
Ilustrasi Pekerja Anak. (unicefusa.org)
JawaPos.com - UNICEF terus memainkan peran sentral dalam upaya global memberantas pekerja anak, sebuah isu yang masih membelenggu jutaan anak di berbagai belahan dunia.
Dilansir dari laman UNICEF dan un.org, berdasarkan laporan terbaru yang dirilis bersama Organisasi Buruh Internasional (ILO), tercatat sekitar 138 juta anak masih terjebak dalam praktik pekerja anak pada tahun 2024, termasuk 54 juta di antaranya yang bekerja dalam kondisi berbahaya.
Meski angka tersebut menunjukkan penurunan sekitar 20 juta anak sejak tahun 2020, dunia tetap gagal mencapai target penghapusan pekerja anak secara total pada tahun 2025.
“Anak-anak seharusnya berada di sekolah, bukan bekerja. Orang tua juga perlu didukung agar memiliki pekerjaan layak, sehingga anak-anak mereka tidak perlu bekerja di pasar atau ladang demi membantu keluarga,” ujar Direktur Jenderal ILO, Gilbert F. Houngbo, yang dikutip dalam laporan tersebut.
UNICEF menekankan bahwa pendidikan adalah kunci dalam memutus rantai pekerja anak. Dalam riset yang dilakukan oleh UNICEF Innocenti, perluasan akses pendidikan berkorelasi kuat dengan penurunan angka pekerja anak.
“Investasi pada pendidikan yang berkualitas dan mudah diakses, termasuk pemberian beasiswa dan makanan sekolah, terbukti mampu mengurangi beban kerja anak dengan membuat sekolah lebih terjangkau,” tulis laporan tersebut.
Selain itu, pendekatan multisektoral seperti perlindungan sosial dan pengurangan kesenjangan gender juga menjadi strategi utama UNICEF. Program transfer tunai yang rutin dan memadai kepada keluarga miskin dinilai efektif dalam mendorong anak-anak untuk tetap bersekolah dan tidak bekerja.
“Pekerja anak memiliki dampak jangka panjang yang merugikan, karena merampas waktu bermain, belajar, dan masa kecil mereka,” tegas Catherine Russell, Direktur Eksekutif UNICEF, dalam pernyataannya.
Wilayah Asia dan Pasifik menunjukkan kemajuan paling signifikan, dengan penurunan prevalensi pekerja anak dari 6 persen menjadi 3 persen. Namun, Sub-Sahara Afrika masih menjadi kawasan dengan beban tertinggi, menyumbang hampir dua pertiga dari total pekerja anak dunia.
UNICEF dan ILO menyerukan percepatan aksi global, termasuk reformasi kebijakan, peningkatan anggaran pendidikan, dan penguatan sistem perlindungan anak.
Meski jalan masih panjang, temuan ini menunjukkan bahwa perubahan bukan hanya mungkin, tapi sudah mulai terjadi. Dunia hanya perlu melangkah lebih cepat dan lebih tegas. (*)

Prediksi Skor Amerika Serikat vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: The Stars and Stripes Tak Ingin Malu!
Prediksi Skor Swiss vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Granit Xhaka Cs Siap Libas El Khadra Demi Tiket 16 Besar
Prediksi Skor Spanyol vs Austria di Piala Dunia 2026: Lamine Yamal Jadi Pembeda
Prediksi Skor Belgia vs Senegal di Piala Dunia 2026: Setan Merah Emoh Angkat Koper Lebih Dulu!
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di 32 Besar Piala Dunia 2026: Joao Felix Pede Singkirkan Skuad Vatreni!
Prediksi Skor Inggris vs RD Kongo: Bursa Jagokan Three Lions, Opta Beri Peluang Menang 73,9 Persen
Silaturahmi dengan Suporter PSIS, Malut United Pastikan Tak Pakai Nama Semarang dan Siap Mengalah soal Stadion
Ditunggu Saja! Persebaya Surabaya Siapkan 7 Pemain Asing Baru Usai Rombak Skuad Musim Lalu
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Misi Berat Cristiano Ronaldo Cs Lolos ke 16 Besar
