Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 20 Desember 2023 | 02.06 WIB

OIC Youth Indonesia Menyoroti Islamofobia terhadap Masyarakat Uighur

OIC Youth Indonesia menggelar seminar bersama Center for Uyghur Studies di Jakarta, Selasa (19/12). - Image

OIC Youth Indonesia menggelar seminar bersama Center for Uyghur Studies di Jakarta, Selasa (19/12).

JawaPos.com - Organisasi Kerja Sama Pemuda Islam Indonesia atau OIC Youth Indonesia menyoroti masalah hak asasi manusia (HAM) dan Islamofobia terhadap masyarakat Uighur, Tiongkok, bersama Center for Uyghur Studies.

Presiden OIC Youth Indonesia Astrid Nadya Rizqita mengatakan, advokasi dan peningkatan kesadaran terhadap isu Uighur telah menjadi fokus organisasi OIC Youth Indonesia sejak pendiriannya. Melalui pendekatan HAM dan anti-islamofobia, OIC Youth Indonesia terus berkomitmen untuk memperjuangkan hak asasi manusia dan memerangi ketidakadilan.

"Kami sebagai civil society melakukan tugas untuk raise awareness. Selain itu, kami sangat paham bahwa Indonesia memiliki landasan politik luar negeri bebas aktif. Dan, ini bukan berarti kita netral, tapi bagaimana bersikap sesuai pada nilai-nilai," tegas Astrid Nadya Rizqita kepada wartawan di Jakarta, Selasa (19/12).

Dalam pembahasan isu Uighur ini, OIC Youth Indonesia melakukan seminar bersama Center for Uyghur Studies. Seminar itu menghadirkan narasumber Abdulhakim Idris (Direktur eksekutif Center of Uyghur Studies) dan peneliti tentang Uyghur dari STAI Persis Imam Sopyan.

Menurut Astrid Nadya Rizqita, seminar itu merupakan bagian dari rangkaian seminar yang diselenggarakan di berbagai kota Indonesia mulai dari 8 -18 Desember 2023. Kota tersebut seperti Jogjakarta, Makassar, Jakarta, Bandung, dan Medan.

"Seminar ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan solidaritas terhadap situasi yang dihadapi oleh masyarakat Uighur," ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Abdulhakim Idris menerangkan soal situasi Uighur saat ini. Di sana terdapat penindasan yang telah berlangsung selama lebih dari 70 tahun. "Pemerintah Tiongkok menghilangkan statistik di Xinjiang pada akhir 2019. Hal itu menyulitkan pemantauan dunia," ungkapnya.

Abdulhakim Idris mengatakan, isu kerja paksa yang menimpa warga etnis Uighur. Mereka dipaksa bekerja 12 jam sehari. Lantas diharuskan mengikuti kelas pembelajaran Partai Komunis pada malam hari.

"Pembatasan kebebasan beragama juga menjadi isu serius, dengan keluarganya ditahan di kamp konsentrasi," tambahnya.

Abdulhakim Idris mengatakan, terdapat islamofobia terhadap masyarakat etnis Uighur. Padahal Uighur memiliki sejarah dan budaya yang terkait juga dengan Tiongkok.

Peneliti Uighur Imam Sopyan mengatakan, kekerasan HAM yang dialami etnis Uighur di Tiongkok termasuk kategori genosida.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore