Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 9 Januari 2025 | 22.27 WIB

Banjir Makkah Bukan Kali Pertama, Ini Jejak Sejarah Banjir Besar di Makkah dari Zaman Nabi Muhammad hingga Kini

Suasana banjir di Kota Makkah. (Munif Daily) - Image

Suasana banjir di Kota Makkah. (Munif Daily)

JawaPos.com – Banjir besar kembali melanda Kota Makkah, Selasa (7/1) lalu. Jalanan dan kendaraan pun terendam.

Meski demikian, banjir di Makkah bukanlah fenomena baru. Peristiwa ini telah tercatat sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Menunjukkan bahwa tantangan alam di kota suci ini bukan hanya masalah modern.

Dilansir dari laman zakat.or.id, saat Nabi Muhammad SAW berusia 35 tahun, atau lima tahun sebelum masa kenabian, Ka’bah mengalami kerusakan parah akibat banjir besar yang menerjang Makkah.

Pada saat itu, Ka'bah hanya berupa tumpukan batu setinggi sembilan hasta yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan tidak memiliki atap. 

Akibat kerusakan ini, harta yang tersimpan di dalam Ka'bah berhasil dicuri oleh segerombolan pencuri. Selain itu, Ka'bah juga kerap diserang pasukan berkuda yang semakin merapuhkan bangunan dan merontokkan sendi-sendi Ka'bah.

Menyadari kerusakan ini, para kabilah di Makkah sepakat untuk melakukan renovasi besar-besaran terhadap Ka'bah. Proyek renovasi ini melibatkan pembongkaran Ka'bah hingga ke pondasi pertama yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS.

Setiap kabilah di Makkah mendapat bagian tugas dalam renovasi ini, dengan pemimpin proyek dipegang oleh seorang arsitek asal Romawi bernama Baqum. Renovasi ini akhirnya memperbaiki Ka'bah dan memperkuat fondasi kota suci tersebut.

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, banjir kembali menerjang Makkah. Untuk mengatasinya, Umar membangun bendungan di lembah-lembah sekitar kota guna menahan aliran air.

Upaya pencegahan ini dilanjutkan oleh dinasti Umayyah, Abbasiyah, hingga Ottoman. Infrastruktur yang dibangun pada masa-masa itu bertujuan untuk melindungi Ka'bah dan kawasan sekitarnya dari ancaman banjir.

Salah satu banjir besar lainnya tercatat pada tahun 1039, ketika hujan deras menggenangi kota. Setelah itu, Makkah relatif aman dari banjir selama berabad-abad, hingga kejadian besar berikutnya.

Banjir terparah terjadi pada tahun 1941. Hujan deras selama sepekan menyebabkan air merendam Ka'bah hingga setengah dari tingginya. Peristiwa ini menjadi pengingat betapa rentannya Makkah terhadap curah hujan ekstrem.

Pada tahun 1979, hujan lebat kembali melanda Makkah, menenggelamkan sebagian kota kelahiran Nabi Muhammad itu.

Dilansir dari buku "Menelusuri Jejak Sejarah Islam Melalui Ritual Ibadah Haji dan Umrah" karya H. Harun Keuchik, dalam musim haji tahun tersebut, hujan yang turun pada pukul 3.00 dini hari berlangsung sekitar tiga jam, disertai kilat dan petir yang menyambar.

Beberapa mobil yang diparkir di pinggir jalan hanyut terbawa arus banjir. Selain itu, ratusan ton lumpur dan batu gunung berserakan di seluruh kota.

Sebagai respons, pemerintah Arab Saudi membangun sistem drainase modern. Infrastruktur ini dirancang untuk menyalurkan air secara cepat dan mencegah genangan besar.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore