Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 10 November 2015 | 19.43 WIB

Megawati Dinilai Paling Pas Dekati Aung San Suu Kyi

Aung San Suu Kyi - Image

Aung San Suu Kyi

Jawapos.com- Hasil resmi pemilu Myanmar belum dikeluarkan. Namun,  kemenangan partai Nasional Liga Demokrasi (NLD) yang diusung Aung San Suu Kyi sudah dapat dipastikan melalui hasil perhitungan suara sementara. Hal ini pun disambut baik oleh semua pihak, termasuk Indonesia sebagai salah satu negara tetangga.



 

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Arrmanatha Nasir menyampaikan, Indonesia siap bekerja sama dengan pemerintahan baru Myanmar. Menurutnya, selama ini hubungan Indonesia dengan Myanmar sudah terjalin baik.




''Hubungan dengan Myanmar selalu dekat. Jadi siapapun yang memimpin, hubungan ini akan tetap terjalin dengan baik,'' tuturnya saat dihubungi.



Pria yang akrab disapa Tata itu juga menyanjung proses demokrasi Myanmar yang berlangsung baik. Pasalnya, pada proses bersejarah tersebut, banyak warga Myanmar yang turut serta memberikan suaranya. Apalagi, pemilu berjalan lancar.



''Untuk hasilnya nanti, kita harapkan semua pihak dapat menerima dan menghargai,'' ungkapnya.



Lengsernya junta militer diharapkan dapat membawa angin segar bagi masyarakat. Bendera demokrasi pun dieluh-eluhkan bisa tercapai saat kepemimpinan sang mantan tahanan politik, Suu Kyi.



Tata percaya, proses demokrasi yang sudah berjalan baik dalam pemilu dapat memperkuat reformasi dan rekonsiliasi di negara yang beribukota di Naypyidaw itu.



Sementara itu, pengamat hubungan luar negeri Teuku Rezasyah menuturkan bila kemenangan Suu Kyi akan membawa angin segar bagi Indonesia. Pasalnya, Indonesia sudah memiliki kedekatan sendiri dengan Suu Kyi.



''Pejabat kita sudah pernah bertemu dengan Suu kyi tanpa perantara pemerintahan. Kita sudah berhasil memiliki kedekatan secara personal,'' tuturnya.



Meski demikian, Reza meminta pemerintah tidak ambil langkah tergesah-gesah. Sehingga memanfaatkan ini untuk menekan Myanmar mengambil keputusan atas beberapa hal krusial. Sebab, saat ini Myanmar tengah belajar merangkak menuju negara demokrasi pasca lepas dari junta militer.



''Kita tidak perlu mengikuti ASEAN yang memaksa reformasi total. Indonesia justru bisa jadi contoh yang baik untuk masalah demokrasi dan reformasi bagi Myanmar,'' ungkap akademisi Universitas Padjajaran itu.



Menurutnya, pemerintah dapat melakukan pendekatan secara perlahan. Dengan cara, melakukan lawatan ke Burma dengan membawa delegasi yang pas dengan kondisi di sana. Salah satu delegasi yang disarankan adalah Megawati Soekarno Putri. Bukan tanpa alasan. Pemilihan Mega, menurut Reza, sangat cocok dengan kondisi Suu Kyi saat ini. Keduanya memiliki kemiripan sejarah.



''Keduanya memiliki bapak yang pernah di pemerintahan. Lalu tersingkir. Setelahnya, mereka jadi pimpinan oposisi sampai akhirnya berhasil berkuasa. Ibu Mega sudah berhasil melewati itu. Jangan menggurui tapi jadi contoh. Indonesia adalah contoh terbaik,'' paparnya.



Bagi pemerintahan baru Myanmar sendiri, Reza berharap dalam proses merangkak ini juga sama. Suu kyi diminta berkonsentrasi membenahi permasalahan dasar dalam negerinya ketimbang hubungan luar negeri. Sehingga, stabilitas dan pemerataan di Myanmar dapat tercipta dengan baik.

Editor: afni
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore