Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 Juli 2023 | 22.52 WIB

Fenomena ‘Panic Buying’ Garam di Korea Selatan, Ternyata ini Penyebabnya

Harga garam melonjak di tengah kekhawatiran rencana Jepang membuang air limbah di Korea Selatan (The Independent) - Image

Harga garam melonjak di tengah kekhawatiran rencana Jepang membuang air limbah di Korea Selatan (The Independent)

Jawapos.com – Warga Korea Selatan ramai-ramai melakukan ‘panic buying' alias memborong garam di pasaran. Fenomena ini terjadi karena rencana Jepang yang akan menumpahkan lebih dari satu juta metrik ton air ke Samudera Pasifik. Air ini berasal dari pembangkit listrik Fukushima.

Dikutip JawaPos.com dari laman The Independent, Jepang berencana menumpahkan lebih dari satu juta metrik ton air yang digunakan untuk mendinginkan reaktor yang rusak setelah gempa bumi dan tsunami pada 2011.

Tokyo telah meyakinkan bahwa air yang akan ditumpahkan aman dan telah disaring untuk menghilangkan isotop, meskipun mengandung jejak tritium, isotop hidrogen yang sulit dipisahkan dari air.

Walaupun Jepang belum menetapkan tanggal pastinya, pengumuman ini telah membuat para nelayan dan warga Korea Selatan khawatir. Otoritas perikanan Korea Selatan telah berjanji untuk meningkatkan upaya memantau tambak garam alami untuk setiap kenaikan zat radioaktif dan mempertahankan larangan makanan laut dari perairan dekat Fukushima.

"Saya baru saja membeli lima kilogram garam," ungkap Lee Young-min, ibu dua anak berusia 38 tahun yang mengatakan bahwa dia belum pernah membeli garam sebanyak itu sebelumnya.

"Sebagai seorang ibu yang membesarkan dua anak, saya tidak bisa hanya duduk dan tidak melakukan apa-apa. Saya ingin memberi mereka makan dengan aman," pungkasnya kepada Reuters dikutip Jumat (7/7).

Fenomena panic buying telah menyebabkan kenaikan harga garam di Korea Selatan sebesar 27 persen pada Juni, meskipun para pejabat mengatakan cuaca dan produksi yang lebih rendah juga menjadi salah satu alasan penyebabnya.

Pemerintah Korea Selatan menanggapi hal ini dengan memutuskan untuk melepaskan sekitar 50 metrik ton garam per hari dari stok, dengan diskon 20 persen dari harga pasar, hingga 11 Juli.

Yang jelas, lebih dari 85 persen publik Korea Selatan menentang rencana Jepang, menurut sebuah survei oleh lembaga survei Research View. Tujuh dari 10 orang dilaporkan mengatakan bahwa mereka akan mengkonsumsi lebih sedikit makanan laut jika pembuangan air limbah dilanjutkan.

Hyun Yong-gil, seorang pemilik toko grosir garam di Korea Selatan mengatakan bahwa penjualan awal bulan ini meningkat 40 hingga 50 persen meskipun harga melonjak.

"Akhir-akhir ini kami mendapatkan lebih banyak pelanggan dari biasanya dan banyak dari mereka tampak khawatir dengan rencana pelepasan air limbah," kata Hyun Young-gil.

Rafael Mariano Grossi, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), mengatakan metode yang dipilih Jepang layak secara teknis dan sejalan dengan praktik internasional.

Grossi dijadwalkan berkunjung ke Jepang minggu depan untuk bertemu dengan para pemimpin Jepang dan melihat persiapan akhir pelepasan air limbah radioaktif yang diolah tersebut.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore