Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 8 September 2025 | 17.41 WIB

Terungkap Pasukan Khusus Amerika Serikat Pernah Membunuh Warga Sipil Korea Utara di Tahun 2019

Donald Trump menyetujui misi menanam perangkat komunikasi Kim Jong Un secara diam-diam. (AP)

JawaPos.com – Pada awal 2019, pasukan khusus Amerika Serikat (AS), Navy SEAL, diam-diam menyusup ke Korea Utara dengan tujuan menanam perangkat penyadap komunikasi Kim Jong Un.

Namun, operasi tersebut berubah kacau setelah mereka melepaskan tembakan ke arah warga sipil tak bersenjata yang sedang menyelam mencari kerang, lalu berusaha menyembunyikan jasad korban sebelum akhirnya membatalkan misi.

Menurut laporan The New York Times pada Jumat (5/9), misi rahasia itu mendapat persetujuan langsung dari Presiden Donald Trump di periode pertamanya. Tugas ini dijalankan oleh SEAL Team 6 Red Squadron, unit elit yang sebelumnya menewaskan Osama bin Laden.

Jika berhasil, penyadapan itu berpotensi memberikan intelijen penting di tengah rumitnya perundingan nuklir antara Kim Jong Un dan Trump.

Informasi mengenai operasi tersebut diperoleh melalui wawancara dengan 24 orang, termasuk pejabat sipil, mantan anggota pemerintahan Trump, hingga personel militer aktif maupun purnawirawan yang mengetahui jalannya misi.

Karena risikonya tinggi, misi ini harus mendapat restu langsung dari Trump. Sebab jika tertangkap di wilayah Korea Utara, para SEAL bisa membuat negosiasi nuklir runtuh atau bahkan memicu situasi penyanderaan.

"Saya tidak tahu apa-apa soal itu. Saya bisa membayangkan kenapa dilakukan, tapi saya benar-benar baru dengar," ujar Trump saat ditanya wartawan pada Jumat terkait misi rahasia tersebut.

Sebelum berangkat, tim SEAL berbulan-bulan berlatih di perairan dingin. Mereka bersiap dengan kapal selam bertenaga nuklir milik Amerika Serikat untuk kemudian beralih menggunakan kapal selam mini siluman, atau wet subs, menuju pesisir Korea Utara.

Dengan peralatan selam berinsulasi, mereka menempuh perjalanan berjam-jam di laut beku bersuhu 40 derajat. Tim yang terdiri dari sekitar delapan personel itu direncanakan berenang ke darat, memasang perangkat, lalu kabur tanpa dukungan drone udara.

Pada Februari 2019, ketika pertemuan Trump dan Kim Jong Un di Vietnam sudah dijadwalkan, lampu hijau diberikan kepada tim SEAL dan operasi pun dimulai.

Namun rencana langsung buyar begitu mereka mendarat. Sebuah kapal nelayan Korea Utara muncul tiba-tiba di kegelapan. Tanpa jalur komunikasi ke komandan misi dan takut ketahuan, seorang perwira SEAL menembak, diikuti tembakan lain yang menewaskan seluruh awak kapal.

Untuk menyamarkan jejak, mayat-mayat korban ditenggelamkan dengan cara menusuk paru-parunya agar tidak mengapung. Padahal, warga sipil di kapal itu diyakini hanya sedang menyelam mencari kerang dan tidak membawa senjata.

Akhirnya, perangkat penyadap tidak pernah ditanam, dan tim terpaksa menarik diri. Satelit Amerika kemudian mendeteksi peningkatan aktivitas militer Korea Utara di lokasi tersebut, meski tidak ada kejelasan apakah otoritas setempat mengetahui nasib para penyelam kerang itu.

Pertemuan Trump dan Kim di KTT Vietnam tetap berjalan sesuai agenda, tetapi tidak menghasilkan kesepakatan. Hanya berselang tiga bulan, Korea Utara kembali melanjutkan uji coba rudal.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore