
ILUSTRASI. Uji coba rudal balistik Yars Rusia tahun 2022, simbol ancaman nyata perang nuklir global. (The Guardian)
JawaPos.com — Selama dua dekade terakhir, penulis dan aktivis lingkungan asal Inggris, Mark Lynas, dikenal sebagai salah satu suara paling vokal dalam kampanye pengurangan emisi karbon untuk mengatasi krisis iklim.
Namun, setelah melakukan riset mendalam selama tiga tahun, Lynas kini mengubah fokus peringatannya: ancaman terbesar terhadap kelangsungan umat manusia bukanlah perubahan iklim, melainkan perang nuklir global.
Dilansir dari The Guardian, Senin (16/6/2025), Lynas menegaskan bahwa potensi kehancuran akibat perang nuklir jauh lebih cepat dan tidak dapat ditanggulangi dibandingkan krisis iklim. “Tidak ada opsi adaptasi untuk perang nuklir,” kata Lynas. Dia merujuk pada fenomena nuclear winter atau musim dingin nuklir—yakni kondisi global yang sangat dingin akibat asap dan jelaga dari ledakan nuklir yang menghalangi sinar matahari.
“Musim dingin nuklir akan membunuh hampir seluruh populasi manusia. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk mempersiapkan diri, dan tidak ada yang bisa dilakukan untuk beradaptasi saat hal itu terjadi—karena semuanya berlangsung dalam hitungan jam,” tegas Lynas, menggarisbawahi betapa fatalnya dampak perang nuklir.
Ancaman yang dimaksud Lynas bukanlah spekulasi semata. Sekitar 4.000 hulu ledak nuklir kini siaga di belahan bumi utara, siap untuk serangan pertama. Jika diluncurkan, kekuatan ledakan dan api diperkirakan bisa langsung menewaskan hingga 700 juta jiwa. Namun itu baru permulaan. Abu dan jelaga dari kebakaran kota akan membentuk awan pekat di stratosfer, memblokir sinar matahari, menghapus proses fotosintesis, dan menjerumuskan bumi ke dalam “musim dingin nuklir” selama bertahun-tahun.
“Pembakaran kota adalah mekanisme yang menyebabkan musim dingin nuklir,” kata Lynas. “Jelaga terdorong ke stratosfer oleh awan pyrocumulonimbus—awan petir hasil kebakaran—dan karena warnanya yang gelap, jelaga tersebut menyerap panas matahari, naik semakin tinggi, dan tidak bisa turun kembali karena tidak ada hujan di sana.”
Dengan suhu permukaan yang turun drastis di bawah nol dan ketiadaan panen, kehidupan manusia akan punah sebelum kondisi bumi pulih. “Tak akan ada panen lagi untuk umat manusia. Makanan tidak akan pernah tumbuh lagi. Karena saat matahari kembali dan suhu naik, semuanya sudah terlambat—semua orang sudah mati,” ujar Lynas.
Kemungkinan skenario ini bukanlah fiksi ilmiah. Lynas mengingatkan bahwa sejarah mencatat momen-momen dunia nyaris terseret ke perang nuklir, baik karena kesalahan teknis maupun eskalasi politik. Amerika Serikat, misalnya, memiliki doktrin serangan pertama dan hanya butuh waktu enam menit bagi presiden untuk memutuskan menekan tombol peluncuran jika sistem peringatan dini mendeteksi ancaman. Rusia, di sisi lain, disebut-sebut memiliki sistem “dead hand” yang secara otomatis akan meluncurkan rudal jika pusat komandonya lumpuh.
Kini, sembilan negara memiliki senjata nuklir: AS, Rusia, Tiongkok, Prancis, Inggris, Israel, India, Pakistan, dan Korea Utara. Iran, pasca serangan Israel minggu lalu, dikabarkan semakin dekat ke ambang pembuatan senjata nuklir. Tiongkok sendiri memiliki sekitar 500 hulu ledak per 2024, dan AS serta Rusia menguasai lebih dari 12.000 hulu ledak nuklir secara total.
Lynas menyerukan agar dunia kembali membangun gerakan anti-nuklir berskala global, setara dengan kampanye iklim yang ada saat ini. Dia mengakui gerakan perdamaian pada masa lalu punya dedikasi tinggi, namun menilai pendekatannya terlalu sempit secara politik. “Gerakan itu sangat kiri, sangat hippie, dan banyak ruang yang hanya diperuntukkan bagi perempuan. Hal itu membuat mereka yang berada di spektrum politik tengah atau kanan merasa tidak cocok,” katanya. Akibatnya, keberhasilannya pun terbatas.
Berbeda dari pandangan aktivis nuklir tradisional, Lynas tidak mendukung perlucutan sepihak. Sebaliknya, dia justru melihat energi nuklir sebagai salah satu solusi potensial untuk krisis iklim. Salah satu usulannya yang paling kontroversial adalah mengklasifikasikan seluruh pemimpin dan rantai komando di negara-negara bersenjata nuklir sebagai calon penjahat perang. Mereka, menurutnya, seharusnya dikenai sanksi hukum di negara-negara yang menolak memiliki senjata nuklir.
Sebagai penutup, Lynas memperingatkan bahwa dunia tak lagi punya waktu untuk mengabaikan ancaman nuklir. Dengan kemungkinan kehancuran total hanya dalam hitungan jam dan ketiadaan opsi bertahan hidup, dia menegaskan bahwa risiko ini adalah “risiko eksistensial paling besar yang dihadapi umat manusia saat ini.”
***

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
