Warren Buffett, ikon filantropi global, menandai komitmen para miliarder untuk menyumbangkan sebagian kekayaannya bagi kegiatan amal (Dok. Fortune)
JawaPos.com - Dunia filantropi global tengah memasuki babak baru. Lebih dari 250 miliarder dari 30 negara berkomitmen menyumbangkan sedikitnya USD 600 miliar (sekitar Rp 10.014 triliun, berdasarkan kurs Rp 16.690 per dolar AS) untuk kegiatan amal melalui inisiatif The Giving Pledge.
Namun, di tengah besarnya komitmen itu, muncul tanda-tanda bahwa era dominasi Bill Gates dan Warren Buffett dalam dunia filantropi global mulai memudar.
Dilansir Fortune, Senin (10/11/2025), The Giving Pledge yang diluncurkan pada 2010 oleh Gates dan Buffett pernah menandai tonggak penting dalam sejarah donasi global, menyerupai pengaruh keluarga Rockefeller dan Carnegie pada abad lalu. Akan tetapi, model yayasan besar berbasis dana abadi kini tertekan oleh perubahan pajak dan dinamika politik yang mengubah lanskap filantropi dunia.
Salah satu penyebab utamanya adalah kebijakan pajak baru di Amerika Serikat yang menetapkan tarif 10 persen bagi yayasan dengan aset lebih dari USD 5 miliar. Kebijakan ini dinilai dapat 'memukul keras' yayasan besar seperti Bill & Melinda Gates Foundation, Ford Foundation, dan Open Society Foundations.
"Kebijakan ini akan berdampak besar pada model filantropi liberal berskala besar," ujar Kathleen McCarthy, Direktur Center on Philanthropy di CUNY, kepada Fortune.
Perubahan tersebut mendorong banyak miliarder untuk mencari pendekatan baru dalam menyalurkan donasi mereka. Gates, misalnya, telah mengumumkan bahwa Bill & Melinda Gates Foundation akan ditutup pada tahun 2045, setelah menyalurkan sekitar USD 200 miliar (sekitar Rp 3.338 triliun).
"Saya memilih untuk mempercepat proses pengembalian kekayaan saya kepada masyarakat," tulis Gates di blog pribadinya.
Sementara itu, Buffett yang selama ini menjadi figur sentral dalam The Giving Pledge mulai menarik diri dari aktivitas yayasannya. Langkah ini memunculkan pertanyaan besar: siapa yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan filantropi global di era pasca-Gates dan Buffett?
Dalam situasi ini, muncul dermawan generasi baru dengan pendekatan yang lebih luwes dan langsung. Salah satu yang menonjol adalah MacKenzie Scott, mantan istri pendiri Amazon Jeff Bezos, yang menjadi pelopor konsep trust-based philanthropy, model pemberian dana tanpa syarat kepada organisasi sosial. Dalam beberapa bulan terakhir, Scott telah menyalurkan lebih dari USD 200 juta (sekitar Rp 3,3 triliun) ke berbagai universitas dan lembaga nirlaba di Amerika Serikat.
Perubahan arah ini, menurut para ahli, turut menandai pergeseran kekuatan dalam dunia filantropi global. Menurut Amir Pasic, Dekan Lilly Family School of Philanthropy di Indiana University, transformasi tersebut membuka ruang bagi donor dengan latar yang lebih beragam, terutama perempuan.
"Kami akan melihat lebih banyak perempuan berperan sebagai tokoh utama dalam dunia filantropi, meninggalkan pola lama yang selama ini didominasi pria," ujar Pasic.
Transformasi ini bukan sekadar tentang siapa yang memberi, tetapi soal bagaimana cara memberi telah berubah. Model yayasan besar kini dianggap kurang responsif terhadap dinamika sosial, ekonomi, dan politik global yang cepat bergeser. Filantropi modern menuntut kecepatan, fleksibilitas, dan kepercayaan, bukan sekadar nama besar dan dana abadi.
Meskipun komitmen USD 600 miliar menjadi pencapaian monumental, dunia filantropi kini bergerak menuju paradigma baru: lebih terdesentralisasi, lebih transparan, dan lebih berorientasi pada dampak langsung.
Era Gates dan Buffett mungkin sedang meredup, tetapi semangat memberi dalam skala besar justru menemukan bentuk baru yang lebih adaptif, lebih inklusif, dan lebih relevan dengan tantangan kemanusiaan masa kini.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
