
Photo
JawaPos.com - Paus Fransiskus mengutuk produsen senjata dan penyelundup yang menjual senjata kepada teroris. Paus mengatakannya usai kunjungannya yang bersejarah ke Irak.
Paus Fransiskus mengatakan bahwa dia bersyukur bisa melakukan kunjungan yang luput dari perhatian para pendahulunya, dan menggambarkannya sebagai tanda harapan setelah bertahun-tahun perang dan penuh aksi teror bagi umat Kristen dan Muslim.
"Rakyat Irak memiliki hak untuk hidup damai, mereka memiliki hak untuk menemukan kembali martabat mereka," kata Paus Fransiskus dalam audiensi mingguan Vatikan, Rabu (10/3), yang diadakan secara daring.
Baca juga: Paus Fransiskus Akhiri Kunjungan di Irak, Khotbah Tentang Perdamaian
Irak menderita karena kesalahan pengelolaan yang parah, korupsi, dan tingkat kekerasan yang stabil yang sering dikaitkan dengan persaingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di wilayah tersebut selama 18 tahun setelah invasi AS ke Irak.
Pada Minggu (7/3), Paus Fransiskus yang berusia 84 tahun itu melihat reruntuhan rumah dan gereja di utara Kota Mosul yang diduduki oleh kelompok ISIS dari 2014 hingga 2017. "Dan saya bertanya pada diri saya sendiri (selama perjalanan), 'siapa yang menjual senjata kepada teroris?, siapa yang menjual senjata kepada teroris hari ini yang sedang melakukan pembantaian di tempat lain, misalnya di Afrika'," sebut Paus Fransiskus.
"Ini adalah pertanyaan yang saya ingin seseorang menjawabnya," tutur Paus.
Paus Fransiskus pernah berkata di masa lalu bahwa produsen senjata dan pedagang manusia harus bertanggung jawab kepada Tuhan suatu hari nanti.
Menyerukan persaudaraan di seluruh dunia, Paus Fransiskus menggambarkan pertemuannya pada Sabtu (6/3) di kota suci Najaf dengan Ayatollah Ali al-Sistani, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam Islam Syiah baik di Irak maupun di luar negeri, sebagai peristiwa tak terlupakan.
Paus mengatakan merasa terdorong untuk melakukan kunjungan ke Irak, yang mengupayakan pengamanan paling ketat untuk perjalanan Kepausan, untuk dekat dengan orang-orang yang mati syahid itu dan Gereja yang syahid itu. Komunitas Kristen Irak, salah satu yang tertua di dunia, turun menjadi sekitar 300.000 orang dari sekitar 1,5 juta orang sebelum invasi AS dan kekerasan militan Islam yang mengikutinya.
Beberapa jam setelah Paus meninggalkan Irak pada Senin (8/3), Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi mendesak kelompok politik yang bersaing untuk menggunakan dialog untuk menyelesaikan perbedaan mereka. Itu sebuah langkah yang dikatakannya akan mencerminkan cinta dan toleransi yang ditunjukkan oleh Paus.
Banyak orang di Irak berharap kunjungan Kepausan akan mendapatkan lebih banyak dukungan internasional bagi pemerintah Kadhimi untuk menangani krisis sensitif. Termasuk mengekang milisi yang didukung Iran yang kekuasaan dan pengaruhnya telah berusaha dikendalikan oleh Kadhimi sejak menjabat pada Mei 2020.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
