Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Oktober 2025 | 23.48 WIB

Misteri Jack the Ripper, Penyelidikan Kriminal Terbesar Sepanjang Sejarah Inggris

Ilustrasi sang pembunuh berantai, Jack The Ripper (Dok. Klook)

JawaPos.com - London, 1888. Di tengah kabut tebal dan lorong-lorong gelap Whitechapel, lima perempuan ditemukan tewas secara brutal. Leher mereka digorok, tubuh dimutilasi, dan organ dalam diambil dengan presisi yang mengindikasikan pelaku memiliki pengetahuan anatomi. 

Sosok pembunuh tak pernah tertangkap, namun dunia mengenalnya dengan satu nama yang menggema hingga kini, Jack the Ripper. Jack the Ripper diyakini membunuh lima perempuan yaitu, Mary Ann Nichols, Annie Chapman, Elizabeth Stride, Catherine Eddowes, dan Mary Jane Kelly, dalam rentang waktu antara Agustus hingga November 1888. 

Kelima korban berasal dari kelas pekerja dan hidup di kawasan miskin London Timur. "Semua korban adalah perempuan yang bekerja sebagai pelacur, dan tubuh mereka dimutilasi dengan cara yang menunjukkan pelaku memiliki pengetahuan anatomi," ujar sejarawan John Philip Jenkins dalam ulasan Encyclopaedia Britannica.

Penyelidikan terhadap kasus ini menjadi salah satu yang paling intens dalam sejarah kriminal Inggris. Namun, keterbatasan teknologi saat itu membuat polisi kesulitan. Tidak ada sidik jari, tidak ada foto TKP, dan tidak ada analisis forensik modern. 

"Polisi Victoria tidak memiliki teknik investigasi seperti fingerprinting atau fotografi TKP yang kini dianggap standar," tulis Richard Jones dalam laman Jack-the-Ripper.org.

Media saat itu justru memperkeruh suasana. Alih-alih membantu, pers sering kali menyebarkan spekulasi liar dan menekan publik. "Sikap polisi yang menjaga jarak dari media membuat wartawan frustrasi dan melancarkan kritik tajam terhadap penyelidikan," ujar Jones dalam artikelnya.

Surat-surat misterius yang dikirim ke media dan polisi semakin memperumit penyelidikan. Salah satu yang paling terkenal adalah "Dear Boss Letter" yang pertama kali menyebut nama "Jack the Ripper."

Namun, banyak ahli percaya surat itu hanyalah hoaks yang dibuat oleh jurnalis untuk meningkatkan oplah koran. "Surat itu kemungkinan besar ditulis oleh seseorang yang ingin memanfaatkan ketakutan publik," tulis arsip Ripper Records dari University of Michigan.

Polisi sempat mempertimbangkan beberapa tersangka, termasuk Montague Druitt, seorang pengacara yang tertarik pada bedah; Michael Ostrog, seorang kriminal asal Rusia; dan Aaron Kosminski, imigran Polandia yang tinggal di Whitechapel. 

Namun, tidak ada bukti kuat yang mengarah pada satu pelaku. "Tidak satu pun dari mereka memiliki bukti yang cukup untuk ditetapkan sebagai pelaku," tulis Jones.

Kondisi sosial Whitechapel saat itu juga memperburuk situasi. Kawasan ini dikenal sebagai daerah kumuh dengan tingkat kejahatan tinggi. "Pelaku beraksi di lingkungan yang penuh kriminalitas, sehingga menyulitkan polisi untuk mendapatkan informasi," ujar Jones dalam analisisnya.

Konflik internal di tubuh kepolisian turut melemahkan penyelidikan. Kritik dari media dan publik membuat moral penyidik menurun drastis. "Serangkaian pengunduran diri dan perselisihan antar pejabat telah 'memenggal' departemen detektif," ungkap Jones.

Lebih dari satu abad berlalu, penyelidikan Jack the Ripper tetap menjadi studi kasus paling terkenal dalam sejarah kriminal dunia. Ia bukan hanya simbol horor, tapi juga pengingat bahwa keadilan kadang tak selalu menemukan jalannya. Whitechapel tetap menyimpan jejak kelam yang tak pernah benar-benar hilang.

Baca Juga: Greenpeace: Peran, Sejarah, dan Kisah Sukses Gerakan Lingkungan Global

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore