
Ilustrasi fenomena kebakaran hutan. (The Guardian)
JawaPos.com - Kebakaran hutan dahsyat selama lima hari melanda Korea Selatan. Hingga Rabu malam (26/3) waktu setempat, kejadian ini menewaskan setidaknya 19 orang yang salah satunya adalah pilot heli yang bertugas memadamkan api dan menyebabkan kerusakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selain itu ada 27.000 orang mengungsi.
Dilansir dari AFP, Rabu (26/3), berwenang menyatakan, lebih dari selusin kebakaran terjadi sepanjang akhir pekan. Kejadian ini mengakibatkan pemutusan jalan dan jalur komunikasi.
Kementerian Dalam Negeri melaporkan bahwa kebakaran telah membakar sekitar 17.398 hektare lahan. Uiseong menjadi area terdampak terbesar karena 87 persen dari total kebakaran berada di wilayah itu.
Kebakaran di Uiseong dilaporkan bermula dari petani apel, Cho Jae-oak yang sedang membersihkan makam keluarga dan secara tidak sengaja memicu api. Cho mengatakan bahwa dia dan istrinya berusaha melindungi rumah mereka dengan menyemprotkan air sepanjang hari. Sayangnya mereka terpaksa mengungsi karena api semakin membesar.
"Kami sudah melakukan yang kami bisa, tetapi api itu datang seperti bola raksasa yang siap melahap segalanya. Kami tidak punya pilihan selain pergi," ungkapnya.
Penjabat Presiden Korea Selatan, Han Duck-soo, menyatakan bahwa kebakaran ini berkembang lebih cepat dari prediksi sebelumnya. Ia menambahkan bahwa angin kencang dengan kecepatan hingga 25 meter per detik menghambat operasi pemadaman menggunakan helikopter dan pesawat tak berawak. "Kebakaran ini melampaui prediksi yang ada. Ini adalah bencana yang belum pernah kami hadapi sebelumnya," ujarnya.
Di Kota Andong, para pengungsi menceritakan kepanikan saat evakuasi. Seorang warga, Kwon So-han mengatakan harus melarikan diri tanpa sempat membawa barang berharga.
"Api datang dari gunung dan menimpa rumah saya. Saya hanya bisa menyelamatkan diri," ujarnya.
Salah satu kebakaran juga mengancam Desa Rakyat Hahoe. Kawasan ini merupakan situs warisan dunia UNESCO. Asap tebal menyelimuti desa, sementara mobil pemadam kebakaran dan polisi berjaga di sekitar lokasi.
Tahun lalu, Korea Selatan mencatat suhu tahunan rata-rata tertinggi, mencapai 14,5 derajat Celsius, yang berkontribusi pada meningkatnya kebakaran hutan. Para ahli menyebut bahwa perubahan iklim turut mempengaruhi frekuensi kebakaran di negara tersebut.
Profesor klimatologi Universitas Hanyang, Yeh Sang-Wook, menjelaskan bahwa suhu yang lebih hangat menyebabkan penguapan air tanah lebih cepat. Ini adalah kondisi ideal untuk menciptakan kebakaran hutan.
"Kita tidak bisa menyalahkan perubahan iklim sepenuhnya, tetapi jelas bahwa kondisi saat ini diperburuk olehnya," katanya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
