
DAMPAK SERANGAN: Petugas keamanan dan pemadam kebakaran di lokasi bangunan yang jadi sasaran tembak misil Iran di Arbil.
JawaPos.com - Eskalasi yang lebih kuat sebagai buntut serangan Iran sangat mungkin terjadi. Namun, belum akan jadi perang terbuka. "Walaupun mungkin mereka, baik Iran maupun Amerika Serikat (AS), mungkin sangat ingin (perang secara langsung) itu," ungkap Direktur Eksekutif Aliansi Indonesia Damai Hasibullah Satrawi saat dihubungi Jawa Pos kemarin (16/1).
Menurutnya, AS tentu sangat berhitung lantaran mereka akan menyelenggarakan pemilihan umum. Ditambah situasi global yang tidak menentu seperti saat ini.
Ada sejumlah hal, kata Satrawi, yang bisa dicermati dari kian meluasnya konflik di Timur Tengah. Salah satunya, konflik yang meluas ini jadi pertanda bahwa Israel tak ingin berhenti hanya di Gaza.
Meski perang atau serangan tak akan dilakukan secara langsung oleh Israel. Hal itu terlihat dari pelibatan AS dan Inggris dalam penyerangan ke Houthi di Yaman. Padahal, aksi Houthi jelas menyasar Israel sejak awal. "Secara politik, ada strategi yang dimainkan Israel. Israel ingin musuh-musuhnya diamankan semua," jelas alumnus Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, itu.
Penyelesaian konflik perlu dilihat hingga ke akar persoalan yang ada: penjajahan atas Palestina. Memang, jika ditarik mundur pada 7 Oktober 2023, Hamas yang memulai serangan ke Israel. "Namun, perlu dipahami pula bahwa Hamas tak lahir di ruang hampa. Hamas lahir dalam konteks sosial politik, dalam hal ini penjajahan," katanya.
Dari Surabaya, pakar geopolitik Timur Tengah dari Universitas Airlangga M. Muttaqien menyebut serangan Iran ke markas Mossad adalah buntut dari pembunuhan terhadap petinggi Hamas Saleh Arouri pada 3 Januari lalu.
Apalagi, serangan itu dilakukan di wilayah Lebanon yang dikuasai Hizbullah, sekutu dekat Iran. "Jadi, secara tidak langsung, serangan Iran merupakan balasan atas serangan Israel di Lebanon," terang Muttaqien.
Serangan Iran, menurut Muttaqien, kecil kemungkinan menyulut eskalasi besar-besaran. Sebab, konfrontasi kedua pihak masih bersifat proxy war.
Proxy war merupakan peperangan secara tidak langsung antara dua kubu melalui pihak ketiga. ’’Jadi, mereka masih saling serang di wilayah kayak Lebanon, Iraq, atau Syria,’’ tutur dosen Hubungan Internasional Unair itu.
Eskalasi besar-besaran, menurut dia, baru akan terjadi saat kedua pihak memutuskan menyerang secara langsung. ’’Beda kalau Iran misalnya menargetkan wilayah Israel secara langsung. Maka, pasti Israel akan membalas secara terbuka,’’ tutur Muttaqien.
Israel dinilainya sedang kewalahan akibat perang melawan tiga pihak sekaligus: Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, dan Houthi di Yaman. ’’Israel pasti berhitung benar kalau ingin membuka front baru melawan Iran,’’ papar Muttaqien. (mia/leh/c18/ttg)

Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Analisis Prediksi Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Kans Besar Three Lions Lolos ke Semifinal!
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
Tak Singgung Pengunduran Diri, Ini 6 Poin Pernyataan Jampidsus Febrie Adriansyah Usai Rumahnya Digeledah Polisi
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: Tembok Tebal La Roja Bakal Sulitkan Setan Merah!
Rekor 12 Pertemuan Norwegia vs Inggris: Three Lions Superior, Mampukah Erling Haaland Cs Mematahkan Dominasi?
Sepak Bola Indonesia Berduka, Tokoh Suporter Persebaya Surabaya Andie Peci Meninggal Dunia
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
