
Terumbu karang Iroquois yang sering dikunjungi nelayan Filipina bagian dari ZEE sepanjang 200 mil./Reuters
JawaPos.com – Filipina sedang mempertimbangkan untuk melaporkan Tiongkok atas perusakan terumbu karang di zona ekonomi ekslusif atau (ZEE) di Laut China Selatan.
Tuduhan tersebut ditolah oleh Beijing karena dianggap sebagai upaya untuk menciptakan drama polituk.
Kementerian Luar Negeri Filipin pada Kamis (21/9) kemarin mengatakan sedang menunggu penilaian dari pihak terkait mengenai kerusakan lingkungan di Iroquois Reef di kepulauan Spratly.
Filipina sedang mempelajari kemungkinan untuk mengajukan kasus hukum kedua ke Pengadilan Arbitrase Permanen (PCA) di Den Haag, pada kasus pertama yang diajukan tahun 2013 yang menentang klaim atas wilayah Tiongkok Filipina tersebut menang.
Dilansir dari Reuters, Sabtu (23/9), kasus ini tidak hanya dipicu oleh kerusakan terumbu karang tetapi juga adanya insiden lain dan situasi keseluruhan di Laut Filipina Barat, laporan tersebut akan dikirim kepada Presiden Ferdinand Marcos Jr dan pihak luar kementerian Manila.
Pihak departemen luar negeri Filipina mengatakan setiap negara yang memasuki ZEE dan zona maritim Filipina wajib melindungi dan melestarikan lingkungan laut yang ada di sana.
Setiap langkah untuk melakukan arbitrase akan menjadi sangat kontroversial setelah kemenangan penting Filipina pada 2016 dalam kasus melawan Tiongkok yang mengklaim kedaulatan Beijing atas sebagian besar Laut Cina Selatan yang tidak memiliki dasar hukum internasional.
Iroquois Reef dekat dengan Reed Bank tempat yang memiliki cadangan gas yang suatu saat akan diakses oleh Filipina, akan tetapi akan menjadi rumit karena klaim wilayah tersebut dari Tiongkok.
“Kami mendesak pihak terkait di Filipina untuk berhenti membuat drama fiksi politik,” kata Kedutaan besar di Filipina pada Kamis (21/9).
Penjaga pantai dan angkatan bersenjata Filipina awal pekan ini melaporkan kerusakan parah yang timbul pada lingkungan laut dan karang di wilayah terumbu karang Iroquois tempat 33 kapal Tiongkok ditambatkan pada bulan Agustus dan September.
Mereka menggambarkan kapal-kapal tersebut merupakan kapal pukat ikan yang sedang memanen karang untuk bahan batu kapur dan kontruksi obat-obatan tradisional serta souvenir perhiasan.
Tiongkok telah menegaskan klaim kedaulatannya atas wilayah Spratly dengan serangkaian pulau buatan yang dibangun di atas terumbu karang lengkap dengan ladasan pacu, gantungan, radar, dan sistem rudal.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
