
Presiden Prancis Emmanuel Macron bersama dengan PM baru Sébastien Lecornu. (ichef.bbci.co.uk)
JawaPos.com - Prancis berada di ambang kelumpuhan. Dilansir dari The Standard, kekacauan meluas di berbagai kota besar pada Rabu (10/9/2025) saat gerakan protes anti-pemerintah bernama "Block Everything" (Blokir Semuanya) menggelar aksi massal, memicu bentrokan sengit dengan aparat keamanan dan mengganggu jalur-jalur vital negara.
Asap gas air mata mengepul di jalanan dan ratusan orang ditangkap dalam sebuah gelombang kemarahan publik yang dipicu oleh krisis politik di tingkat tertinggi.
Gerakan ini muncul kurang dari 24 jam setelah Presiden Emmanuel Macron menunjuk perdana menteri ketujuhnya dalam sembilan tahun, sebuah langkah yang tampaknya gagal meredam amarah rakyat.
Pemicu Amarah: Krisis Politik dan Anggaran Penghematan Kontroversial
Untuk memahami akar dari kekacauan ini, kita harus melihat kembali drama politik yang terjadi pada Senin malam (8/9/2025).
Perdana Menteri saat itu, François Bayrou, mengambil pertaruhan politik yang gagal. Ia mengajukan mosi tidak percaya terhadap pemerintahannya sendiri dalam upaya memaksakan pengesahan anggaran penghematan yang sangat tidak populer, namun akhirnya kalah dan terpaksa mundur.
Anggaran yang diusulkan Bayrou inilah yang menjadi biang keladi kemarahan publik. Dalam upayanya mengatasi utang nasional Prancis yang telah mencapai 114 persen dari PDB, Bayrou berencana memangkas anggaran publik senilai EUR 35 miliar dengan cara yang sangat menyakitkan:
Menyusul mundurnya Bayrou, Presiden Macron dengan cepat menunjuk Sébastien Lecornu sebagai perdana menteri baru yang mana sebelumnya menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Namun, Lecornu kini mengemban tugas yang sama beratnya, yakni membangun mayoritas di Majelis Nasional untuk meloloskan anggaran penghematan yang disetujui Macron, yang mana anggaran yang sama yang telah membuat jutaan rakyat Prancis marah.
Peta Kekacauan di Seluruh Negeri
Gerakan "Block Everything" merespons krisis ini dengan aksi serentak di seluruh negeri. Hingga Rabu siang, lebih dari 250 orang telah ditangkap.
Di Paris, ibu kota menjadi pusat bentrokan. Lebih dari 100 orang ditangkap saat para demonstran mencoba melumpuhkan pusat transportasi kereta Eurostar di Gare du Nord.
Petugas pengendali huru-hara melepaskan gas air mata saat terlibat baku hantam dengan massa. Berbagai ruas jalan lingkar utama Paris juga diblokir oleh para aktivis, sementara beberapa sekolah dan stasiun bus dilaporkan memasang barikade.
Di Lyon, sekitar 100 demonstran mencoba menghentikan lalu lintas kereta api di stasiun Perrache, memaksa polisi untuk kembali menggunakan gas air mata.
Di Nantes, para pengunjuk rasa memblokir jalan raya dengan membakar tumpukan ban dan tempat sampah, menciptakan dinding api yang melumpuhkan lalu lintas.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
