacara sakral yang menandai bergabungnya pengantin wanita ke dalam keluarga suaminya.
Sebagaimana dilansir dari Brides.com, Paebaek biasanya dilaksanakan setelah upacara inti pernikahan. Dalam prosesi ini, pengantin membungkuk hormat kepada orang tua pengantin pria sambil menyajikan teh dan berbagai makanan simbolis. Ritual tersebut dilakukan di depan meja rendah yang dihiasi dengan tirai bermotif alam, menciptakan suasana yang khidmat namun penuh kehangatan keluarga.
Dalam tradisi ini, simbol-simbol kecil memiliki makna besar. Menurut Brides.com, kacang chestnut dan kurma yang dilempar oleh pengantin wanita kepada orang tua pihak pria melambangkan harapan akan banyak keturunan. Kurma dianggap simbol anak laki-laki, sedangkan chestnut melambangkan anak perempuan. Makna ini menunjukkan bahwa pernikahan bagi masyarakat Korea bukan hanya penyatuan dua individu, tetapi juga harapan akan keberlanjutan garis keluarga.
Ritual lainnya yang tak kalah menarik adalah Jeonan-rye, di mana calon suami memberikan sepasang angsa kayu kepada calon ibu mertua. Dikutip dari The Knot, tradisi ini mencerminkan komitmen dan kesetiaan karena angsa dikenal sebagai hewan yang hanya memiliki satu pasangan seumur hidup. Dalam versi modern, angsa kayu sering diganti dengan simbol lain, namun pesan kesetiaan tetap menjadi inti dari tradisi tersebut.
Selain itu, terdapat pula ritual Gyo-bae-rye atau saling membungkuk antar pasangan sebagai tanda saling menghormati, serta Hap-geun-rye prosesi minum arak bersama yang melambangkan penyatuan dua keluarga. Menurut The Knot, rangkaian upacara ini menjadi representasi nilai Konfusianisme yang kuat dalam budaya Korea, yakni menghormati orang tua dan menjaga keseimbangan antara dua keluarga besar.
Dari segi busana, pernikahan tradisional Korea menonjolkan warna-warna simbolis yang mencerminkan keseimbangan alam. Masih dari laporan The Knot, pengantin wanita biasanya mengenakan hanbok merah cerah, sementara pengantin pria memakai hanbok biru tua. Warna merah dan biru dipercaya membawa harmoni, menggambarkan keseimbangan antara energi feminin dan maskulin.
Tak hanya busana, hidangan dalam pesta pernikahan juga sarat makna. Makanan khas seperti janchi guksu atau mi panjang menjadi simbol pernikahan yang langgeng dan penuh kebahagiaan. Menurut The Knot, hidangan lain seperti yaksik (nasi manis dengan madu dan kacang) serta tteok (kue beras) juga melambangkan kemakmuran dan kebersamaan dalam kehidupan rumah tangga.
Sementara itu, laman Korean Cultural Centre India menjelaskan bahwa tradisi seperti Chinyoung dan Jeonan-rye merupakan bagian dari rangkaian upacara kuno yang dahulu dilakukan di rumah keluarga pria. Upacara ini menandai pertemuan pertama pengantin wanita dengan keluarga barunya dan menjadi simbol penghormatan serta penerimaan.
Meski banyak tradisi yang masih dijalankan, sebagian pasangan Korea modern kini memilih untuk mengadaptasi prosesi ini agar lebih praktis dan sesuai dengan gaya hidup masa kini. Dikutip dari Brides.com, beberapa pasangan menjadikan Paebaek Ceremony sebagai bagian dari resepsi, lengkap dengan dokumentasi foto dan momen interaktif bersama keluarga serta tamu undangan.
Di tengah maraknya pernikahan bergaya Barat, kebertahanan tradisi-tradisi seperti Paebaek dan Jeonan-rye menjadi bukti bahwa masyarakat Korea mampu menjaga nilai budaya sambil beradaptasi dengan zaman. Sebagaimana ditulis oleh The Knot, pernikahan dalam budaya Korea bukan hanya tentang dua orang yang saling mencintai, tetapi tentang dua keluarga yang menjadi satu mencerminkan kekuatan nilai kekeluargaan yang tetap hidup hingga kini.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
