Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 1 Oktober 2025 | 20.50 WIB

UNICEF Serukan Aksi Nyata Hapus Pekerja Anak, Fokus pada Pendidikan dan Perlindungan Sosial

Ilustrasi Pekerja Anak. (unicefusa.org) - Image

Ilustrasi Pekerja Anak. (unicefusa.org)

JawaPos.com - UNICEF terus memainkan peran sentral dalam upaya global memberantas pekerja anak, sebuah isu yang masih membelenggu jutaan anak di berbagai belahan dunia.

Dilansir dari laman UNICEF dan un.org, berdasarkan laporan terbaru yang dirilis bersama Organisasi Buruh Internasional (ILO), tercatat sekitar 138 juta anak masih terjebak dalam praktik pekerja anak pada tahun 2024, termasuk 54 juta di antaranya yang bekerja dalam kondisi berbahaya.

Meski angka tersebut menunjukkan penurunan sekitar 20 juta anak sejak tahun 2020, dunia tetap gagal mencapai target penghapusan pekerja anak secara total pada tahun 2025.

Anak-anak seharusnya berada di sekolah, bukan bekerja. Orang tua juga perlu didukung agar memiliki pekerjaan layak, sehingga anak-anak mereka tidak perlu bekerja di pasar atau ladang demi membantu keluarga,” ujar Direktur Jenderal ILO, Gilbert F. Houngbo, yang dikutip dalam laporan tersebut.

UNICEF menekankan bahwa pendidikan adalah kunci dalam memutus rantai pekerja anak. Dalam riset yang dilakukan oleh UNICEF Innocenti, perluasan akses pendidikan berkorelasi kuat dengan penurunan angka pekerja anak.

“Investasi pada pendidikan yang berkualitas dan mudah diakses, termasuk pemberian beasiswa dan makanan sekolah, terbukti mampu mengurangi beban kerja anak dengan membuat sekolah lebih terjangkau,” tulis laporan tersebut.

Selain itu, pendekatan multisektoral seperti perlindungan sosial dan pengurangan kesenjangan gender juga menjadi strategi utama UNICEF. Program transfer tunai yang rutin dan memadai kepada keluarga miskin dinilai efektif dalam mendorong anak-anak untuk tetap bersekolah dan tidak bekerja.

“Pekerja anak memiliki dampak jangka panjang yang merugikan, karena merampas waktu bermain, belajar, dan masa kecil mereka,” tegas Catherine Russell, Direktur Eksekutif UNICEF, dalam pernyataannya.

Wilayah Asia dan Pasifik menunjukkan kemajuan paling signifikan, dengan penurunan prevalensi pekerja anak dari 6 persen menjadi 3 persen. Namun, Sub-Sahara Afrika masih menjadi kawasan dengan beban tertinggi, menyumbang hampir dua pertiga dari total pekerja anak dunia.

UNICEF dan ILO menyerukan percepatan aksi global, termasuk reformasi kebijakan, peningkatan anggaran pendidikan, dan penguatan sistem perlindungan anak.

Meski jalan masih panjang, temuan ini menunjukkan bahwa perubahan bukan hanya mungkin, tapi sudah mulai terjadi. Dunia hanya perlu melangkah lebih cepat dan lebih tegas. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore