
Photo
JawaPos.com - Perang dingin antara Tiongkok dan Amerika Serikat dinilai sejumlah pengamat semakin menegangkan. Setelah saling sindir dan tuding dalam mengatasi pandemi Covid-19, permasalahan klasik di antara kedua negara ini adalah dalam sektor perdagangan dan perekonomian. Kini masalah ditambah dengan kemelut di sektor ekonomi digital dan teknologi.
Dilansir dari BBC, Senin (22/6), ekonom Jeffrey Sachs menilai situasi dunia menuju periode gangguan besar tanpa kepemimpinan setelah pandemi. Kesenjangan antara dua kekuatan super yakni Tiongkok dan AS akan memperburuk keadaan. Profesor Universitas Columbia tersebut menyalahkan pemerintah AS terkait "permusuhan" dengan Tiongkok.
Baca juga: Perang Teknologi Bawah Laut AS-Tiongkok Lebih Serius daripada Covid-19
"AS menciptakan kekuatan untuk mencoba menimbulkan perang dingin baru dengan Tiongkok. Jika ini yang terjadi, jika pendekatan semacam itu digunakan, maka kita tidak akan kembali normal, memang kita akan memicu kontroversi dan bahaya yang lebih besar," katanya kepada BBC.
Sachs melihat adanya ketegangan antara AS dan Tiongkok yang terus muncul di beberapa bidang bukan hanya perdagangan. Minggu ini Presiden AS Donald Trump menandatangani undang-undang yang mengesahkan sanksi AS terhadap pejabat Tiongkok yang bertanggung jawab atas penindasan umat Islam di provinsi Xinjiang.
Baca juga: Trump Blokir Jaringan Internet, AS dan Tiongkok 'Perang' di Bawah Laut
Dan dalam sebuah wawancara dengan Wall Street Journal, Trump mengatakan dia yakin Tiongkok mungkin telah mendorong penyebaran virus secara internasional sebagai cara untuk mengacaukan persainganekonomi.
Pemerintahan Trump juga menargetkan perusahaan-perusahaan Tiongkok, khususnya raksasa telekomunikasi Huawei, dikhawatirkan membantu untuk memata-matai. Namun Tiongkok menyangkalnya seperti halnya Huawei.
Hanya saja, sikap keras Trump terhadap Tiongkok diduga sebagai taktik politik menjelang kampanye pemilihan presiden. Baru-baru ini juga terjadi perseteruan terkait jaringan inernet bawah laut di antara kedua negara.
"AS kehilangan langkahnya pada 5G, yang merupakan bagian penting dari ekonomi digital baru," ungkapnya.
Sachs mengakui bahwa kebangkitan Tiongkok menjadi perhatian bagi negara-negara tetangganya di Asia.
"Pilihan besar terus terang ada di tangan Tiongkok. Jika Tiongkok kooperatif, jika terlibat dalam diplomasi, kerja sama regional dan multilateralisme, maka saya berpikir bahwa Asia memiliki masa depan yang cerah," pungkasnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=XJzj0NTE5OE
https://www.youtube.com/watch?v=MrgqbKUWw28
https://www.youtube.com/watch?v=nZ8B8tS5e9I

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
