Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 24 November 2019 | 05.05 WIB

Korban Demo Iraq Terus Berjatuhan, 340 Orang Dikabarkan Tewas

An anti-government protester throws throw back a tear gas canister fired by police during clashes in Baghdad, Iraq, Friday, Nov. 22, 2019. Iraq - Image

An anti-government protester throws throw back a tear gas canister fired by police during clashes in Baghdad, Iraq, Friday, Nov. 22, 2019. Iraq

JawaPos.com – Daftar korban jiwa terus bertambah dalam unjuk rasa anti pemerintah di Baghdad, Iraq, Jumat (22/11). Setidaknya tiga pengunjuk rasa meninggal setelah diberondong peluru tajam dan gas air mata.

Selama empat minggu terakhir, massa menduduki Tahrir Square untuk menuntut pembubaran pemerintah. Selama masa itu, 340 orang dikabarkan meninggal. Korban jiwa terbaru merupakan pengunjuk rasa yang berusaha menyeberangi jembatan menuju tepi barat Sungai Tigris. ”Kami akan terus berunjuk rasa sampai tuntutan kami dipenuhi,” ujar Nasir Al Qassab, salah seorang pendemo.

Jembatan itu mengarah ke rumah dinas parlemen, kantor perdana menteri, dan beberapa kedutaan besar. Aparat Iraq diperintahkan untuk mencegah demonstran memasuki wilayah tersebut.

Menurut Agence France-Presse, dua orang meninggal karena luka peluru tajam. Sedangkan satu orang meninggal karena trauma setelah terkena kaleng gas air mata. Sebanyak 30 orang juga dilaporkan terluka dalam demo kemarin.

Masyarakat Iraq sepertinya bertekad untuk menggulingkan pemerintah. Massa yang menuntut pembubaran pemerintah dan parlemen itu juga menyebar ke kota-kota selatan seperti Hillah, Nasiriyah, dan Diwaniyah. Usulan untuk mengubah konstitusi pun ditolak.

”Mereka hanya ingin meredam momen rakyat,” ujar Qassab.

Sehari sebelumnya, Al Jazeera melaporkan, tujuh warga Iraq terbunuh dalam aksi demo. Sebanyak 78 demonstran lainnya terluka. Namun, korban-korban tersebut sepertinya tak bisa menciutkan nyali pendemo lainnya.

Mereka sudah muak dengan kabinet Perdana Menteri Adel Abdul Mahdi. Menurut rakyat, kabinet tersebut sudah dipenuhi koruptor. Mereka juga tak bisa memberikan layanan ideal meski punya kekayaan minyak yang luar biasa.

”Kalau bisa berjalan, saya pasti akan kembali berdemo,” ungkap Hamza. Remaja berusia 16 tahun tersebut mengalami patah tulang punggung dan kaki lumpuh karena aksi aparat.

Namun, pemerintah Iraq berkata lain. Menteri Pertahanan Iraq Najah Al Shammari mengatakan, aparat pemerintah sama sekali tidak menggunakan peluru tajam. Sejak Oktober, dia sudah memberikan perintah agar polisi dan tentara tak menggunakan peluru tajam.

”Oknum sengaja menembak dengan peluru tajam untuk memperkeruh suasana. Mereka juga membunuh pasukan kami,” ungkap dia menurut Arab News.

Oknum yang dimaksud Shammari adalah faksi yang disokong Iran. Berkali-kali Mahdi menuduh kelompok militan itu sebagai pihak yang bertanggung jawab atas masalah di Iraq.

Editor: Edy Pramana
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore