Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 22 Juni 2020 | 17.24 WIB

Perang Dingin AS-Tiongkok Kini di Sektor Ekonomi Digital dan Teknologi

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Perang dingin antara Tiongkok dan Amerika Serikat dinilai sejumlah pengamat semakin menegangkan. Setelah saling sindir dan tuding dalam mengatasi pandemi Covid-19, permasalahan klasik di antara kedua negara ini adalah dalam sektor perdagangan dan perekonomian. Kini masalah ditambah dengan kemelut di sektor ekonomi digital dan teknologi.

Dilansir dari BBC, Senin (22/6), ekonom Jeffrey Sachs menilai situasi dunia menuju periode gangguan besar tanpa kepemimpinan setelah pandemi. Kesenjangan antara dua kekuatan super yakni Tiongkok dan AS akan memperburuk keadaan. Profesor Universitas Columbia tersebut menyalahkan pemerintah AS terkait "permusuhan" dengan Tiongkok.

Baca juga: Perang Teknologi Bawah Laut AS-Tiongkok Lebih Serius daripada Covid-19

"AS menciptakan kekuatan untuk mencoba menimbulkan perang dingin baru dengan Tiongkok. Jika ini yang terjadi, jika pendekatan semacam itu digunakan, maka kita tidak akan kembali normal, memang kita akan memicu kontroversi dan bahaya yang lebih besar," katanya kepada BBC.

Sachs melihat adanya ketegangan antara AS dan Tiongkok yang terus muncul di beberapa bidang bukan hanya perdagangan. Minggu ini Presiden AS Donald Trump menandatangani undang-undang yang mengesahkan sanksi AS terhadap pejabat Tiongkok yang bertanggung jawab atas penindasan umat Islam di provinsi Xinjiang.

Baca juga: Trump Blokir Jaringan Internet, AS dan Tiongkok 'Perang' di Bawah Laut

Dan dalam sebuah wawancara dengan Wall Street Journal, Trump mengatakan dia yakin Tiongkok mungkin telah mendorong penyebaran virus secara internasional sebagai cara untuk mengacaukan persainganekonomi.
Pemerintahan Trump juga menargetkan perusahaan-perusahaan Tiongkok, khususnya raksasa telekomunikasi Huawei, dikhawatirkan membantu untuk memata-matai. Namun Tiongkok menyangkalnya seperti halnya Huawei.

Hanya saja, sikap keras Trump terhadap Tiongkok diduga sebagai taktik politik menjelang kampanye pemilihan presiden. Baru-baru ini juga terjadi perseteruan terkait jaringan inernet bawah laut di antara kedua negara.

"AS kehilangan langkahnya pada 5G, yang merupakan bagian penting dari ekonomi digital baru," ungkapnya.

Sachs mengakui bahwa kebangkitan Tiongkok menjadi perhatian bagi negara-negara tetangganya di Asia.
"Pilihan besar terus terang ada di tangan Tiongkok. Jika Tiongkok kooperatif, jika terlibat dalam diplomasi, kerja sama regional dan multilateralisme, maka saya berpikir bahwa Asia memiliki masa depan yang cerah," pungkasnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=XJzj0NTE5OE

https://www.youtube.com/watch?v=MrgqbKUWw28

https://www.youtube.com/watch?v=nZ8B8tS5e9I

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore