Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara di Majelis Umum PBB di New York pada hari Jumat. (Sarah Yenesel/EPA/Shutterstock).
JawaPos.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhirnya menyampaikan permintaan maaf resmi kepada Qatar atas serangan militer Israel di ibu kota Doha yang menewaskan seorang warga negara Qatar.
Langkah ini dinilai penting, namun tetap menyisakan pertanyaan besar terkait pelanggaran kedaulatan negara mediator utama konflik Gaza.
Permintaan maaf itu disampaikan Netanyahu melalui sambungan telepon yang difasilitasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat bertemu dengan Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, di Gedung Putih pada Senin (30/9).
Dalam pernyataan resmi Gedung Putih, Netanyahu mengaku menyesal atas serangan rudal Israel pada 9 September yang menargetkan pemimpin Hamas di Doha namun justru menewaskan seorang anggota keamanan Qatar, Badr Al-Dosari.
Serangan tersebut juga menewaskan lima anggota Hamas berpangkat rendah, sementara pimpinan Hamas yang menjadi sasaran utama berhasil selamat.
“Israel menyesal bahwa salah satu warga Anda terbunuh dalam serangan kami. Israel menargetkan Hamas, bukan Qatar, dan saya berkomitmen untuk tidak melanggar kedaulatan Qatar lagi di masa depan,” ujar Netanyahu, dikutip dari akun X resminya.
Insiden itu tercatat sebagai serangan Israel pertama di wilayah Qatar, sebuah negara yang selama ini berperan sebagai mediator kunci dalam negosiasi gencatan senjata Gaza dan juga tuan rumah pangkalan militer AS terbesar di Timur Tengah, Al Udeid.
Kementerian Luar Negeri Qatar menegaskan bahwa serangan Israel tersebut adalah “pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan” dan menimbulkan dampak serius bagi upaya perdamaian yang sedang dijalankan.
Qatar bahkan sempat mengisyaratkan tidak akan melanjutkan peran mediasi tanpa permintaan maaf terbuka dari Israel.
Serangan di Doha segera menuai kecaman luas, termasuk dari Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres yang menyebutnya sebagai 'pelanggaran mencolok terhadap integritas teritorial Qatar'.
Tak lama setelah insiden, hampir 60 negara Muslim menggelar pertemuan solidaritas di Doha untuk menunjukkan dukungan kepada Qatar.
Sultan Barakat, profesor di Universitas Hamad Bin Khalifa, menilai permintaan maaf Netanyahu bukan hanya penting bagi proses mediasi Hamas–Israel, tetapi juga bagi kredibilitas Qatar sebagai mediator internasional.
“Qatar sejak awal menegaskan tidak bisa melanjutkan mediasi tanpa permintaan maaf resmi. Tanpa itu, ruang mediasi akan hancur karena pihak yang berkonflik justru ingin menyelesaikan urusan dengan cara militer,” kata Barakat kepada Al Jazeera.
Meski menyampaikan penyesalan, Netanyahu tetap melontarkan keluhan terhadap Qatar, mulai dari dukungan terhadap Ikhwanul Muslimin hingga peran media Al Jazeera yang kerap kritis terhadap Israel.

Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs Uzbekistan: Ruben Dias Siap Hadapi Tim Bertahan
Prediksi Skor Yordania vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Duel Hidup dan Mati Siapa Lolos dari Grup J
Penampakan Wajah Wanita yang Menipu Tantri Kotak dkk dengan Kerugian Mencapai Rp 10 Miliar
Viral! Pengakuan BEM FH UBK Usai Temui Gibran, Ngaku Terima Uang hingga Minta Maaf ke Mahasiswa
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Kolombia vs RD Kongo di Piala Dunia 2026: Daniel Munoz Motor Serangan Los Cafeteros
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
Prediksi Skor Panama vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Misi Berat Luka Modric Berburu Poin Pertama
