Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 2 November 2023 | 09.21 WIB

Sidang Senat AS Diwarnai Tangan Berdarah Aktivis Anti Perang, Kelompok HAM Minta Hentikan Genosida di Gaza

Para pengunjuk rasa mendukung warga Gaza menyela pidato Blinken di Kongres dan menuntut gencatan senjata. - Image

Para pengunjuk rasa mendukung warga Gaza menyela pidato Blinken di Kongres dan menuntut gencatan senjata.

JawaPos.com–Puluhan tangan berlumuran darah terlihat di sidang Komite Senat AS pada Selasa (31/10). Darah di tangan tersebut hanya cat merah ekspresi protes terhadap hilangnya ribuan nyawa di Jalur Gaza, Palestina.

Dalam sidang tersebut, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken memberikan kesaksian tentang permintaan pendanaan dari Gedung Putih ke Israel. Dana tersebut senilai $106 miliar, termasuk $14,3 miliar bantuan untuk mendukung militer Israel melawan kelompok bersenjata Palestina. Pernyataan itu kemudian memicu kemarahan para aktivis yang hadir di sana.

Hingga Selasa (31/10), terhitung sudah 25 hari Israel menggempur wilayah Gaza tanpa henti. Sebanyak 3.500 anak di Gaza kehilangan nyawa.

Teriakan para aktivis yang pro Palestina itu terdengar di sela-sela Antony Blinken berbicara. Mereka meneriaki kalimat gencatan senjata sekarang, selamatkan anak-anak di Gaza, orang Palestina bukan binatang, dan malu pada kalian semua.

Sidang itu kemudian terhenti sejenak dan anggota parlemen terpaksa menunda sidang beberapa kali serta memaksa polisi untuk mengeluarkan beberapa aktivis yang berulah. Polisi mengungkapkan 12 orang karena melakukan protes ilegal di dalam Gedung Capitol, Washington, DC.

Di sisi lain, kelompok hak asasi manusia di Amerika Serikat juga telah menyuarakan kekhawatiran atas permintaan Presiden AS Joe Biden dalam pendanaan kepada Israel.

Serangan brutal yang dilakukan Israel semakin dipercaya sebagai awal genosida dan menjadi sebuah dorongan untuk mengeluarkan warga Palestina dari Gaza.

”Permintaan pendanaan Biden itu jelas memberikan lampu hijau untuk membiayai pembersihan etnis di Palestina,” ungkap Democracy for the Arab World Now (DAWN).

Dilansir JawaPos.com dari Al Jazeera, kekhawatiran mengenai pengusiran paksa warga Palestina itu semakin besar, setelah majalah +972 menyatakan mereka telah menerima bocoran dokumen pemerintah Israel. Dalam dokumen yang telah dikonfirmasi keasliannya oleh Kementerian Intelijen Israel itu, menguraikan rencana Israel untuk memindahkan seluruh penduduk Gaza ke luar negeri. 

Direktur Eksekutif DAWN Sarah Leah Whitson mengatakan, Pemerintah Amerika membohongi warga untuk memfasilitasi rencana lama Israel yaitu mengurangi populasi Gaza dengan kedok bantuan kemanusiaan.

AS belum menanggapi permintaan komentar Al Jazeera, tetapi pemerintahan Biden memberikan sinyal bahwa mereka tak mendukung rencana untuk mengusir warga Palestina dari rumah mereka. Saat ini, Pemerintah Amerika Serikat dan warganya sedang terpecah belah. Banyak dari warga AS memilih untuk mendukung Palestina dan mengecam keras penyerangan Israel ke Kota Gaza. 

Banyak dari warga Amerika menyesalkan perbuatan Israel yang melakukan pengeboman ke rumah sakit, sekolah, masjid, gereja, hingga kamp tempat di mana warga sipil Palestina mengungsi.

”Sekarang kita berada pada momen di mana banyak pihak kembali bertaruh bahwa AS terlalu terpecah belah atau terganggu di dalam negeri, sehingga tidak bisa fokus. Itu yang dipertaruhkan saat ini,” ucap Blinken.

Sementara itu, negara tetangga Palestina, Mesir mengatakan enggan menampung para pengungsi dari Gaza ke wilayahnya. Sebab, mereka tidak mau memperburuk suasana.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore