
Armed commando soldiers carry a person out of Terminal 21 Korat mall in Nakhon Ratchasima, Thailand, Sunday, Feb. 9, 2020. A gunman described as a soldier angry over a financial dispute killed a few people and then went on a far bloodier rampage Saturday
JawaPos.com – Tok tok tok... Suara ketukan di pintu toilet itu membuat dada Chanathip Somsakul berdegup kencang. Saat itu Chanathip dan beberapa orang lain sedang bersembunyi di toilet yang berada di lantai 4 mal Terminal 21. Mereka bersembunyi dari tentara yang berkeliaran menembaki pengunjung mal.
”Seorang perempuan tanya siapa yang mengetuk. Tapi, tak ada jawaban,” ungkap guru musik itu kepada Agence France-Presse. Pada akhirnya, mereka sepakat tak membuka pintu toilet. Mereka sudah susah payah menjebol salah satu pintu bilik dan menggunakannya sebagai pengganjal. Kalau ternyata yang di balik pintu adalah sang penembak, hidup mereka pasti tamat.
Perempuan 33 tahun itu cukup beruntung. Dia sedang makan di mal Terminal 21 bersama keluarga saat tembakan beruntun terdengar. ”Kebetulan teman saya bekerja di mal itu. Dia meminta petugas melihat lokasi penembak melalui CCTV dan menyampaikan informasi itu ke kami,” jelas Chanathip.
Pengunjung lain tak seberuntung dia. Ada yang harus bersembunyi di bawah meja restoran, ruang persediaan toko, bahkan dalam lemari. Mereka tak tahu siapa yang mereka hadapi. Tapi, mereka tahu bahwa penembak hari itu sangat menakutkan.
”Kejadian ini seperti film Hollywood. Tembakan meluncur tanpa henti,” ujar Mayor Jenderal Jirapob Puridet, ketua tim yang ditunjuk menangani kasus itu, kepada CNN.
Photo
OLAH TKP: Tim Forensik mencari bukti di lokasi penembakan. (Wason Wanichakorn/AP Photo)
Yang datang meneror pusat perbelanjaan di Kota Nakhon Ratchasima alias Korat memang bukan orang biasa. Dia adalah Letnan Satu Jakrapanth Thomma dari 22nd Ammunition Battalion. Jakrapanth datang ke pusat perbelanjaan itu pada Sabtu sore dan menembaki pengunjung yang dia temui.
Menembak acak tidak berarti menembak sembarangan. Diaw, salah seorang pengunjung yang berhasil kabur, mengatakan bahwa si penembak selalu membidik kepala korban. ”Dia menembak ke segala arah, tapi tembakannya sangat akurat,” ujar dia kepada Amarin TV.
Selama 17 jam, prajurit tersebut berhasil menduduki pusat perbelanjaan di Distrik Muang itu. Dia sempat bertahan di lantai 4 dengan menyandera beberapa pengunjung mal. Yang membuat aparat khawatir adalah peralatan yang dibawa.
Aksi Jakrapanth sebenarnya bermula jauh dari pusat keramaian Korat. Lebih tepatnya di Suatham Phithak Military Camp. Sore itu dia membunuh atasannya, Anantharot Krasae, lalu mengambil satu senapan mesin beserta 800 amunisi dari gudang senjata.
”Ini bukan kelalaian. Tentara tak mungkin meninggalkan gudang senjata tanpa penjaga,” ucap Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha. Menurut Prayut, Jakrapanth merupakan tentara yang cakap. Terutama dalam aspek senjata. Pria 33 tahun itu pernah memenangi beberapa kompetisi menembak.
Keterampilan khusus yang disertai dengan ratusan peluru membuat penembak masal itu sangat berbahaya. Salah seorang personel dalam kelompok pertama yang berusaha melumpuhkan Jakrapanth justru meninggal. Jakrapanth juga melukai tiga petugas lainnya.
Secara total, tembakannya membunuh 26 orang dan melukai 57 lainnya. Sebanyak 12 korban luka harus menjalani operasi di rumah sakit dengan dua di antaranya melalui operasi otak.
Pada akhirnya, Jakrapanth dapat dilumpuhkan dengan peluru tajam. Kepala Crime Suppression Division Kepolisian Thailand Jirabhob Bhuridej mengatakan, Jakrapanth ditembak mati pukul 09.00. Mereka terpaksa mengambil langkah tersebut setelah mendapat kabar beberapa pengunjung terjebak di ruang pendingin.
”Mereka menyampaikan bahwa level oksigen di sana sangat rendah dan mereka mulai susah bernapas,” papar Puridet.
Sebelumnya, aparat sudah berupaya membujuk Jakrapanth agar menyerah. Mereka sampai memanggil ibu kandungnya untuk ikut bicara. Namun, sang ibu pun menyerah sambil menjelaskan bahwa anaknya mengalami depresi dan gampang marah.
Photo
DILUMPUHKAN: Wajah Jakrapanth Thomma diambil dari screenshot laman Facebook. (SOCIAL MEDIA/AFP)
Jakrapanth sempat mem-posting beberapa unggahan di akun Facebook-nya. Salah satunya mengatakan bahwa dia sudah tak kuat lagi menarik pelatuk senapan. Dia juga sempat meminta saran apakah perlu menyerah. ”Pada akhirnya, polisi berhasil menyelamatkan delapan sandera yang sedang ditawan. Beberapa memang terluka,” ujar salah seorang petugas yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
