
Ahmed Al-Naouq bersama dengan keponakannya, Bakr.
Jawapos.com–Serangan udara pasukan militer Israel di Jalur Gaza menyisakan kisah pilu bagi warga Palestina yang kehilangan keluarganya. Itu dirasakan Al Naouq, warga Palestina yang saat ini sedang menempuh pendidikan pascasarjana di London.
Malam itu, ketika sebuah rudal menghantam rumah keluarga di Gaza, dia terbangun diliputi rasa panik yang tidak bisa dijelaskan. Al Naouq lantas menelepon teman yang berada di sana. Betapa ia terkejut saat kata-kata yang keluar dari telepon adalah serangan udara, semua orang terbunuh.
Serangan tersebut menewaskan 21 anggota keluarga termasuk ayahnya, lima saudara, serta 13 anak-anak mereka.
”Saya tidak percaya ini benar-benar terjadi, karena kalau aku hitung artinya, aku akan hancur,” kata Al Naouq kepada wartawan.
Padahal beberapa jam sebelumnya, ayahnya, Nasri, memberitahukan bahwa rumah saudara perempuannya, Aya, dihancurkan di Gaza utara. Dia tinggal bersama mereka di pusat Kota Deir Al-Balah, di selatan wilayah yang diperintahkan Israel untuk ditinggalkan warga Palestina.
”Sebuah rumah dapat dibangun kembali, yang penting adalah dia dan anak-anaknya masih hidup,” ujar Al Naouq.
Akan tetapi beberapa jam setelah telepon tersebut, mereka semua tewas. Wala’a, anak Al Naouq yang paling berprestasi dengan gelar sarjana teknik dan keempat anaknya; Alaa dan kelima anaknya; Aya, yang dikenal karena selera humornya dan ketiga anaknya.
Kakak laki-laki Muhammad; dan adik laki-lakinya, Mahmoud, yang sedang bersiap melakukan perjalanan ke Australia untuk studi pascasarjana ketika perang pecah; semuanya tewas.
Sementara itu, saksi serangan udara tersebut yakni adik perempuan Al-Naouq, Doaa mengatakan, dia sedang tidak berada di rumah saat serangan terjadi. Dia bersama para warga lain lantas mencari mayat anggota keluarganya di bawah reruntuhan.
Mereka menemukan dua kerabatnya yang selamat untuk dibawa ke rumah sakit. Ada dua orang yang selamat Shimaa, saudara ipar Al Naouq; dan Omar, keponakannya yang berusia 3 tahun. Adapun keponakannya yang berusia 11 tahun, Malaka, dibawa ke rumah sakit Al-Aqsa dengan luka bakar parah tetapi meninggal setelah dokter memberikan tempat tidur ICU-nya kepada pasien lain yang memiliki peluang lebih baik untuk bertahan hidup.
Para dokter di Gaza memang harus membuat keputusan yang sangat sulit untuk lebih memilih merawat pasien dengan kemungkinan masih bisa diselamatkan. Hal itu terjadi karena terbatasnya berbagai fasilitas medis di rumah sakit.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
