Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 26 Agustus 2025 | 15.35 WIB

Warisan Dunia UNESCO: Identitas Budaya, Alam, dan Tanggung Jawab Bersama

Bangunan yang tampak pada gambar merupakan kantor pusat UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB), yang berlokasi di kota Paris, Prancis. (whc.unesco.org) - Image

Bangunan yang tampak pada gambar merupakan kantor pusat UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB), yang berlokasi di kota Paris, Prancis. (whc.unesco.org)

JawaPos.com - Warisan Dunia UNESCO bukan hanya tentang bangunan tua atau situs bersejarah. Di balik setiap penetapan, tersimpan upaya pelestarian identitas budaya dan alam yang menjadi milik bersama umat manusia. Indonesia pun turut berperan dalam menjaga warisan ini.

Menurut UNESCO, keanekaragaman budaya adalah fondasi perdamaian dan pembangunan berkelanjutan. Warisan dunia menjadi alat untuk memperkuat dialog antarbudaya dan melindungi nilai-nilai kemanusiaan.

"Keanekaragaman budaya dunia yang saling memberi manfaat," tertulis dalam Konstitusi UNESCO sejak 1945.

Indonesi diketahuia sendiri telah meratifikasi Konvensi Warisan Dunia sejak 1989 dan aktif mengusulkan situs budaya dan alam ke UNESCO. Candi Borobudur, Taman Nasional Komodo, dan Subak Bali adalah contoh warisan yang diakui dunia.

"Warisan budaya ini adalah modal bangsa untuk sejajar dengan negara besar lainnya," bunyi tulisan di laman kebudayaan.kemdikbud.go.id.

Di tingkat global, penetapan situs baru seperti Mons Klint di Denmark dan Hutan Gola-Tiwai di Sierra Leone menunjukkan bahwa warisan dunia bukan hanya masa lalu, tapi juga investasi masa depan. Pengelolaan yang bijak menjadi kunci keberlanjutan.

UNESCO juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat lokal dalam pelestarian. Contohnya di Brasil, pengelolaan Ngarai Sungai Peruacu melibatkan warga sebagai penjaga biodiversitas.

Indonesia memiliki potensi besar untuk memperluas daftar warisan dunia. Namun, tantangannya adalah tata kelola yang konsisten dan berkelanjutan. Tanpa itu, status warisan bisa terancam, seperti yang terjadi pada Geopark Toba.

Warisan dunia bukan sekadar label internasional, melainkan kompas moral untuk menjaga peradaban. UNESCO mengingatkan bahwa pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama, lintas generasi dan lintas negara.

Seperti yang disampaikan dalam laporan UNESCO, bahwa “Keanekaragaman budaya bukan ancaman, melainkan kekayaan yang menyatukan kita semua melalui proses pertukaran dan dialog".

(*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore