
Suasana Waduk Setiabudi Barat yang dangkal dengan lumpur di Jakarta, Jumat (6/9/2019). Waduk Setiabudi Barat yang tak terawat seiring waduk tersebut dianggap krusial sebagai pemasok air bersih dan penahan banjir di Jakarta. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.c
JawaPos.com – Setiap 22 Maret diperingati sebagai Hari Air. Belakangan, bumi sedang menuju krisis air. Dari laporan Pengembangan Air Dunia 2023 yang dirilis PBB, ratusan juta orang kekurangan akses ke air bersih dan sanitasi. Kelangkaan air musiman diperkirakan terus meningkat dampak perubahan iklim dan konsumsi berlebihan.
Laporan Pengembangan Air Dunia 2023 tersebut dirilis tepat sebelum konferensi PBB pertama sejak 1977 tentang kelangkaan air global, yang berlangsung Rabu (22/3). KTT yang digelar bersama oleh pemerintah Tajikistan dan Belanda itu berlangsung di New York selama tiga hari. Total ada 6.500 delegasi. Termasuk di antaranya 100 menteri dan puluhan kepala negara dan pemerintahan.
Berdasar laporan di forum itu, konsumsi air global meningkat 1 persen setiap tahun selama empat dekade terakhir. Hal tersebut diperkirakan berlangsung hingga 2050 mendatang. Pemicunya, pertumbuhan populasi penduduk bumi, pembangunan sosial ekonomi, dan perubahan pola konsumsi.
’’Air adalah darah kehidupan umat manusia. Ia kini terkuras oleh penggunaan yang tidak berkelanjutan, polusi, dan pemanasan global yang tidak terkendali,’’ ujar Sekjen PBB Antonio Guterres.
Ada kesenjangan besar dalam ketersediaan air dan penggunaannya di berbagai wilayah. Kesenjangan tersebut harus ditutup. Tujuannya, memastikan semua orang memiliki akses ke air bersih pada 2030. Untuk mewujudkan itu, dibutuhkan biaya sekitar USD 600 miliar–USD 1 triliun per tahun.
’’Sekitar 10 persen populasi global tinggal di negara-negara di mana tekanan air dianggap kritis,’’ ujar Richard Connor, pemimpin redaksi laporan tersebut, seperti dikutip Agence France-Presse. Setidaknya terdapat 3,5 miliar orang hidup dalam kondisi krisis air paling tidak satu bulan dalam setahun.
Akibat perubahan iklim, kelangkaan air musiman akan meningkat di daerah-daerah yang saat ini melimpah. Misalnya, Afrika Tengah, Asia Timur, dan sebagian Amerika Selatan. Kondisi akan memburuk untuk daerah-daerah yang sebelumnya kekurangan pasokan air seperti di Timur Tengah dan Sahara di Afrika.
’’Kalau tidak kita atasi, pasti akan terjadi krisis global,’’ ujar Connor.
Wakil Sekjen PBB Usha Rao Monari menyatakan, sumber daya perlu dikelola dengan lebih hati-hati di masa depan. ’’Saya rasa teknologi dan inovasi akan memainkan peran yang sangat besar dalam melihat bagaimana mengelola sektor air dan penggunaan air,’’ ujarnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
