
Greenpeace, organisasi yang mendorong solusi untuk masa depan lingkungan bekelanjutan. (Greenpeace)
JawaPos.com – Greenpeace dikenal sebagai jaringan organisasi kampanye independen berskala global yang mengedepankan aksi damai serta konfrontasi kreatif untuk menyoroti persoalan lingkungan. Tujuannya jelas, yakni mendorong lahirnya solusi bagi masa depan yang hijau, adil, dan berkelanjutan.
Mengacu pada laman resmi Greenpeace USA, perjuangan menyelamatkan bumi kini berada di titik krusial. Perubahan iklim yang kian parah, sistem sosial-ekonomi yang eksploitatif dan tidak adil, serta kerusakan ekosistem akibat keserakahan korporasi maupun pemerintah, menjadi ancaman nyata.
Greenpeace menegaskan bahwa waktu untuk perubahan bertahap sudah lewat. Yang dibutuhkan kini adalah transformasi besar, sebab taruhannya terlalu tinggi untuk terus ditunda.
Sejarah Greenpeace
Menurut catatan Britannica, Greenpeace lahir pada 1971 di British Columbia, Kanada. Awalnya, organisasi ini dibentuk untuk menentang uji coba nuklir Amerika Serikat di Pulau Amchitka, Alaska.
Namun, kiprahnya segera meluas dengan berbagai kampanye, mulai dari melindungi paus dan anjing laut dari perburuan, menentang pembuangan limbah kimia maupun radioaktif ke laut, hingga menolak uji senjata nuklir.
Metode khas Greenpeace dikenal sebagai “aksi langsung tanpa kekerasan”. Misalnya, dengan menghadang kapal penangkap paus menggunakan perahu karet kecil, atau menutup pipa industri yang membuang limbah berbahaya ke laut dan udara. Aksi-aksi berisiko tinggi ini menarik perhatian media dan membentuk opini publik untuk menentang praktik perusakan lingkungan.
Selain aksi lapangan, Greenpeace juga aktif melakukan advokasi hukum di tingkat nasional maupun internasional, dengan sejumlah capaian penting.
Meski memiliki staf inti yang relatif kecil, Greenpeace bertahan berkat dukungan sukarelawan dan pendanaan publik. Salah satu peristiwa penting terjadi pada 10 Juli 1985, ketika kapal Rainbow Warrior diledakkan di pelabuhan Auckland, Selandia Baru, sebelum berlayar memprotes uji coba nuklir Prancis.
Investigasi mengungkap bahwa serangan bom itu dilakukan oleh agen intelijen Prancis, sehingga memicu skandal besar yang berujung pada pengunduran diri Menteri Pertahanan dan pemecatan kepala intelijen Prancis.
Kontroversi lain muncul pada 19 Maret 2025, saat Greenpeace dinyatakan bersalah dalam gugatan perdata di North Dakota. Perusahaan minyak dan gas Energy Transfer Partners menuntut ganti rugi USD 300 juta, namun pengadilan justru memutuskan lebih dari USD 660 juta.
Perusahaan menuding Greenpeace memicu tindakan kriminal dalam demonstrasi Suku Sioux Standing Rock menolak pipa Dakota Access pada 2016–2017 serta menyebarkan “disinformasi” yang merusak reputasi mereka.
Greenpeace membantah keras, menegaskan tidak pernah mendorong kekerasan dan hanya memperjuangkan kebebasan berpendapat.
Keberhasilan Greenpeace

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
