Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 25 Juli 2025 | 13.45 WIB

Penjelasan Lengkap Sengketa Thailand-Kamboja: Sejarah Perbatasan, Konflik Militer, dan Ketegangan Politik Antar Dinasti

Tentara Kamboja bersiap di Preah Vihear, 24 Juli 2025, usai serangan udara Thailand memicu balasan artileri dalam sengketa perbatasan yang memanas (Dok. CNA) - Image

Tentara Kamboja bersiap di Preah Vihear, 24 Juli 2025, usai serangan udara Thailand memicu balasan artileri dalam sengketa perbatasan yang memanas (Dok. CNA)

JawaPos.com – Ketegangan antara Thailand dan Kamboja kembali meningkat drastis setelah bentrokan bersenjata terjadi di perbatasan kedua negara pada Kamis (24/7). Insiden ini menandai eskalasi terbaru dalam sengketa wilayah yang telah berlangsung selama puluhan tahun. 

Kedua negara saling tuduh memicu baku tembak yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan meluasnya evakuasi sipil. Bentrokan terjadi di sekitar kompleks Candi Ta Muen Thom, wilayah perbatasan timur yang disengketakan. 

Dilansir dari CNA, Kamis (24/7/2025), insiden itu dipicu aksi tentara dan warga Kamboja yang menyanyikan lagu kebangsaan di lokasi pada Februari lalu—sebuah tindakan yang dianggap provokatif oleh Thailand. Pemerintah Thailand melayangkan protes resmi dan sejak saat itu, ketegangan terus meningkat.

Gambaran Umum Konflik di Perbatasan Thailand-Kamboja

Sejak insiden itu, eskalasi militer terus meningkat di sepanjang garis perbatasan. Titik panas kembali memuncak pada Kamis pagi di wilayah yang sama, sekitar 360 km dari Bangkok. Konflik makin memburuk setelah terjadi baku tembak pada 28 Mei di kawasan Segitiga Zamrud (Mom Bei), yang menewaskan seorang tentara Kamboja dan mendorong Phnom Penh untuk membawa sengketa ini ke Mahkamah Internasional (ICJ).

Ketegangan mencapai titik kritis sehari sebelumnya, Rabu (23/7), ketika lima tentara Thailand terluka akibat ranjau darat—satu di antaranya mengalami amputasi. Thailand menuding ranjau itu baru ditanam oleh pihak Kamboja, sementara Kamboja menyatakan bahwa ranjau tersebut merupakan sisa konflik lama dan menuduh pasukan Thailand melintasi wilayahnya secara ilegal. 

"Sangat disayangkan bahwa pihak Thailand tidak hanya menolak mengakui pelanggarannya, tetapi juga menuduh Kamboja melanggar hukum internasional—padahal Kamboja adalah pihak yang dirugikan," ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja.

Bagimana Latar Belakang Sejarahnya?

Perselisihan perbatasan ini berakar dari peta wilayah yang disusun oleh penjajah Prancis pada 1907. Garis batas tersebut menggunakan aliran sungai sebagai patokan, namun tidak seluruh area dipetakan secara tuntas. Hal ini menciptakan celah sengketa yang terus membara selama lebih dari satu abad.

Salah satu titik konflik terbesar terjadi pada 2008 ketika Kamboja mengusulkan Candi Preah Vihear sebagai situs Warisan Dunia UNESCO. Hal ini memicu serangkaian baku tembak antara militer kedua negara yang mencapai puncaknya pada 2011. Mahkamah Internasional lantas mengukuhkan bahwa seluruh kawasan candi itu merupakan bagian dari wilayah Kamboja pada 2013.

Kini, Kamboja kembali menggugat empat wilayah—termasuk Candi Ta Muen Thom, Ta Muen Tauch, Ta Krabei, dan kawasan Mom Bei—ke ICJ, meski Thailand menolak yurisdiksi pengadilan tersebut. Wilayah Segitiga Zamrud yang disengketakan ini berada di titik pertemuan tiga negara: Thailand, Kamboja, dan Laos.

Siapa Saja Tokoh Kuncinya?

Konflik ini juga diperkeruh oleh ketegangan personal antara dua dinasti politik terkuat di kawasan: keluarga Hun dari Kamboja dan keluarga Shinawatra dari Thailand. 

Perdana Menteri Hun Manet, putra dari mantan PM Hun Sen, kini menghadapi ketegangan diplomatik serius dengan Paetongtarn Shinawatra—putri mantan pemimpin Thailand, Thaksin Shinawatra—yang dilantik pada Agustus 2024.

Hubungan yang dulu hangat antara kedua dinasti itu memburuk setelah bocornya rekaman percakapan telepon antara Paetongtarn dan Hun Sen. Dalam percakapan tersebut, ia menyebut Hun Sen sebagai "paman" dan berjanji akan "mengurus apa pun yang dibutuhkan." Ia juga terdengar mengkritik salah satu petinggi militer Thailand. Rekaman ini kemudian dirilis oleh Hun Sen dan menyebar di media sosial.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore