Dilansir dari Korea Times, pendidikan ini, menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mengatasi bunuh diri khususnya di kalangan anak muda Korea Selatan.
Hal tersebut juga telah diungkap oleh Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan, Selasa (9/7) kemarin.
Kabinet menyetujui revisi peraturan penegakan hukum terkait, yang mewajibkan para siswa serta pekerja di lembaga-lembaga dan rumah sakit.
Dikelola oleh negara untuk menjalani pelatihan pencegahan melukai diri sendiri. Persyaratan baru ini akan mulai berlaku mulai hari Jumat (12/7).
Menurut peraturan baru, para pengurus organisasi-organisasi ini harus membuat program pelatihan, untuk pencegahan melukai diri sendiri dan menawarkannya setidaknya setahun sekali kepada siswa dan karyawan, baik secara langsung maupun online.
Mereka juga diharuskan untuk melaporkan hasilnya, kepada kementerian kesehatan atau departemen lain di tingkat kabinet.
Institusi pendidikan tinggi dan bisnis swasta yang memiliki setidaknya 30 karyawan juga, telah disarankan untuk bergabung dalam kampanye ini dan memanfaatkan sumber daya pemerintah.
Program pelatihan ini terdiri dari dua komponen utama. Bagian pertama bertujuan untuk mengedukasi peserta mengenai hakikat bunuh diri, termasuk faktor-faktor yang berkontribusi terhadap penurunan kesehatan mental, dan strategi untuk mengatasi kondisi tersebut.
Bagian kedua memberikan panduan praktis untuk mendukung individu yang terpapar risiko tinggi untuk bunuh diri, yang mencakup cara mengenali tanda-tanda peringatan dan strategi respons yang efektif.
Kebijakan ini, merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menurunkan angka bunuh diri di Korea Selatan dari 25,2 per 100.000 orang, menjadi 10,6 per 100.000 orang, sesuai dengan rata-rata OECD dalam sepuluh tahun ke depan.
Sejak tahun 2003, Korea secara konsisten memiliki tingkat bunuh diri tertinggi di antara 34 negara anggota OECD.
Dari Januari hingga Juni 2023, hampir 7.000 orang di Korea bunuh diri, menandai peningkatan 8,8 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, menurut Yayasan Pencegahan Bunuh Diri Korea.
Ini adalah masalah yang sangat serius di kalangan anak muda. Sebuah laporan, yang diterbitkan bulan lalu oleh Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga menunjukkan, bahwa tingkat bunuh diri per 100.000 orang berusia antara sembilan hingga 24 tahun mencapai 10,8, yang merupakan penyebab utama kematian dibandingkan kecelakaan (3,9) dan kanker (2,5).
"Saya berharap budaya menghargai kehidupan akan menyebar lebih jauh melalui program pencegahan bunuh diri," ujar Lee Young Hoon, seorang pejabat senior di departemen kesehatan logam kementerian.
"Kiat-kiat praktis tentang cara mencari bantuan dan cara memberikan bantuan, bagi mereka yang berisiko tinggi untuk bunuh diri diharapkan dapat membantu, memperkuat jaring pengaman penyelamatan jiwa di masyarakat."
Para ahli pendidikan remaja menyatakan, dukungannya terhadap penerapan kebijakan baru ini.
Seorang konselor pemuda, di sebuah organisasi dukungan yang disponsori pemerintah untuk kaum muda di Seoul Selatan, mengatakan kepada The Korea Times bahwa perubahan tersebut berpotensi menyelamatkan banyak nyawa.
"Lebih dari separuh orang yang saya ajak bicara selama bertahun-tahun, telah melaporkan bahwa mereka pernah merenungkan atau mencoba bunuh diri," katanya.
"Jika dilakukan dengan benar, saya rasa program edukasi semacam itu akan menyelamatkan banyak nyawa," pungkasnya.
***