
Cara ambil DNA tanaman
JawaPos.com - Para ilmuwan sedang membangun database DNA untuk melawan pembalakan liar yang menjadi musuh bersama di seluruh dunia. Mereka menggunakan ‘ilmuwan warga’ atau warga setempat di sekitar hutan untuk mengumpulkan sampel pohon-pohon yang ada disekitarnya.
Proyek ini bertujuan untuk memerangi pembalakan liar, dan menempatkan para penjahat kayu ke dalam jeruji besi. Caranya, dengan membangun database DNA pohon, yang kemudian dapat membantu pihak berwenang menentukan apakah kayu yang dijual di pasar diambil dari kawasan lindung secara ilegal.
Inisiatif ini merupakan sebuah kolaborasi antara Pemerintah Norwegia dan program internasional Dinas Kehutanan Amerika Serikat (AS). Pada awalnya proyek ini akan berfokus pada pembuatan database untuk pohon maple bigleaf di Pantai Barat AS.
Kemudian ilmuwan bersama orang-orang yang sadar ligkungan bekerja sama mengumpulkan sample pohon untuk pengujian DNA. Gagasan awal dari proyek ini adalah mahalnya harga kayu maple bigleaf yang menjadi target pencurian para mafia kayu.
Kemudian pada 2015 lalu, di mana pemilik pabrik pemotongan kayu mengakui bahwa dia curiga bahwa kayu yang dia beli tidak diperoleh secara legal.
Lalu pihak berwenang menggunakan tes DNA untuk membuktikan bahwa batang kayu itu memang diambil dari hutan nasional.
Sementara Dinas Kehutanan AS harus mengumpulkan tim ahli untuk insiden itu, inisiatif ini juga bergantung pada sukarelawan dan warga setempat yang disebut sebagai ‘ilmuwan warga’. Jika warga tertarik, mereka harus menyelesaikan kursus pelatihan secara online dan lulus tes untuk menunjukkan warga yang ikut, memahami cara mengumpulkan sampel pohon.
Selain mengambil daun atau sepotong kayu di lingkungan. Mereka juga harus menggunakan aplikasi, yang menanyakan sejumlah pertanyaan tentang spesimen, saat berada di lapangan.
Harapannya pengumpulan sampel secara sukarelawan dapat berfungsi sebagai bukti DNA yang penting untuk kasus penebangan liar di masa depan. Norwegia dan Dinas Kehutanan AS percaya proyek itu akhirnya dapat diperluas untuk mencakup lebih banyak spesies dan lebih banyak wilayah di seluruh dunia.
Mereka berencana untuk meluncurkan upaya serupa di Indonesia. Mereka juga mengincar Peru di mana penebangan liar sangat merajalela seperti dilansir The New York Times, Minggu, (24/6).

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
