alexametrics

Insiden Penembakan Demonstran, Warga Hongkong: Polisi Sulut Perang!

12 November 2019, 09:58:04 WIB

JawaPos.com – Krisis Hongkong meningkat usai insiden penembakan polisi terhadap seorang demonstran dari jarak dekat di distrik timur Sai Wan Ho, Senin (11/11) pagi waktu setempat. Beberapa saat setelah insiden berdarah itu, pemimpin Hongkong, Carrie Lam menegaskan bahwa aksi unjuk rasa yang kembali masif dan anarkisme dari demonstran tak bisa menekan pemerintah.

Dalam insiden itu, polisi Hongkong melepaskan tembakan dan melukai satu pengunjuk rasa selama kericuhan yang disiarkan langsung di Facebook. Peristiwa itu terjadi dalam aksi pemblokiran demonstran yang kecewa dan marah akibat meninggalnya siswa bernama Alex Chow pada Jumat (8/11). Dia sebelumnya mengalami luka-luka usai terjadi pembubaran paksa demonstrasi yang dilakukan oleh polisi.

Baca juga: Hongkong Memanas, Polisi Tembak Seorang Demonstran dari Jarak Dekat

Insiden penembakan dari jarak dekat dan membuat demonstran dalam kondisi kritis telah memicu kemarahan warga Hongkong. Salah seorang pemilik restoran bernama Marco Tam, 28, menyebut polisi telah menyulut atau mendeklarasikan perang terbuka.

“Polisi menyerang seorang warga negara tak bersenjata dengan peluru tajam. Ini deklarasi perang terbuka dari polisi,” sebut Tam. “Itulah sebabnya orang-orang Hongkong tidak percaya pada polisi. Mereka bukan lagi penegak hukum yang sah karena mereka tidak harus mempertanggungjawabkan tindakan mereka meski telah melakukan penembakan,” imbuh Tam seperti dilansir Aljazeera.

Tam dan sejumlah warga Hongkong lainnya menyebut sudah saatnya polisi kembali ke markas dan tak berkeliaran di jalan karena justru menimbulkan kekacauan. “Polisi seharusnya kembali ke markas secepatnya untuk meredakan situasi,” imbuh Tam.

Itu menjadi suara ketidakpercayaan warga Hongkong terhadap aparat kepolisian dalam menangangi unjuk rasa selama ini. Justru, tindakan represif mereka dinilai menyulut perang terbuka. Warga hongkong menilai para demonstran justru akan semakin marah dan unjuk rasa bakal semakin besar.

Senada dengan Tam, salah seorang warga bernama Jenny Tse, seperti dilansir Aljazeera, mengaku heran dan kaget dengan tindakan polisi tersebut. “Saya tidak mengerti bagaimana penembakan itu dilakukan. Para petugas bahkan jarang menembaki para penjahat kelas kakap,” sebut Tse.

Sementara itu, Carrie Lam dalam pidato yang disiarkan televisi pada Senin (11/11) mengatakan pemerintah akan semakin bertindak tegas ketika demonstran juga semakin anarkis. “Kekerasan telah di luar batas. Para demonstran sekarang menjadi musuh rakyat,” sebut Lam seperti dilansir Aljazeera.

“Jika masih ada angan-angan bahwa dengan meningkatnya kekerasan, pemerintah Hongkong akan menyerah pada tekanan, untuk memenuhi tuntutan politik demonstran, saya menegaskan itu tak akan pernah terjadi. Pemerintah tak akan menyerah dengan tekanan!” tegas Lam.

Hongkong telah diguncang unjuk rasa sejak awal Juni lalu yang dipicu oleh RUU Ekstradisi yang akan memungkinkan ekstradisi individu-individu yang dituduh berbuat jahat ke daratan Tiongkok untuk diadili. Meski para pejabat secara resmi mencabut RUU itu dua minggu lalu, kemarahan publik belum reda. Hal itu lantaran penolakan pemerintah terhadap tuntutan lain pengunjuk rasa yakni penyelidikan independen terhadap dugaan kebrutalan polisi; amnesti bagi hampir 600 orang yang dituduh melakukan pelanggaran yang merupakan demonstran; pencabutan klaim polisi bahwa pengunjuk rasa bersalah atas kerusuhan; dan hak pilih universal untuk memilih legislatif secara penuh dan kepala eksekutif.

Dalam beberapa minggu terakhir, seruan untuk membubarkan, atau setidaknya mereorganisasi kepolisian telah merebak. Tindakan polisi selama ini memunculkan kemarahan publik. Mereka menuduh polisi dalam penggunaan kekuatan yang membabi buta dan merajalela.

Editor : Edy Pramana



Close Ads