Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 16 Januari 2017 | 17.41 WIB

Ramai-Ramai Boikot Inaugurasi Donald Trump

REHEARSAL: Gedung Capitol, kantor Kongres AS, saat geladi resik pengambilan sumpah Donald Trump sebagai presiden kemarin (15/1). - Image

REHEARSAL: Gedung Capitol, kantor Kongres AS, saat geladi resik pengambilan sumpah Donald Trump sebagai presiden kemarin (15/1).

JawaPos.com - Suka tidak suka Amerika Serikat (AS) dan dunia harus menerima kenyataan bahwa negara dengan ekonomi, teknologi, dan pertahanan terkuat di muka bumi itu akan dipimpin Donald Trump. Namun, tetap saja ada langkah, baik langsung maupun simbolis, untuk menolak taipan 70 tahun tersebut berkantor di Gedung Putih.

Misalnya, yang dilakukan 18 legislator Partai Demokrat ini. Mereka telah menyatakan tidak akan datang ke inaugurasi yang digelar pada Jumat (20/1). 

Aksi boikot tersebut bermula dari temuan intelijen bahwa Rusia telah ikut membantu memenangkan Trump. Jumat (13/1) legislator Demokrat dari Georgia John Lewis menyatakan tidak akan hadir di inaugurasi Trump. Menurut pejuang hak-hal sipil itu, suami Melania Knauss tersebut bukanlah presiden yang sah. 

"Anda tidak bisa merasa nyaman dengan sesuatu yang Anda rasa salah," ujarnya saat diwawancarai NBC. Dia menegaskan, campur tangan Rusia telah menghancurkan pencalonan Hillary Clinton. 

Trump yang mengetahui komentar Lewis itu tidak terima. Dia membalasnya melalui cuitan di akun Twitter-nya pada Sabtu (14/1). "Anggota Kongres John Lewis seharusnya menghabiskan lebih banyak waktunya untuk memperbaiki dan membantu distriknya, yang kondisinya mengerikan dan berantakan (belum lagi kasus kejahatan yang menyelimutinya) daripada mengeluhkan hal yang tidak tepat tentang hasil pemilu. Hanya bicara, bicara, bicara, tidak ada aksi ataupun hasilnya, me­nyedihkan," cuit Trump. 

Kebiasaan Trump menyerang siapa saja yang tidak sejalan dengannya benar-benar tidak pandang bulu. Padahal, Lewis adalah tokoh yang sangat dihormati. Baik oleh Demokrat maupun Republik. Legislator berusia 77 tahun tersebut turut berjuang turun ke jalan bersama Martin Luther King Jr pada 27 Agustus 1963 di Washington. March on Washington, sebutan peristiwa itu, adalah aksi massa terbesar sepanjang sejarah AS. Mereka memperjuangkan kesetaraan hak-hak sipil dan ekonomi bagi warga kulit hitam dan mengakhiri rasisme di negara Paman Sam tersebut. Lewis adalah satu-satunya pembicara yang masih hidup dalam aksi bersejarah itu. 

Hinaan Trump terhadap Lewis berbuntut. Tujuh belas anggota Demokrat langsung menyatakan diri ikut memboikot inaugurasi Trump. Salah satunya adalah legislator dari New York Yvette Clarke. "Saya tidak akan menghadiri inau­gurasi @realDonaldTrump. Ketika kamu menghina @repjohnlewis, kamu juga hina Amerika," cuitnya. 

Sementara itu, sekitar 2 ribu orang anti-Trump akhir pekan lalu turun ke jalan di dekat Martin Luther King Jr Memorial. Mereka memperjuangkan hak-hak minoritas dan Obamacare yang akan dihapus Trump. 

Ada 30 organisasi anti-Trump yang mendapatkan izin untuk menggelar aksi sebelum, selama, dan setelah inaugurasi Donald Trump. Ribuan orang menyatakan akan memblokade pengambilan sumpah calon orang paling berkuasa di dunia itu. Kepolisian Washington dan agen rahasia berencana menempatkan 3 ribu personel tambahan dan 5 ribu anggota Garda Nasional untuk menjaga keamanan. (Reuters/BBC/CNNN/Politico/sha/c10/sof) 

Editor: Thomas Kukuh
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore