Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 Juni 2021 | 23.51 WIB

Heran Kotoran Anjing Miliknya Tak Berbau, Baru Sadar Terkena Covid-19

UC Merced News - Image

UC Merced News

JawaPos.com - Seorang perempuan di Amerika Serikat bernama Christine Nunn mengetahui ada sesuatu yang sangat tidak beres terkait kondisi tubuhnya. Hal itu berawal saat dia tak bisa mencium aroma kotoran anjing peliharaannya. Dia kemudian sadar untuk memeriksakan diri dan ternyata telah terinfeksi Covid-19.

Kejadian bermula saat dia mengajak anjing peliharaannya jalan-jalan. Dia berdiri di trotoar dengan anjingnya. Kemudian dia heran karena kotoran anjing peliharaannya tidak berbau.

"Saya berusaha keras untuk menciumnya, tetapi tidak tercium apa-apa," kata Nunn dari Fair Lawn seperti dilansir dari North Jersey, Rabu (16/6).

Nunn lantas tersadar atelah mengalami hilang penciuman karena terpapar Covid-19. Dia berlari pulang dan mengambil biji kopi yang dia simpan di lemari esnya. Lalu menghirup dalam-dalam lagi dan lagi. Tidak ada aroma tanah, tidak ada aroma herbal, tidak ada bau apa pun.

Dia berlari ke kamar mandinya dan mencoba menghirup aroma Vicks VapoRub, salep penekan batuk topikal yang terkenal karena bau mentolnya yang kuat. Tetap saja hasilnya sama. "Nol, tak ada aroma apa-apa," kata Nunn.

Dia kemudian mencoba makan semangkuk sup mie ayam Campbell. "Rasanya seperti ada serpihan di mulut saya," katanya. "Saya tidak bisa merasakan apa pun dan teksturnya sangat aneh. Pasta terasa seperti cacing di mulutku," katanya.

"Saya tidak bisa merasakan apa-apa," kata Nunn yang merupakan koki eksekutif Esty Street di Park Ridge.

Jutaan orang di seluruh dunia telah kehilangan kemampuan untuk mencium aroma atau merasakan setelah tertular Covid-19. Dan sementara sekitar 80 persen akhirnya sembuh, sisanya belum sepenuhnya pulih, atau sama sekali.

"Kami tidak tahu mengapa beberapa indra penciuman dan pengecap mereka kembali dan beberapa tidak," kata Ketua Departemen Penyakit Dalam di Pusat Medis Universitas Hackensack, Laurie Jacobs, MD.

Ketua pendiri dan profesor Departemen Neurologi di Hackensack University Medical Center Florian P. Thomas, MD, mengatakan bau dan rasa sangat penting untuk menikmati makanan kita. Kehilangan indra perasa atau penciuman dikaitkan dengan penurunan berat badan dan depresi.

"Itu hal yang buruk dan berbahaya. Itu juga bisa menjadi hal yang bikin stres," katanya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi antara hilangnya penciuman (istilah medisnya adalah anosmia) dan bunuh diri. Sebuah studi baru-baru ini oleh dokter telinga, hidung dan tenggorokan di Korea Selatan menemukan bahwa orang dengan kehilangan penciuman yang berkurang atau anosmia total memiliki peningkatan risiko depresi dan bunuh diri. Selain itu, para peneliti dari Universitas Stockholm menemukan bahwa orang yang kehilangan penciuman total memiliki peluang 19 persen untuk meninggal lebih awal.

"Ini penting untuk kelangsungan hidup kita," kata Dr. Thomas. "Jika hewan atau manusia zaman batu tidak merasakan atau mencium, mereka akan menelan racun atau makanan busuk. Mereka tidak akan selamat," jelasnya.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore