Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 Januari 2019 | 23.47 WIB

Waduh, Praktik Setrika Payudara Marak di Inggris

Alat untuk menyetrika payudara, batu yang panas - Image

Alat untuk menyetrika payudara, batu yang panas

JawaPos.com - Gadis-gadis kecil menjadi sasaran praktik setrika payudara di Inggris. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah pelecehan seksual atau pemerkosaan terjadi pada mereka. Dilansir dari India Today pada Sabtu (26/1), seorang aktivis mengatakan bahwa pelaku penyetrikaan payudara biasanya ibu, bibi, atau nenek anak gadis ketika tumbuh remaja.


Seperti dilansir India Today, pelaku menggunakan batu panas untuk memijat payudara secara berulang-ulang. Ini dilakukan guna menghancurkan jaringan payudara dan memperlambat pertumbuhan payudara.


Sebelumnya, praktik menyeterika dada gadis dengan batu panas untuk menunda pembentukan payudara juga terjadi di Afrika. Namun kini telah menyebar di Inggris dengan dalih untuk melindungi gadis-gadis muda dari perhatian pria yang tidak diinginkan, pelecehan seksual, dan pemerkosaan.


Dilansir dari The Guardian, komunitas pekerja di London, Yorkshire, Essex, dan West Midlands mengemukakan bahwa kasus-kasus yang dialami gadis-gadis pra-remaja merupakan keluarga imigran yang berasal dari beberapa negara Afrika. Mereka rentan menjadi sasaran praktik yang menyakitkan, kasar, dan sia-sia itu.


Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggambarkan, praktik ini sebagai satu dari lima kejahatan global yang tidak dilaporkan terkait dengan kekerasan berbasis gender. Para pelaku, biasanya para ibu, menganggapnya sebagai tindakan tradisional guna melindungi anak perempuan dari perhatian pria yang tidak diinginkan, pelecehan seksual, dan pemerkosaan.


Namun para ahli medis dan korban menyebut, praktik itu justru menyebabkan luka fisik dan psikologis, infeksi, ketidakmampuan menyusui, kelainan bentuk, hingga kanker payudara.


Seorang aktivis komunitas mengatakan, ia mengetahui terdapat 15-20 kasus baru-baru ini di Croydon, selatan London. "Ini biasanya dilakukan di Inggris, bukan di luar negeri, seperti mutilasi (sirkumsisi, Red) alat kelamin perempuan," katanya.


"Kadang-kadang mereka melakukannya seminggu sekali, atau dua minggu sekali, tergantung bagaimana hasilnya," tambahnya.


Kepala Kelompok Diaspora Came Women and Girls Development Organisation (Cawogido) Margaret Nyuydzewira mengatakan, setidaknya 1.000 perempuan dan anak perempuan di Inggris menjadi sasaran intervensi. Tetapi sayangnya belum ada studi sistematis atau pengumpulan data formal.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore