Donald Trump menyetujui misi menanam perangkat komunikasi Kim Jong Un secara diam-diam. (AP)
JawaPos.com – Pada awal 2019, pasukan khusus Amerika Serikat (AS), Navy SEAL, diam-diam menyusup ke Korea Utara dengan tujuan menanam perangkat penyadap komunikasi Kim Jong Un.
Namun, operasi tersebut berubah kacau setelah mereka melepaskan tembakan ke arah warga sipil tak bersenjata yang sedang menyelam mencari kerang, lalu berusaha menyembunyikan jasad korban sebelum akhirnya membatalkan misi.
Menurut laporan The New York Times pada Jumat (5/9), misi rahasia itu mendapat persetujuan langsung dari Presiden Donald Trump di periode pertamanya. Tugas ini dijalankan oleh SEAL Team 6 Red Squadron, unit elit yang sebelumnya menewaskan Osama bin Laden.
Jika berhasil, penyadapan itu berpotensi memberikan intelijen penting di tengah rumitnya perundingan nuklir antara Kim Jong Un dan Trump.
Informasi mengenai operasi tersebut diperoleh melalui wawancara dengan 24 orang, termasuk pejabat sipil, mantan anggota pemerintahan Trump, hingga personel militer aktif maupun purnawirawan yang mengetahui jalannya misi.
Karena risikonya tinggi, misi ini harus mendapat restu langsung dari Trump. Sebab jika tertangkap di wilayah Korea Utara, para SEAL bisa membuat negosiasi nuklir runtuh atau bahkan memicu situasi penyanderaan.
"Saya tidak tahu apa-apa soal itu. Saya bisa membayangkan kenapa dilakukan, tapi saya benar-benar baru dengar," ujar Trump saat ditanya wartawan pada Jumat terkait misi rahasia tersebut.
Sebelum berangkat, tim SEAL berbulan-bulan berlatih di perairan dingin. Mereka bersiap dengan kapal selam bertenaga nuklir milik Amerika Serikat untuk kemudian beralih menggunakan kapal selam mini siluman, atau wet subs, menuju pesisir Korea Utara.
Dengan peralatan selam berinsulasi, mereka menempuh perjalanan berjam-jam di laut beku bersuhu 40 derajat. Tim yang terdiri dari sekitar delapan personel itu direncanakan berenang ke darat, memasang perangkat, lalu kabur tanpa dukungan drone udara.
Pada Februari 2019, ketika pertemuan Trump dan Kim Jong Un di Vietnam sudah dijadwalkan, lampu hijau diberikan kepada tim SEAL dan operasi pun dimulai.
Namun rencana langsung buyar begitu mereka mendarat. Sebuah kapal nelayan Korea Utara muncul tiba-tiba di kegelapan. Tanpa jalur komunikasi ke komandan misi dan takut ketahuan, seorang perwira SEAL menembak, diikuti tembakan lain yang menewaskan seluruh awak kapal.
Untuk menyamarkan jejak, mayat-mayat korban ditenggelamkan dengan cara menusuk paru-parunya agar tidak mengapung. Padahal, warga sipil di kapal itu diyakini hanya sedang menyelam mencari kerang dan tidak membawa senjata.
Akhirnya, perangkat penyadap tidak pernah ditanam, dan tim terpaksa menarik diri. Satelit Amerika kemudian mendeteksi peningkatan aktivitas militer Korea Utara di lokasi tersebut, meski tidak ada kejelasan apakah otoritas setempat mengetahui nasib para penyelam kerang itu.
Pertemuan Trump dan Kim di KTT Vietnam tetap berjalan sesuai agenda, tetapi tidak menghasilkan kesepakatan. Hanya berselang tiga bulan, Korea Utara kembali melanjutkan uji coba rudal.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
