Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 2 Juli 2025 | 18.39 WIB

Ilmuwan Temukan 20 Virus Baru di Tiongkok dari Kelelawar, Dua Di Antaranya Mematikan dan Berpotensi Picu Pandemi Global Baru

Ilustrasi Ilmuwan meneliti kelelawar buah yang terbukti membawa virus baru mirip Nipah dan Hendra, berpotensi memicu pandemi. (OpenAI/ChatGPT) - Image

Ilustrasi Ilmuwan meneliti kelelawar buah yang terbukti membawa virus baru mirip Nipah dan Hendra, berpotensi memicu pandemi. (OpenAI/ChatGPT)

JawaPos.com — Di tengah kekhawatiran global terhadap potensi pandemi berikutnya, ilmuwan kembali memperingatkan adanya ancaman serius dari virus yang berasal dari hewan liar.

Fokus terbaru kini tertuju pada kelelawar buah di Provinsi Yunnan, Tiongkok, yang menjadi inang bagi sejumlah mikroorganisme patogen yang belum pernah ditemukan sebelumnya.

Dua virus yang ditemukan menunjukkan kemiripan genetik dengan Nipah dan Hendra, dua virus mematikan yang pernah menyebabkan wabah di Asia Tenggara dan Australia. Temuan ini menambah kekhawatiran akan potensi loncatan virus dari hewan liar ke manusia.

Menurut tim dari Yunnan Institute of Endemic Disease Control and Prevention, virus-virus tersebut ditemukan di ginjal kelelawar yang hidup di sekitar kebun dan desa.

Selain virus, peneliti juga mengidentifikasi bakteri dan parasit baru yang belum pernah tercatat sebelumnya.

Dilansir dari Science Daily, Rabu (2/7/2025), studi yang dipublikasikan di jurnal PLOS Pathogens ini menandai terobosan besar dalam surveilans zoonosis, yakni pemantauan penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia secara sistematis. 

“Temuan ini memperluas pemahaman kita tentang infectome ginjal kelelawar, menyoroti ancaman zoonosis yang kritis, dan pentingnya analisis mikroba secara menyeluruh terhadap organ-organ yang selama ini kurang diteliti,” ujar tim peneliti.

Dua virus paling mengkhawatirkan dari total 22 yang ditemukan merupakan henipavirus—kelompok virus yang sama dengan Nipah dan Hendra, yang diketahui memiliki tingkat fatalitas tinggi pada manusia. Virus ini ditemukan pada kelelawar buah yang berkeliaran di kebun-kebun dekat pemukiman warga, menimbulkan risiko penularan melalui buah yang terkontaminasi urin kelelawar.

“Kami menemukan genom lengkap dari henipavirus baru yang berasal dari kelelawar, dan keduanya memiliki kedekatan evolusioner dengan virus Hendra dan Nipah,” tulis para peneliti dalam laporan ilmiahnya. Mereka menegaskan bahwa temuan ini menimbulkan “kekhawatiran mendesak” terhadap potensi penularan ke manusia maupun ternak.

Selain virus, para peneliti juga mengidentifikasi satu jenis parasit protozoa baru yang diberi nama Klossiella yunnanensis, serta dua spesies bakteri yang sangat melimpah, salah satunya dinamakan Flavobacterium yunnanensis. Ini menunjukkan bahwa organ dalam kelelawar adalah rumah bagi beragam patogen berbahaya.

Penelitian ini melibatkan pengambilan sampel dari 142 kelelawar yang berasal dari 10 spesies berbeda, dikumpulkan selama empat tahun di lima wilayah di Provinsi Yunnan. Menggunakan teknologi sekuensing genetik lanjutan, para ilmuwan berhasil mengungkap mikroorganisme yang tidak akan terdeteksi melalui metode konvensional.

“Dengan menganalisis infectome ginjal kelelawar dari daerah perkebunan dan gua di Yunnan, kami menemukan tidak hanya keragaman mikroba yang dibawa kelelawar, tetapi juga genom lengkap henipavirus baru yang berpotensi melompat ke manusia atau hewan ternak,” tulis para ilmuwan.

Karena henipavirus diketahui memiliki tingkat fatalitas hingga 75 persen dalam beberapa wabah terdahulu, temuan ini sangat penting bagi kesehatan masyarakat global. Para ahli mengingatkan bahwa konsumsi buah dari area berisiko tinggi perlu dikaji ulang untuk menghindari potensi paparan virus.

Studi ini juga melibatkan pakar virologi global, termasuk Edward C. Holmes dan John-Sebastian Eden. Mereka menyerukan pendekatan global berbasis “One Health” guna menangani risiko zoonosis secara lintas disiplin. “Jika kita ingin mencegah pandemi berikutnya, kita harus memahami patogen yang bersembunyi di alam liar sebelum mereka menemukan jalan ke dalam tubuh manusia,” tegas tim riset.

***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore