Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 15 Juli 2018 | 19.53 WIB

Ketenaran Menyergap setelah Terperangkap di Perut Gua

Anak-anak tim sepak bola Thailand yang selamat dari gua kini dalam masa perawatan rumah sakit. - Image

Anak-anak tim sepak bola Thailand yang selamat dari gua kini dalam masa perawatan rumah sakit.

Misi penyelamatan tim sepak bola Moo Pa dan pelatihnya menjadi sorotan dunia. Kini, setelah nyawa mereka tak lagi terancam, faktor psikologis harus menjadi perhatian. Entah itu trauma karena berhari-hari terpendam 500 meter di bawah permukaan tanah maupun ketenaran yang datang tiba-tiba.


---


DUA belas remaja lelaki itu terlihat begitu ceria. Mimpi buruk yang baru saja mereka alami lenyap tak berbekas. Pengalaman dramatis yang menempatkan mereka di ambang hidup dan mati tidak berjejak lagi.


Anak-anak itu adalah anggota tim sepak bola Moo Pa yang terjebak di dalam Thum Luang Nang Non, Chiang Rai, sejak 23 Juni. Kini mereka terlihat segar. Dalam ruang isolasi Chiang Rai Prachanukroh Hospital itu, mereka saling goda dan bercanda. Sang asisten pelatih, Ekaphol Chantawong, yang terperangkap di perut gua bersama mereka pun tampak lega.


"Saya sudah sehat sekarang. Terima kasih telah menyelamatkan kami," ujar Prajak Sutham alias Note di video yang diputar dalam konferensi pers kemarin (14/7). Kondisi bocah 11 tahun itu jauh lebih baik sekarang. Demikian juga teman-temannya dan Ekaphol.


Dalam jumpa pers, Menteri Kesehatan Thailand Piyasakol Sakolsatayadorn mengatakan, ketika baru keluar dari gua, beberapa korban menunjukkan gejala pneumonia ringan. Tapi, kini kondisi mereka telah membaik. Jika tak ada perubahan rencana, mereka meninggalkan Chiang Rai Prachanukroh Hospital pada Kamis mendatang (19/7).


Dilansir Reuters, bobot para korban turun sekitar 2 kilogram setelah 18 hari terperangkap di perut gua. Beberapa di antara mereka bahkan berkurang hingga 5 kilogram. Tapi, kini berat badan mereka berangsur naik. Selera makannya juga mulai kembali normal.


"Saya ingin makan nasi dengan daging babi krispi dan nasi dengan lauk daging babi bumbu barbecue," kata Phiphat Photi, salah seorang korban. Beberapa lainnya mengatakan ingin makan sushi.


Mereka kini memang mulai boleh mengonsumsi makanan normal. Saat kali pertama tiba di RS, tim dokter membatasi dan mengontrol asupan nutrisi mereka. Mereka juga tidak boleh mengonsumsi makanan yang bertekstur kasar.


Tim dokter khawatir perut mereka kaget. Sebab, selama 18 hari mereka tidak makan.


Kini, setelah kondisi fisik para korban berangsur pulih dan siap meninggalkan RS pekan depan, ada tantangan baru yang menghadang. Bukan pertandingan sepak bola, tentu saja. Melainkan ketenaran.


Belasan bahkan puluhan jurnalis yang ancang-ancang sejak hari evakuasi pertama Minggu (8/7) pasti akan menyerbu mereka. Permintaan wawancara tak akan terhitung banyaknya.


Selain media, Hollywood sudah siap menjemput ketenaran mereka. Sedikitnya dua rumah produksi Amerika Serikat (AS) siap memfilmkan kisah penyelamatan anak-anak tersebut.


Tapi, pemerintah Thailand sejak jauh-jauh hari memperkirakan semua itu. Perdana Menteri (PM) Prayuth Chan-o-cha pun mengimbau media dan publik tidak mengganggu 12 remaja dan seorang pemuda yang sudah sangat rindu keluarga mereka tersebut. Prayuth meminta masyarakat memberikan kesempatan kepada para korban untuk menikmati hari-hari bersama keluarga.


"Kami harus mempersiapkan para korban dan keluarganya untuk menyikapi perhatian publik yang akan langsung membanjiri mereka saat keluar (RS) nanti," tegas Piyasakol. Dia juga meminta keluarga tim sepak bola itu tidak mudah menerima permintaan wawancara media.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore