
Suasana banjir di Kota Makkah. (Munif Daily)
JawaPos.com – Banjir besar kembali melanda Kota Makkah, Selasa (7/1) lalu. Jalanan dan kendaraan pun terendam.
Meski demikian, banjir di Makkah bukanlah fenomena baru. Peristiwa ini telah tercatat sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Menunjukkan bahwa tantangan alam di kota suci ini bukan hanya masalah modern.
Dilansir dari laman zakat.or.id, saat Nabi Muhammad SAW berusia 35 tahun, atau lima tahun sebelum masa kenabian, Ka’bah mengalami kerusakan parah akibat banjir besar yang menerjang Makkah.
Pada saat itu, Ka'bah hanya berupa tumpukan batu setinggi sembilan hasta yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan tidak memiliki atap.
Akibat kerusakan ini, harta yang tersimpan di dalam Ka'bah berhasil dicuri oleh segerombolan pencuri. Selain itu, Ka'bah juga kerap diserang pasukan berkuda yang semakin merapuhkan bangunan dan merontokkan sendi-sendi Ka'bah.
Menyadari kerusakan ini, para kabilah di Makkah sepakat untuk melakukan renovasi besar-besaran terhadap Ka'bah. Proyek renovasi ini melibatkan pembongkaran Ka'bah hingga ke pondasi pertama yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS.
Setiap kabilah di Makkah mendapat bagian tugas dalam renovasi ini, dengan pemimpin proyek dipegang oleh seorang arsitek asal Romawi bernama Baqum. Renovasi ini akhirnya memperbaiki Ka'bah dan memperkuat fondasi kota suci tersebut.
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, banjir kembali menerjang Makkah. Untuk mengatasinya, Umar membangun bendungan di lembah-lembah sekitar kota guna menahan aliran air.
Upaya pencegahan ini dilanjutkan oleh dinasti Umayyah, Abbasiyah, hingga Ottoman. Infrastruktur yang dibangun pada masa-masa itu bertujuan untuk melindungi Ka'bah dan kawasan sekitarnya dari ancaman banjir.
Salah satu banjir besar lainnya tercatat pada tahun 1039, ketika hujan deras menggenangi kota. Setelah itu, Makkah relatif aman dari banjir selama berabad-abad, hingga kejadian besar berikutnya.
Banjir terparah terjadi pada tahun 1941. Hujan deras selama sepekan menyebabkan air merendam Ka'bah hingga setengah dari tingginya. Peristiwa ini menjadi pengingat betapa rentannya Makkah terhadap curah hujan ekstrem.
Pada tahun 1979, hujan lebat kembali melanda Makkah, menenggelamkan sebagian kota kelahiran Nabi Muhammad itu.
Dilansir dari buku "Menelusuri Jejak Sejarah Islam Melalui Ritual Ibadah Haji dan Umrah" karya H. Harun Keuchik, dalam musim haji tahun tersebut, hujan yang turun pada pukul 3.00 dini hari berlangsung sekitar tiga jam, disertai kilat dan petir yang menyambar.
Beberapa mobil yang diparkir di pinggir jalan hanyut terbawa arus banjir. Selain itu, ratusan ton lumpur dan batu gunung berserakan di seluruh kota.
Sebagai respons, pemerintah Arab Saudi membangun sistem drainase modern. Infrastruktur ini dirancang untuk menyalurkan air secara cepat dan mencegah genangan besar.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
