
Pemimpin oposisi Venezuela Maria Corina Machado berbicara kepada para pendukungnya di Caracas, Venezuela. (Gaby Oraa/File Photo/Reuters)
JawaPos.com-Politikus oposisi Venezuela Maria Corina Machado resmi dinobatkan sebagai pemenang Nobel Perdamaian 2025. Capaiannya menandai kemenangan penting bagi perjuangan demokrasi di tengah meningkatnya otoritarianisme global.
Machado mengungguli 338 nominator lain yang diajukan tahun ini. Bahkan dia berhasil melampaui Presiden Amerika Serikat Donald Trump, 243 individu, dan 94 organisasi, seperti dilaporkan Al Jazeera, Jumat (10/10).
Bagi banyak pihak, kemenangan Machado bukan sekadar penghargaan personal, melainkan bentuk pengakuan atas perjuangan politik tanpa kekerasan di negara yang selama bertahun-tahun dilanda krisis politik dan ekonomi akut.
Direktur Peace Research Institute Oslo (PRIO) Nina Graeger menyebut, penghargaan ini sebagai hadiah untuk demokrasi, sebuah pesan kuat dari Komite Nobel di tengah tren kemunduran demokrasi di berbagai belahan dunia.
“Di saat otoritarianisme meningkat di seluruh dunia, penghargaan ini menyoroti keberanian mereka yang membela kebebasan dengan surat suara, bukan peluru,” ujar Graeger melalui akun X resminya.
Dia menambahkan, komitmen Machado terhadap pemilu bebas dan adil menjadi fondasi penting bagi perdamaian yang berkelanjutan.
“Perdamaian sejati dibangun di atas demokrasi yang hidup dan pemerintahan yang dapat dipercaya,” kata Nina Greager.
Nama Donald Trump sempat mencuat dalam daftar nominasi. Mantan presiden AS itu beberapa kali mengklaim dirinya pantas meraih Nobel Perdamaian karena dianggap berperan dalam menghentikan konflik di sejumlah kawasan.
Namun, para pengamat menilai peluangnya sangat kecil, mengingat rekam jejak diplomatiknya yang kontroversial.
Sebaliknya, Maria Corina Machado dikenal sebagai simbol perlawanan sipil terhadap rezim Presiden Nicolás Maduro. Dia konsisten menyerukan reformasi, pemilu jujur, dan kebebasan politik di Venezuela, langkah yang membuatnya beberapa kali ditahan dan dilarang mencalonkan diri.
Tahun sebelumnya, Nobel Perdamaian 2024 diberikan kepada Nihon Hidankyo, kelompok penyintas bom atom Hiroshima dan Nagasaki yang memperjuangkan dunia tanpa senjata nuklir.
Pergeseran dari isu pelucutan senjata ke demokrasi sipil tahun ini menunjukkan arah baru Komite Nobel dalam menyoroti perdamaian berbasis hak asasi manusia dan tata kelola demokratis.
Kemenangan Maria Corina Machado menjadi sinyal kuat bagi dunia bahwa perjuangan untuk demokrasi masih relevan dan layak diperjuangkan, terutama di era ketika tekanan terhadap kebebasan sipil meningkat, dari Amerika Latin hingga Asia Tenggara.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
