
Ilustrasi penusukan. (Freepik/EyeEm)
JawaPos.com–Sebuah tragedi penusukan massal mengguncang Sekolah Kejuruan Seni dan Teknologi Wuxi, Provinsi Jiangsu, pada Sabtu (16/11) malam. Peristiwa terjadi sekitar pukul 18.30 waktu setempat di Kota Yixing, bagian wilayah administrasi Wuxi.
Insiden tersebut menewaskan delapan orang dan melukai 17 lainnya. Pelaku, seorang mahasiswa 21 tahun, bermarga Xu, langsung ditahan di tempat kejadian. Menurut keterangan polisi, Xu diketahui mengalami tekanan mental akibat kegagalan akademik.
”Xu gagal menyelesaikan ujian akhir sehingga tidak bisa lulus. Selain itu, dia merasa tidak puas dengan bayaran saat magang. Hal ini membuatnya nekat melampiaskan frustrasi melalui tindakan penyerangan,” kata pihak kepolisian dalam pernyataan resminya, dilansir dari Apnews.com, Minggu (17/11).
Insiden itu memicu kepanikan di sekitar lokasi. Rekaman yang beredar di platform media sosial X (sebelumnya Twitter) memperlihatkan korban tergeletak dengan luka serius, sementara warga sekitar berusaha memberikan pertolongan darurat.
Namun, di platform media sosial Tiongkok seperti Weibo, informasi terkait peristiwa ini cenderung minim. Hal ini diduga akibat kebijakan penyensoran internet yang ketat di negara tersebut.
Penusukan massal ini menambah daftar panjang tragedi kekerasan di Tiongkok dalam beberapa waktu terakhir. Beberapa hari sebelumnya, sebuah insiden serupa terjadi di Zhuhai, Provinsi Guangdong, di mana seorang pria menabrakkan mobilnya ke kerumunan hingga menyebabkan 35 orang meninggal dunia dan 43 lainnya terluka.
Kekerasan dengan motif serupa juga tercatat di berbagai wilayah lain. Pada Oktober lalu, seorang pria menyerang sebuah sekolah di Beijing dan melukai lima anak.
Pada September, insiden penusukan di supermarket Shanghai menyebabkan tiga orang meninggal dan 15 terluka, yang dipicu masalah pribadi pelaku. Tragedi ini menggambarkan bahwa tekanan sosial dan masalah pribadi kerap menjadi pemicu tindakan ekstrem di Tiongkok.
Para ahli menilai bahwa meskipun pemerintah Tiongkok memiliki aturan ketat terhadap kepemilikan senjata api, kurangnya dukungan kesehatan mental di tingkat masyarakat menjadi salah satu faktor yang memicu lonjakan kasus kekerasan. Selain itu, keterbatasan akses informasi akibat penyensoran internet sering kali mengaburkan pemahaman masyarakat tentang penyebab mendasar dari tragedi semacam ini.
Peristiwa di Wuxi menjadi pengingat akan pentingnya langkah-langkah pencegahan kekerasan, terutama di lingkungan pendidikan. Pemerintah dan institusi terkait diharapkan meningkatkan upaya keamanan dan menyediakan dukungan psikologis bagi mahasiswa untuk mencegah insiden serupa di masa depan.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
