Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 12 Mei 2021 | 22.49 WIB

Vaksin Sinovac di Dunia Nyata Sangat Efektif Dibanding Uji Klinis

Sejumlah tenaga kesehatan mengikuti vaksinasi dosis pertama vaksin COVID-19 Sinovac di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (4/2/2021). Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar vaksinasi dengan menargetkan 6.000 orang tenaga kesehatan - Image

Sejumlah tenaga kesehatan mengikuti vaksinasi dosis pertama vaksin COVID-19 Sinovac di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (4/2/2021). Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar vaksinasi dengan menargetkan 6.000 orang tenaga kesehatan

JawaPos.com - Vaksin Sinovac dari Tiongkok yang telah digunakan di banyak negara, termasuk Indonesia, dinilai manjur. Di Indonesia, tenaga kesehatan yang sudah diberi suntikan Sinovac menunjukkan efektivitas karena tidak mudah terpapar Covid-19. Ini menjadi hal yang menggembirakan bagi lusinan negara berkembang yang bergantung pada vaksin asal Tiongkok yang sempat dinilai kontroversial. Pasalnya, dalam uji klinis menunjukkan kinerja lebih buruk dibandingkan vaksin Barat.

Dilansir Bloomberg, Indonesia melacak 25.374 petugas kesehatan di Jakarta selama 28 hari setelah mereka menerima dosis kedua vaksin Sinovac dan menemukan bahwa vaksin tersebut melindungi 100 persen dari kematian dan 96 persen dari rawat inap setelah tujuh hari. Hal ini seperti dikatakan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam sebuah wawancara Selasa (11/5). Para pekerja kesehatandilacak hingga akhir Februari 2021.

Menkes Budi Gunadi juga mengatakan bahwa 94 persen pekerja medis telah terlindungi dari infeksi Covid-19 dan ini hasil luar biasa yang melampaui saat uji klinis. Namun, tidak dijelaskan apakah pekerja medis disaring secara seragam untuk mendeteksi pembawa asimtomatik. “Kami melihat penurunan yang sangat, sangat drastis dalam rawat inap dan kematian di antara pekerja medis," sebut Menkes Budi Gunadi.

Baca juga: Ahli Australia Puji Sinovac Manjur Cegah Infeksi Covid-19 yang Berat

Data di Indonesia tersebut seakan memupus data di Brasil bahwa vaksin Sinovac lebih efektif saat digunakan dalam vaksinasi sesungguhnya dibanding saat pengujian. Seperti diketahui, dalam pengujian muncul tingkat efektivitas yang berbeda dan mengundang pertanyaan mengenai transparansi data. Hasil dari uji coba Fase III di Brasil menunjukkan tingkat kemanjuran vaksin Sinovac yang bernama CoronaVac hanya sedikit di atas 50 persen. Itu hasil uji klinis Fase III terendah di antara semua vaksin Covid-19 generasi pertama.

Sementara itu, juru bicara Sinovac di Tiongkok mengatakan perusahaan tidak dapat mengomentari studi di Indonesia sampai memperoleh rincian lebih lanjut.

Baca juga: Dipuji Manjur Lawan Covid-19, Eropa Mulai Lirik Vaksin Sinovac

Dalam wawancara terpisah dengan Bloomberg pada Selasa (11/5), CEO Sinovac Yin Weidong tak mempermasalahkan perbedaan data klinis dan mengatakan ada bukti yang berkembang bahwa CoronaVac memiliki kinerja lebih baik ketika diterapkan di dunia nyata.

Akan tetapi, dalam penggunaan dunia nyata juga menunjukkan bahwa kemampuan vaksin Sinovac untuk mencegah wabah membutuhkan banyak orang divaksinasi. Ini sebuah skenario yang tidak dapat dicapai oleh negara berkembang dengan infrastruktur kesehatan yang buruk dan akses terbatas untuk mendapatkan vaksin.

Baca juga: Vaksin Sinovac 80 Persen Cegah Kematian Lansia Usai 14 Hari Disuntik

Dalam studi pekerja kesehatan Indonesia, dan studi lainnya di kota di Brasil, Serrana, yang berpenduduk 45.000 orang, hampir 100 persen orang yang diteliti telah divaksinasi penuh. Hasilnya, keparahan dan kematian menurun setelah warga diinokulasi.

Sebaliknya, di Cile, mengalami kemunculan wabah kembali setelah memvaksinasi lebih dari sepertiga populasi 19 juta. Tapi, tidak cukup cepat untuk menghentikan penyebaran varian agresif yang melanda Amerika Latin.

“Kelompok orang yang paling awal divaksinasi di Cile adalah orang tua. Kurang dari 15 juta dosis yang diberikan ke Cile berarti hanya 7 juta orang yang bisa mendapatkan suntikan Sinovac. Itu sama dengan 36 persen dari populasi 19 juta," ungkap Yin. “Itu normal bahwa negara melihat peningkatan infeksi karena aktivitas sosial meningkat di antara orang-orang muda yang sebagian besar tidak diinokulasi," imbuhnya.

Yin menambahkan, di antara orang yang divaksinasi CoronaVac di Cile, 89 persen terlindungi dari Covid-19 serius yang membutuhkan perawatan intensif.

Menurut Yin, perlindungan vaksin kemungkinan akan bervariasi dari satu tempat ke tempat lain karena adanya varian virus baru. Tapi, suntikan vaksin Sinovac tampaknya bertahan dengan baik terhadap mutasi baru yang saat ini tengah menjadi perhatian.

Pertanyaan utama untuk semua vaksin Covid-19 adalah apakah vaksin-vaksin tersebut dapat mencegah atau menghalangi penularan virus yang sesungguhnya. Yin mengatakan bahwa Sinovac belum tahu apakah suntikannya dapat menghentikan atau mengurangi penularan virus Korona sejak awal. Namun, fakta bahwa vaksin Sinovac mampu mencegah keparahan dan kematian, itu lebih penting.

Di satu sisi, vaksin Covid-19 yang menggunakan metode mRNA yang dikembangkan oleh BioNTech SE dan Pfizer Inc. telah terbukti lebih dari 90 persen efektif dalam mencegah penularan di Israel. Sementara itu, vaksin non-mRNA, seperti halnya Sinovac, tidak mungkin seefektif itu dalam mencegah penularan. Semakin banyak bukti bahwa suntikan Sinovac berhasil adalah anugerah bagi misi Tiongkok untuk memasok negara berkembang dalam upaya untuk meningkatkan pengaruh dan kedudukannya. Ini juga merupakan pembenaran di tengah kritik bahwa pengembang vaksin Tiongkok mengungkapkan lebih sedikit data dan kurang transparan tentang kejadian buruk yang parah dibandingkan dengan perusahaan barat.

“Hasil dari penggunaan dunia nyata dan data ilmiah yang kami miliki dari uji klinis akan memungkinkan dunia untuk menilai vaksin kami secara komprehensif,” kata Yin. “Kami mendorong mitra dan pemerintah kami di negara tempat vaksin kami digunakan untuk merilis data tersebut secepat mungkin," imbuhnya.

Sementara itu, Helen Petousis-Harris, ahli vaksinasi di University of Auckland, mengatakan bahwa kemampuan vaksin untuk mengendalikan suatu penyakit bisa lebih tinggi di dunia nyata dibandingkan hasil dalam uji klinis. “Dalam pengalaman saya, kami sering gagal memprediksi dampak vaksin secara keseluruhan, sesuatu yang hanya bisa dilihat di dunia nyata setelah digunakan secara luas,” katanya. “Mengurangi sebagian besar penyakit tidak hanya penting untuk menyelamatkan nyawa tetapi juga untuk mengurangi kemungkinan munculnya varian bermasalah," imbuh Helen.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore