JawaPos Radar

Drama Penyelamatan 12 Anak Moo Pa yang Terjebak 17 Hari di Gua (1)

Bertahan Hidup karena Ajaran Biksu Ekkapol

14/07/2018, 14:10 WIB | Editor: Ilham Safutra
Drama Penyelamatan 12 Anak Moo Pa yang Terjebak 17 Hari di Gua (1)
KAWAH CANDRADIMUKA - Beberapa biksu tampak sedang beraktivitas di Kuil Phrathat Doi Wao. Di kuil ini, Ekkapol Chantawong 10 tahun menimba ilmu sebagai biksu. (Ahmad Baidhowi/Jawa Pos)
Share this image

Saat 12 anak Moo Pa terjebak di gua, banyak orang menyalahkan Ekkapol Chantawong, asisten pelatih klub sepak bola Moo Pa. Namun, di balik proses penyelamatan anak-anak yang begitu dramatis, nama Ekkapol dianggap pahlawan. Berikut laporan wartawan Jawa Pos AHMAD BAIDHOWI dari Mae Sai, Thailand.

---

TANDA peringatan itu terpampang jelas di depan mulut Thum (Gua) Luang. Dilarang masuk saat musim monsoon (hujan badai). Di Thailand, monsoon adalah periode curah hujan yang sangat tinggi. Hampir setiap hari turun hujan lebat. Biasanya berlangsung Juni-Agustus.

Ekkapol (baca: Ekkapong), yang tumbuh besar di wilayah pegunungan Doi Nang Non tersebut, semestinya tahu peringatan tanda bahaya itu Tapi, papan larangan tersebut tak kuasa meredam jiwa petualangan Ekkapol bersama 12 anggota klub sepak bolanya.

"Mereka (Ekkapol dan anak-anak didiknya, Red) memang gemar bertualang di pegunungan. Kadang bersepeda, kadang berlari," kata Tilek Jana, 14, murid kelas VIII di Prasitsart School, saat saya temui di sekolahnya Kamis lalu (12/7).

Enam di antara 12 anak yang terjebak di Thum Luang menimba ilmu di sekolah yang terletak 2 kilometer dari perbatasan Thailand dan Myanmar itu. Termasuk Duangphet Phromthep, 13, sang kapten dan striker Moo Pa.

Pantas saja kalau klub itu menyandang nama Moo Pa yang dalam bahasa Thailand berarti babi hutan liar. Orang Thailand mengiaskan Moo Pa sebagai klub yang "berbahaya dan menakutkan".

Dan, Thum Luang bukan tempat asing bagi anak-anak Moo Pa. Mereka beberapa kali berlatih di lapangan kecil di dekat gua yang panjangnya sekitar 10 kilometer itu. Seusai berlatih, Ekkapol terkadang mengajak anak-anak asuhnya mandi di air terjun sekitar gua. Pegunungan dengan kontur mirip gadis yang tengah berbaring tersebut memang memiliki banyak air terjun dan gua.

Beberapa kali anak-anak Moo Pa juga diajak masuk di Thum Luang. "Sampai ada yang menyebut Thum Luang adalah guanya Moo Pa," kata Tilek.

Klub yang didirikan Nopparat Khantawong sebagai pelatih kepala pada 2015 itu memiliki akademi sepak bola usia di bawah 13 tahun (U-13), U-15, dan U-19. Salah satu ritual inaugurasi anggota klub itu adalah menjelajahi Thum Luang. Lalu, mengukir nama mereka di bebatuan dalam gua tersebut.

Pada 23 Juni lalu, Ekkapol kembali mengajak 12 anggota klub untuk menjelajahi Thum Luang. Mereka masuk hingga 4 kilometer. Tak diduga, hujan lebat tiba-tiba turun. Airnya membanjiri gua. Menutup lorong-lorong gua yang kontur tanahnya naik turun. Akibatnya, Ekkapol dan 12 anak asuhnya pun terjebak di dalam gua yang gelap dan dingin.

Hingga malam tak ada kabar dari Ekkapol dan anak-anak yang terjebak di dalam gua. Para orang tua pun mulai panik. Mereka menghubungi Nopparat Khantawong, sang pelatih utama, yang ternyata juga bingung karena tak bisa menghubungi Ekkapol. Namun, Nopparat akhirnya dapat informasi bahwa sang asisten pelatih bersama 12 anak asuhnya berada di dalam Thum Luang.

Keesokan harinya, Nopparat bergegas menuju Thum Luang. Namun, dia hanya menemukan sepeda dan sepatu sepak bola anak-anak di mulut gua. Perasaannya tambah panik saat melihat lorong gua yang tergenang air kecokelatan. Genangannya semakin tinggi, seiring lebatnya curah hujan.

"Saya berteriak sekeras-kerasnya dari mulut gua, memanggil mereka. Tapi, tak ada jawaban. Saya langsung lemas. Keringat dingin membanjiri (tubuh, Red) saya," ceritanya seperti di kutip koran-koran lokal Thailand.

Sejak itu, operasi pencarian dan penyelamatan pun dimulai. Berita terjebaknya pelatih dan anak-anak Moo Pa di Thum Luang langsung menyebar ke mana-mana.

Ribuan tim penyelamat (SAR), tentara, dan polisi bahu-membahu menjalankan strategi penyelamatan. Bahkan, jago-jago selam dari berbagai negara ikut bergabung. Namun, berbagai upaya menembus genangan air bercampur lumpur di dalam gua itu tak jua berhasil.

Hingga pada hari ke-9 (2/7), dua penyelam asal Inggris, John Volanthen dan Richard William Stanton, melakukan penyelaman di dalam gua dan berhasil menemukan 13 anggota klub Moo Pa di sekitar 4 kilometer dari mulut gua. Posisinya di dataran gua yang agak tinggi, seluas sekitar 10 meter persegi. Seluruhnya dalam keadaan hidup.

Namun, proses evakuasi 13 anggota klub Moo Pa itu tak semudah membalik telapak tangan. Berbagai skenario disiapkan. Mesin-mesin pompa raksasa didatangkan dari Bangkok untuk menyedot air.

Tapi, itu belum cukup. Sebab, hujan deras terus turun sehingga air di dalam gua tidak bisa berkurang. Bahkan, proses penyelamatan itu malah memakan korban jiwa. Seorang mantan anggota Navy Seal Thailand, Samarn Kunun, meninggal dunia karena kehabisan oksigen saat menyelam.

Baru pada hari ke-15 (8/7), empat anak berhasil dievakuasi. Esok harinya, empat anak lagi sukses dibawa keluar dari gua. Puncaknya, pada 10 Juli, empat anak tersisa dan Ekkapol berhasil diselamatkan. Ke-13 orang itu langsung dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan dan pemulihan kesehatan. Hingga kemarin, Ekkapol dan 12 anak Moo Pa masih dikarantina di rumah sakit dan tak boleh diwawancarai wartawan.

Banyak yang menyebut suksesnya penyelamatan itu sebagai keajaiban. Bagaimana mungkin, anak-anak usia 11 sampai 16 tahun itu bisa bertahan hidup berhari-hari di dalam gua. Gelap gulita, sempit, pengap, dan dingin. Bahkan, tanpa makanan apa pun. Hanya mengandalkan tetesan air di dalam gua untuk bertahan hidup.

Tatapan orang pun kemudian tertuju pada Ekkapol Chantawong, sang asisten pelatih Moo Pa. Pengalamannya selama sepuluh tahun menjadi biksu di Kuil Phrathat Doi Wao disebut-sebut sebagai salah satu kunci dia dan 12 anak didiknya bisa bertahan hidup.

"Saya kenal Ek (sapaan Ekkapol, Red) sejak dia menjadi biksu di kuil ini. Dia anak baik, suka menolong, dan pintar," kata Tan Thaptim, pemilik toko liontin di kompleks Kuil Phrathat Doi Wao, Kamis (12/7).

Phrathat Doi Wao adalah kuil terbesar di Distrik Mae Sai. Letaknya di atas bukit. Persis di perbatasan Thailand dan Myanmar. Dari sisi utara kuil itu terlihat sungai selebar 4 meter yang menjadi batas dua negara tersebut. Tampak pula pos pemeriksaan yang menjadi jalur perlintasan antara Thailand dan Myanmar.

Di Kuil Phrathat Doi Wao itulah kisah hidup Ekkapol di Thailand dimulai. Ekkapol berasal dari suku Shan di Myanmar. Dia sudah menjadi yatim piatu pada usia 10 tahun. Ketika itu, pada 2003, wabah penyakit menyerang desa tempat tinggalnya. Puluhan orang meninggal, termasuk ayah, ibu, dan adik laki-lakinya. Hanya Ekkapol yang selamat.

Dia lantas ikut bibinya menyeberang ke Thailand. Lalu, pada usia 12 tahun, Ekkapol dimasukkan ke Kuil Phrathat Doi Wao untuk menjadi biksu. Namun, setelah satu dekade, Ekkapol memutuskan untuk menjadi orang biasa. Dia banting setir menggeluti sepak bola dan mengantarkannya menjadi asisten pelatih di klub Moo Pa, akademi sepak bola terbaik di Distrik Mae Sai.

Meski begitu, Ekkapol tak benar-benar meninggalkan kuil. "Dia masih bekerja di sini. Membantu mengurus operasional kuil dan ikut membimbing biksu-biksu remaja," kata Tan Thaptim.

Kendati sudah 15 tahun tinggal di Thailand, Ekkapol hingga kini tidak memiliki kewarganegaraan (stateless). Dia tidak memiliki dokumen resmi sebagai penduduk Thailand ataupun Myanmar. Di Mae Sai, ada ribuan orang yang bernasib sama dengan Ekkapol. Rata-rata dari suku minoritas Shan.

Rupanya, daya survival untuk bisa lolos dari maut dan melalui saat-saat sulit dalam hidupnya itu masih melekat dalam diri Ekkapol. Karena itu, Tan Thaptim yakin Ekkapol-lah yang mengajari anak-anak Moo Pa agar bisa bertahan hidup selama 17 hari terjebak di dalam gua.

"Ek pasti kuat dan bisa menguatkan anak-anak selama di dalam gua. Sebab, dia sudah terlatih di sini (kuil)," katanya.

Apa saja yang dipelajari Ekkapol di Kuil Phrathat Doi Wao? Bagaimana dia bisa membantu menyelamatkan nyawa 12 anak didiknya di Moo Pa? Simak kisahnya di halaman Internasional besok (15/7). 

(*/c10/ari)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up